Hidup Nyaman Itu Enak, Sampai Kita Mulai Membusuk di Sofa
Seandainya ada lowongan pekerjaan dengan deskripsi seperti ini:
Datang sesuka hati. Tidak ada target. Tidak ada masalah. Tidak ada atasan yang bertanya, “Sudah sampai mana?” Gaji tetap masuk. Makan siang disediakan. Setelah makan boleh tidur dengan posisi menyamping agar nasi tidak kembali ke masa lalu.
Saya yakin pelamarnya banyak.
Saya juga mungkin ikut.
Bukan karena cocok, tetapi karena takut nanti orang lain yang dapat.
Kita memang punya hubungan yang mesra dengan kenyamanan. Kalau bisa duduk, kenapa harus berdiri? Kalau bisa pesan makanan, kenapa harus memasak? Kalau bisa memasak mi instan, kenapa harus mencuci panci? Pertanyaan terakhir biasanya dijawab dengan makan langsung dari panci.
Efisiensi, kata kita.
Padahal malas.
Namun ada satu masalah kecil. Kenyamanan memang menyenangkan, tetapi ternyata tidak selalu membuat hidup terasa hidup.
Kita Mengejar Kenyamanan Seperti Mengejar Diskon
Sebagian besar hidup kita dipakai untuk mengurangi kesulitan.
Kita bekerja agar punya uang. Kita membeli kendaraan agar tidak perlu berjalan jauh. Kita memasang pendingin ruangan agar tidak berkeringat. Kita membeli kasur yang mahal agar bangun tidur terasa seperti baru dipeluk awan cicilan dua belas bulan.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Saya juga tidak sedang mengajak siapa pun kembali tidur di atas tikar pandan agar mentalnya kuat. Pinggang saya sendiri sudah punya organisasi buruh. Salah posisi sedikit, besoknya mogok kerja.
Kenyamanan adalah hasil kemajuan. Menikmatinya bukan dosa.
Masalahnya muncul ketika kita mulai menganggap bahwa tujuan utama hidup adalah menghindari segala sesuatu yang terasa berat.
Pekerjaan sedikit sulit, ingin pindah.
Belajar sesuatu terasa membingungkan, berhenti.
Olahraga membuat paha sakit, sepatu langsung masuk lemari dan resmi menjadi pajangan interior.
Menulis tiga paragraf belum juga bagus, kita menyimpulkan tidak berbakat.
Kita tidak lagi mencari hidup yang lebih baik. Kita mencari hidup yang tidak pernah meminta apa-apa dari kita.
Dan anehnya, ketika hidup benar-benar tidak meminta apa-apa, kita malah bingung mau menjadi siapa.
Masalahnya Bukan Kurang Hiburan
Pernah ada hari ketika tidak banyak pekerjaan, tidak ada masalah besar, makanan tersedia, koneksi internet lancar, dan waktu luang cukup banyak.
Secara teori, itu hari yang sempurna.
Namun setelah beberapa jam pindah dari satu video ke video lain, rasanya justru aneh. Kepala kenyang, tetapi tidak puas. Mata lelah, badan tidak bergerak, dan hati seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak tahu alamat rumah kita.
Lalu kita membuka kulkas.
Bukan karena lapar.
Hanya ingin memastikan apakah hidup menyimpan jawaban di belakang botol saus.
Kita sering mengira perasaan kosong itu muncul karena kurang hiburan. Maka kita menambah hiburan.
Nonton lagi. Makan lagi. Belanja barang yang sebenarnya tidak dicari. Membuka media sosial, menutupnya, lalu membukanya kembali tiga puluh detik kemudian seperti ada petugas yang baru saja menambahkan episode kehidupan orang lain.
Padahal mungkin yang kurang bukan kesenangan.
Yang kurang adalah sesuatu yang menuntut kita hadir sepenuhnya.
Manusia Sepertinya Butuh Sedikit Perlawanan
Ada kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh rebahan, makanan enak, atau video lucu.
Kepuasan itu biasanya muncul setelah melakukan sesuatu yang tadinya terasa sulit.
Berhasil menyelesaikan pekerjaan yang lama ditunda.
Belajar keterampilan yang awalnya membuat kepala berasap.
Mengangkat barang berat tanpa menjatuhkannya ke jempol kaki.
Menyelesaikan tulisan yang berkali-kali ingin dihapus.
Menyampaikan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.
Hasilnya belum tentu luar biasa. Orang lain bahkan mungkin tidak peduli.
Namun ada satu perasaan kecil yang muncul: ternyata saya masih bisa diandalkan oleh diri sendiri.
Perasaan itu penting.
Sebab semakin sering kita lari dari hal sulit, semakin kecil kepercayaan kita kepada diri sendiri. Bukan karena kita benar-benar tidak mampu, tetapi karena kita tidak pernah memberikan kesempatan kepada kemampuan itu untuk muncul.
Kita seperti orang yang membeli payung mahal, lalu tidak pernah membawanya keluar karena takut kehujanan.
Payungnya tetap bagus.
Kita tetap basah.
Tetapi Jangan Juga Memuja Kesusahan
Di sinilah pembicaraan seperti ini sering berubah menjadi agak mencurigakan.
Begitu mendengar bahwa manusia membutuhkan tantangan, ada orang yang langsung menyimpulkan bahwa semakin menderita, semakin bermutu hidupnya.
Tidak begitu juga.
Kesulitan tidak otomatis membuat seseorang berkembang. Kadang-kadang kesulitan hanya membuat seseorang lelah, marah, dan mulai berbicara sendiri saat lampu merah.
Bekerja tanpa istirahat bukan selalu tanda ketangguhan. Bisa jadi kita hanya tidak berani mengatakan tidak.
Bertahan dalam lingkungan yang merusak bukan perjuangan mulia. Bisa jadi kita sedang takut mengambil keputusan.
Mencari masalah yang sebenarnya tidak perlu juga bukan latihan mental. Itu biasanya disebut kurang kerjaan.
Ada perbedaan antara memilih tantangan dan memelihara penderitaan.
Tantangan yang sehat membuat kemampuan kita bertambah. Penderitaan yang dipelihara hanya membuat hidup semakin sempit sambil memberi kita bahan untuk mengeluh di grup keluarga.
Jadi saya tidak percaya kita harus sengaja membuat hidup berantakan agar merasa kuat.
Tagihan listrik sudah cukup kreatif melakukan itu tanpa bantuan kita.
Kesulitan yang Dipilih Terasa Berbeda
Kesulitan yang datang tanpa diundang memang sering menyebalkan.
Masalah keluarga. Tekanan pekerjaan. Kondisi keuangan. Kesehatan. Rencana yang gagal. Harga kebutuhan yang naiknya rajin sekali, sementara penghasilan kadang masih mencari jati diri.
Kita tidak perlu menambah semua itu dengan romantisasi penderitaan.
Namun ada jenis kesulitan lain: kesulitan yang kita pilih sendiri karena ada sesuatu yang ingin dibangun.
Belajar menulis lebih baik.
Mengerjakan proyek pribadi setelah pekerjaan utama selesai.
Mulai berolahraga meskipun napas baru tiga menit sudah terdengar seperti knalpot bocor.
Mempelajari kemampuan yang mungkin suatu hari bisa menghasilkan uang.
Mencoba berbicara lebih jujur kepada pasangan, anak, teman, atau diri sendiri.
Kesulitan seperti ini tetap melelahkan. Tetap ada hari ketika kita ingin berhenti. Namun capeknya punya arah.
Capek tanpa arah membuat kita merasa dipakai.
Capek yang punya arah membuat kita merasa sedang membangun sesuatu.
Perbedaannya tipis kalau dilihat dari luar. Sama-sama berkeringat. Sama-sama mengeluh. Sama-sama mencari minyak angin.
Tetapi di dalam diri, rasanya tidak sama.
Kenyamanan Seharusnya Menjadi Tempat Istirahat
Saya tetap menyukai hari yang santai.
Tidak ada cita-cita saya untuk bangun setiap pagi lalu berteriak, “Hari ini saya ingin hidup menghajar saya agar karakter saya berkembang!”
Saya belum segila itu.
Kalau ada kesempatan makan enak, saya makan. Kalau bisa tidur cukup, saya tidur. Kalau pekerjaan bisa dibuat lebih mudah tanpa merugikan siapa pun, saya tidak akan sengaja mempersulitnya demi mendapatkan musik latar film perjuangan.
Namun mungkin kenyamanan seharusnya menjadi tempat kita beristirahat, bukan tempat tinggal permanen.
Kita pulang ke sana untuk mengisi tenaga. Menikmatinya. Bersyukur bahwa hari ini tidak ada ledakan besar dalam kehidupan.
Lalu suatu saat kita keluar lagi.
Mengerjakan sesuatu yang belum kita kuasai. Menghadapi kemungkinan gagal. Membiarkan diri terlihat agak bodoh selama belajar.
Sebab orang yang selalu ingin terlihat mampu biasanya tidak pernah mencoba sesuatu yang benar-benar baru.
Ia aman.
Rapi.
Tidak malu.
Dan mungkin tidak bergerak ke mana-mana.
Kita Tidak Harus Menjadi Pahlawan
Hal sulit yang kita pilih tidak harus besar.
Tidak perlu mendaki gunung sambil membawa kulkas dua pintu. Tidak perlu mendirikan perusahaan sebelum hari Jumat. Tidak perlu bangun pukul tiga pagi hanya untuk mengunggah kutipan bahwa orang sukses bangun pukul tiga pagi.
Kadang tantangan yang kita butuhkan sangat biasa.
Menyelesaikan satu hal sebelum mencari kesenangan berikutnya.
Tetap belajar ketika belum ada yang memuji.
Membuat sesuatu meskipun belum yakin akan berhasil.
Berhenti menjadi penonton penuh waktu dalam kehidupan sendiri.
Saya juga masih sering memilih yang mudah. Masih menunda. Masih tergoda menganggap riset sebagai pekerjaan, padahal hanya berpindah-pindah tab sampai lupa apa yang sedang dicari.
Namun saya mulai curiga bahwa banyak hari buruk bukan disebabkan hidup terlalu berat.
Kadang hidup terasa hambar karena terlalu lama tidak ada sesuatu yang benar-benar kita perjuangkan.
Bukan perjuangan yang dramatis.
Bukan yang perlu diumumkan dengan foto mengepalkan tangan sambil menatap matahari terbenam.
Cukup sesuatu yang membuat kita bangun dan berkata, “Ini mungkin sulit, tetapi saya ingin tahu apakah saya mampu.”
Hidup nyaman memang enak.
Tetapi kalau terlalu lama tinggal di sana, sofa bisa berubah menjadi ruang tunggu. Badan kita masih hidup, hari terus berjalan, makanan tetap datang, dan hiburan tidak pernah habis.
Hanya saja, tanpa sadar, diri kita yang seharusnya berkembang sedang tertidur di sana.
Lengkap dengan remote di atas perut.
