Kenapa Kita Perlu Menjadi Penulis, Meski Tidak Terkenal

Daftar Isi

Saya pernah mendengar bahwa semua orang sebaiknya menjadi penulis.

Mendengar kalimat itu, sebagian orang mungkin langsung membayangkan harus membuat novel setebal bantal hotel, duduk di kedai kopi sambil menatap jendela, lalu memelihara kumis agar terlihat punya pergulatan batin.

Padahal tidak begitu.

Menjadi penulis tidak selalu berarti menerbitkan buku, masuk toko buku, atau memasang foto profil sambil menopang dagu. Kadang-kadang menjadi penulis hanya berarti duduk sebentar, membuka halaman kosong, lalu mengakui bahwa isi kepala kita sudah terlalu berisik untuk dibiarkan tinggal bersama.

Saya sendiri tidak merasa sebagai penulis besar.

Saya menulis di Blogspot, sebuah tempat yang oleh sebagian orang mungkin dianggap seperti rumah tua di tengah kompleks perumahan digital. Catnya mungkin tidak mengilap, pagarnya sedikit berkarat, tetapi masih bisa dipakai berteduh.

Lagi pula, fosil saja masih dicari para ilmuwan. Siapa tahu tulisan di Blogspot suatu hari ikut digali.

Ilustrasi kepala manusia dengan kemacetan pikiran yang keluar melalui sebuah pena

Tidak Semua Orang Harus Menjual Buku

Masalahnya, kita sering menganggap penulis sebagai profesi, bukan kegiatan.

Begitu mendengar kata penulis, bayangan kita langsung melompat ke buku, royalti, penerbit, tanda tangan, seminar, dan seseorang yang berbicara tentang proses kreatif sambil memakai syal meskipun cuaca sedang 32 derajat.

Padahal orang yang mencatat kejadian hari ini juga sedang menulis.

Orang yang mencoba menjelaskan kenapa pekerjaannya membuat lelah juga sedang menulis.

Seorang ayah yang menyimpan cerita lucu tentang anaknya, seorang pekerja yang mencatat hal aneh di tempat kerja, atau seseorang yang menuliskan alasan kenapa ia sedang kecewa—semuanya sedang melakukan pekerjaan seorang penulis.

Mungkin hasilnya tidak akan dijual. Mungkin tidak ada yang membaca. Mungkin setelah selesai, tulisannya hanya disimpan di ponsel di antara foto meteran listrik dan tangkapan layar transfer.

Tetapi gunanya tidak otomatis hilang.

Kita juga mandi tanpa menjual air bekas mandi. Tidak semua kegiatan harus berubah menjadi produk agar dianggap bermanfaat.

Pikiran yang Tidak Ditulis Sering Menyamar Menjadi Kebenaran

Di dalam kepala, hampir semua pendapat kita terdengar cerdas.

Ini karena kepala adalah ruang rapat yang sangat tidak demokratis. Kita menjadi pembicara, moderator, notulen, sekaligus orang yang paling sering menyetujui usulan sendiri.

Tidak ada yang memotong pembicaraan.

Tidak ada yang mengangkat tangan lalu berkata, “Maaf, dasar pemikirannya apa?”

Akibatnya, banyak pikiran yang sebenarnya setengah matang berjalan-jalan dengan percaya diri seperti orang yang baru membeli sepatu mengilap.

Ketika ditulis, barulah kelihatan bentuk aslinya.

Kita mungkin merasa sedang marah karena seseorang tidak menghargai kita. Setelah mencoba menuliskannya, ternyata yang terluka bukan harga diri, melainkan keinginan kita untuk selalu dianggap penting.

Kita mungkin merasa hidup sedang tidak adil. Setelah dijelaskan dalam beberapa paragraf, rupanya masalahnya bukan ketidakadilan. Kita hanya sedang membandingkan bagian belakang panggung hidup sendiri dengan foto terbaik hidup orang lain.

Menulis membuat pikiran berdiri di bawah lampu terang.

Di sana, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat, “Pokoknya saya merasa begitu.”

Perasaan tentu tetap sah. Namun perasaan bukan pegawai negeri yang tidak boleh diperiksa. Kadang-kadang ia juga membawa dokumen yang kurang lengkap.

Hidup Sebenarnya Ramai, Kita Saja Kurang Mencatat

Banyak orang merasa hidupnya biasa-biasa saja.

Bangun, bekerja, pulang, makan, tidur. Besoknya diulang lagi dengan pakaian berbeda agar tidak terlalu mencurigakan.

Saya juga sering merasa begitu.

Tetapi ketika mulai memperhatikan, kehidupan sehari-hari sebenarnya penuh dengan kejadian kecil yang aneh, lucu, menyebalkan, dan kadang menyentuh.

Ada orang yang mengatakan sedang berhemat sambil memesan kopi yang harganya bisa dipakai membeli beras.

Ada orang yang mengaku tidak peduli pendapat orang lain, lalu memeriksa siapa saja yang melihat statusnya.

Ada anak kecil yang menolak tidur karena merasa hidup terlalu menarik, sementara orang dewasa ingin tidur karena hidup terlalu banyak cicilannya.

Ada pula orang yang menulis komentar panjang tentang pentingnya menjaga emosi, lalu marah ketika komentarnya tidak dibalas.

Kehidupan tidak pernah kekurangan bahan tulisan. Kita saja sering melewatinya karena terlalu sibuk mencari sesuatu yang dianggap besar.

Menulis melatih kita melihat.

Bukan hanya melihat kejadian, tetapi melihat tingkah manusia di dalamnya. Termasuk tingkah manusia yang paling dekat dan paling sulit dikritik: diri sendiri.

Sejak mulai menulis, saya lebih sering menangkap hal-hal kecil yang sebelumnya lewat begitu saja.

Bukan karena saya mendadak menjadi bijaksana. Saya masih sering mencari ponsel sambil memegang ponsel.

Hanya saja sekarang, kebodohan kecil itu tidak langsung terbuang. Kadang-kadang bisa dijadikan paragraf.

Menulis Menyelamatkan Pengalaman dari Menjadi Kabut

Kita sering percaya bahwa kita akan mengingat sesuatu selamanya.

Kelahiran anak. Percakapan dengan orang tua. Hari pertama bekerja. Rasa takut ketika mengambil keputusan besar. Momen ketika uang tinggal sedikit, tetapi kebutuhan datang bergerombol seperti rombongan study tour.

Kita yakin semua itu tidak mungkin terlupakan.

Lalu waktu berjalan.

Detailnya mulai hilang. Kalimat yang pernah diucapkan berubah. Urutan kejadian kacau. Bahkan dalam beberapa cerita, kita perlahan mengangkat diri sendiri menjadi tokoh yang lebih pintar daripada kenyataannya.

Ingatan manusia memang bukan kamera pengawas. Ia lebih mirip editor sinetron: suka memotong bagian tertentu, menambah musik dramatis, dan kadang menjadikan kita pahlawan tanpa persetujuan saksi lain.

Tulisan tidak selalu menyimpan kejadian dengan sempurna. Namun setidaknya ia menyimpan jejak tentang siapa kita saat mengalaminya.

Saya mungkin membaca tulisan lama lalu merasa malu.

“Kok dulu saya berpikir seperti ini?”

Tetapi rasa malu itu justru bukti bahwa ada sesuatu yang berubah.

Orang yang tidak pernah malu membaca pemikiran lamanya mungkin sudah sangat bijaksana sejak lahir. Atau tidak pernah memeriksa dirinya lagi.

Kita Kebanyakan Mengonsumsi Pikiran Orang Lain

Setiap hari kita membaca pendapat orang, menonton video orang, mendengar teori orang, mengikuti kemarahan orang, lalu ikut memikirkan masalah yang bahkan tidak ada hubungannya dengan tagihan listrik kita.

Kita mengonsumsi begitu banyak isi kepala orang lain sampai kepala sendiri berubah menjadi ruang tunggu.

Semua orang boleh masuk. Ada motivator. Ada analis politik. Ada selebritas. Ada penjual suplemen. Ada orang tak dikenal yang berbicara sangat yakin meskipun sumbernya hanya tulisan di gambar berlatar matahari terbenam.

Sementara itu, pikiran kita sendiri duduk di pojok tanpa dipanggil.

Menulis adalah salah satu cara untuk berhenti sebentar dari kebiasaan mengonsumsi.

Saat menulis, kita dipaksa menghasilkan sesuatu. Kita tidak cukup hanya berkata setuju atau tidak setuju. Kita harus menjelaskan kenapa.

Dan ternyata, menjelaskan “kenapa” jauh lebih melelahkan daripada menekan tombol marah.

Di situlah menulis menjadi penting.

Bukan supaya pendapat kita selalu benar, melainkan supaya kita tahu apakah kita benar-benar memiliki pendapat atau hanya sedang meminjam pendapat orang lain dengan tempo pengembalian yang tidak jelas.

Tulisan Adalah Tempat Bertemu Diri Sendiri

Ada hal-hal yang sulit kita katakan kepada orang lain.

Bukan selalu karena rahasia besar. Kadang-kadang kita sendiri belum mengerti apa yang sedang dirasakan.

Kita hanya tahu sedang tidak enak hati.

Penyebabnya belum jelas. Bentuknya seperti kabel charger di dalam tas: kusut, bercampur dengan benda lain, dan ketika ditarik malah semakin membuat emosi.

Menulis tidak otomatis menyelesaikan semuanya.

Saya tidak percaya satu halaman jurnal bisa langsung membereskan utang, menyembuhkan luka lama, membuat atasan memahami kita, serta memperbaiki keran kamar mandi yang bocor.

Untuk keran, tetap perlu tukang.

Namun menulis bisa membantu kita mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kadang-kadang kita tidak membutuhkan jawaban cepat. Kita hanya perlu tempat untuk tidak berpura-pura.

Di depan orang lain, kita bisa terlihat kuat, santai, dan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Di depan halaman kosong, kebohongan semacam itu terasa cepat basi.

Halaman kosong tidak akan memuji kita. Ia juga tidak akan membantah. Ia hanya diam sampai kita berhenti tampil dan mulai jujur.

Lalu Apa Gunanya Kalau Tidak Ada yang Membaca?

Ini pertanyaan yang wajar.

Apalagi jika tulisan sudah diterbitkan, lalu jumlah pembacanya lebih sedikit daripada anggota grup WhatsApp keluarga yang aktif.

Kita mulai bertanya apakah menulis hanya kegiatan membuang waktu dengan tata bahasa.

Saya tidak ingin berbohong dengan mengatakan jumlah pembaca sama sekali tidak penting.

Kalau tulisan diterbitkan, tentu kita ingin ada yang membaca. Penulis yang mengatakan tidak membutuhkan pembaca mungkin sedang sangat dewasa, atau statistik blognya baru saja turun.

Tulisan yang ingin menjangkau orang memang perlu dibagikan. Perlu dikemas dengan baik. Kadang perlu memikirkan judul, pencarian, media sosial, dan hal-hal lain yang membuat kegiatan menulis sedikit menyerupai pedagang yang mengatur etalase.

Tetapi sebelum bertemu pembaca lain, tulisan sudah lebih dahulu memiliki satu pembaca penting: diri kita sendiri.

Kita membaca isi kepala sendiri dalam bentuk yang lebih jujur.

Kita melihat pola yang berulang.

Kita menemukan bahwa beberapa masalah yang terasa baru ternyata sudah dikeluhkan tiga tahun lalu dengan pemeran berbeda.

Di titik itu, tulisan bukan hanya alat komunikasi. Ia menjadi bukti.

Bukti bahwa kita pernah berpikir seperti ini, pernah takut pada hal itu, pernah begitu yakin, pernah keliru, lalu mungkin berubah.

Jadi, Haruskah Semua Orang Menjadi Penulis?

Mungkin tidak semua orang perlu menyebut dirinya penulis.

Gelar itu kadang justru membuat orang sibuk membangun penampilan seorang penulis, lalu lupa menulis. Meja harus estetik, lampu harus hangat, kopi harus difoto, laptop harus menghadap jendela.

Setelah semuanya siap, waktunya habis untuk memilih musik.

Namun saya percaya hampir semua orang sebaiknya menulis.

Bukan untuk menjadi terkenal.

Bukan agar terlihat pintar.

Bukan pula karena setiap pengalaman kita layak diabadikan menjadi buku dengan kata pengantar dari tokoh nasional.

Kita menulis karena hidup bergerak terlalu cepat, ingatan terlalu mudah mengarang ulang, dan pikiran terlalu pandai menyamar.

Kita menulis supaya pengalaman tidak sepenuhnya hilang.

Supaya pendapat tidak hanya menjadi gema.

Supaya suatu hari, ketika melihat ke belakang, kita tidak hanya menemukan kumpulan foto makanan, tangkapan layar transaksi, dan video berdurasi tujuh detik yang entah kenapa dulu terasa penting.

Saya menulis bukan karena semua yang saya pikirkan penting.

Justru karena banyak yang tidak penting, dan saya perlu memilah mana yang benar-benar perlu disimpan, mana yang hanya lewat, serta mana yang sebenarnya cuma suara knalpot pikiran.

Kalau tidak ditulis, semuanya akan terus berputar di kepala, mencari tempat parkir, lalu membunyikan klakson pada pukul dua pagi.

Dan kita menyebutnya susah tidur.