Teori Kopi Hitam
Saya baru mendengar sebuah teori bernama black coffee theory.
Ceritanya sederhana.
Kamu datang ke kedai kopi. Sebenarnya ingin minum latte. Namun ketika barista bertanya mau pesan apa, kamu malah menjawab, “Saya tidak tahu. Pokoknya saya tidak mau kopi hitam.”
Barista bertanya lagi.
“Jadi, maunya apa?”
Kamu kembali menjawab, “Belum tahu. Yang jelas, jangan kopi hitam.”
Baristanya mulai bingung. Antrean panjang. Mesin kopi bunyi seperti knalpot motor tetangga yang baru ganti racing. Orang-orang sudah memesan macam-macam. Ada cappuccino, americano, matcha, sampai minuman yang namanya lebih panjang daripada masa pacaran saya dulu.
Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hitam mendarat di meja.
Kenapa?
Karena dari seluruh percakapan tadi, satu-satunya pesanan yang terdengar jelas hanyalah kopi hitam.
Teori ini kemudian dipakai untuk menjelaskan kenapa banyak orang justru mendapatkan hal-hal yang paling tidak mereka inginkan.
Saya tidak mau miskin.
Saya tidak mau bekerja seperti ini terus.
Saya tidak mau diremehkan.
Saya tidak mau hidup susah.
Saya tidak mau tua tanpa tabungan.
Masalahnya, ketika ditanya, “Jadi, kamu sebenarnya mau hidup seperti apa?”
Mendadak mulut kita seperti aplikasi perbankan saat tanggal muda: muter-muter, lalu keluar sendiri.
Kita Lebih Fasih Menolak daripada Memilih
Saya rasa sebagian besar orang memang lebih mudah menjelaskan apa yang tidak mereka sukai.
Coba saja tanya teman yang sedang mengeluh soal pekerjaan.
“Kamu sebenarnya mau kerja di mana?”
Biasanya jawabannya bukan nama perusahaan, jenis pekerjaan, atau kondisi kerja yang diinginkan.
Jawabannya kira-kira begini:
“Pokoknya saya enggak mau punya atasan seperti ini lagi.”
“Saya enggak mau kerja yang banyak tekanannya.”
“Saya enggak mau gajinya segini terus.”
Semua jawabannya benar. Bahkan sangat masuk akal.
Atasan menyebalkan memang perlu dihindari. Tekanan yang merusak kesehatan juga tidak perlu dipelihara seperti ikan cupang. Gaji yang tidak cukup jelas bukan sesuatu yang harus disyukuri sambil tersenyum kecut.
Tapi mengetahui apa yang tidak kita mau hanya memberi tahu dari mana kita ingin pergi.
Belum memberi tahu ke mana kita harus berjalan.
Misalnya saya bilang tidak mau tinggal di Denpasar.
Baik.
Lalu saya harus pergi ke mana?
Gianyar? Tabanan? Tokyo? Atau hanya pindah ke gang sebelah karena kosnya punya parkiran lebih lebar?
Kalau tujuan tidak jelas, kita memang bisa bergerak. Namun gerakannya lebih mirip orang mencari sandal saat mati lampu: aktif, penuh semangat, tetapi sesekali menendang kaki meja.
Apa yang Tidak Kita Mau Tetap Penting
Walaupun menarik, saya tidak sepenuhnya setuju apabila teori kopi hitam diterjemahkan terlalu jauh.
Seolah-olah setiap kali kita memikirkan kemiskinan, semesta langsung mencatat pesanan:
“Satu kemiskinan ukuran besar untuk meja nomor tujuh. Gulanya dipisah.”
Hidup tidak bekerja sesederhana kedai kopi.
Orang tidak menjadi miskin hanya karena takut miskin. Orang bisa miskin karena upah rendah, kesempatan yang sempit, keputusan yang buruk, tanggungan keluarga, kondisi kesehatan, atau karena harga cabai tiba-tiba bertingkah seperti saham teknologi.
Begitu juga orang tidak otomatis kaya hanya karena setiap pagi berdiri di depan cermin dan berkata, “Saya kaya, saya kaya, saya kaya.”
Kalau begitu caranya, kaca kamar mandi pasti sudah masuk daftar orang terkaya di dunia. Setiap hari dia mendengar afirmasi, tidak pernah membantah, dan jarang minta dibayar.
Mengetahui apa yang tidak kita inginkan tetap penting.
Rasa tidak nyaman adalah alarm.
Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa.
Namun alarm bukan kompas.
Alarm kebakaran bisa memberitahu bahwa rumah sedang bermasalah. Tetapi ia tidak bisa menunjukkan rumah baru mana yang cocok dengan anggaran, dekat sekolah, tidak banjir, dan tetangganya tidak karaoke sampai pukul dua pagi.
Di sinilah banyak orang berhenti.
Mereka sangat mengenal masalahnya, tetapi tidak pernah sempat mengenal keinginannya.
Kadang Kita Takut Mengatakan Apa yang Sebenarnya Kita Mau
Mungkin bukan karena kita benar-benar tidak tahu.
Kadang-kadang kita tahu, tetapi malu mengakuinya.
Kita ingin hidup lebih santai, tetapi takut dianggap tidak ambisius.
Kita ingin punya banyak uang, tetapi takut dibilang matre.
Kita ingin keluar dari pekerjaan sekarang, tetapi takut dicap tidak bersyukur.
Kita ingin dikenal lewat karya, tetapi malu karena belum punya karya yang menurut kita pantas dikenal.
Akhirnya kita memilih bentuk kalimat yang paling aman.
Bukan “Saya ingin menjadi penulis.”
Melainkan “Saya sudah bosan kerja begini.”
Bukan “Saya ingin punya usaha sendiri.”
Melainkan “Saya tidak mau diperintah orang terus.”
Bukan “Saya ingin hubungan yang tenang dan saling menghargai.”
Melainkan “Pokoknya saya tidak mau dapat pasangan seperti mantan.”
Padahal menjadikan mantan sebagai standar hidup itu berbahaya.
Sudah pergi, masih juga diberi jabatan sebagai kepala bagian perencanaan masa depan.
Mengatakan apa yang kita mau memang lebih menakutkan daripada mengatakan apa yang kita benci.
Ketika kita berkata, “Saya tidak suka hidup seperti ini,” kita masih bisa bersembunyi di balik keluhan.
Namun ketika berkata, “Saya ingin hidup seperti itu,” kita mulai memiliki tanggung jawab.
Kita harus memikirkan langkahnya.
Kita harus mengakui risikonya.
Dan yang paling tidak menyenangkan, kita mungkin harus menerima kenyataan bahwa selama ini bukan dunia yang sepenuhnya menahan kita.
Kadang-kadang kita sendiri yang terus berdiri di depan pintu sambil mengeluh kenapa belum sampai tujuan.
Keinginan yang Kabur Menghasilkan Langkah yang Asal
Saya juga sering begitu.
Saya pernah mengatakan ingin memiliki penghasilan tambahan.
Kedengarannya jelas.
Padahal tidak jelas sama sekali.
Tambahan berapa?
Dari pekerjaan seperti apa?
Berapa jam yang sanggup saya berikan?
Apakah saya mau berurusan dengan pelanggan?
Apakah saya ingin dikenal banyak orang atau bekerja diam-diam dari belakang layar?
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu belum dijawab, “ingin penghasilan tambahan” tidak jauh berbeda dengan masuk rumah makan lalu berkata, “Saya mau makanan yang enak.”
Pelayan bisa saja membawakan jengkol.
Enak menurut dia.
Belum tentu enak menurut istri yang harus tidur di sebelah kita malam nanti.
Keinginan yang kabur membuat kita mudah tertarik pada semua hal.
Hari ini ingin menjadi penulis.
Besok melihat orang jualan lewat siaran langsung, ikut ingin jualan.
Lusa melihat orang cuan dari investasi, mendadak merasa dilahirkan untuk membaca grafik.
Minggu depannya ingin beternak lele karena menonton video berjudul “Cuan Ratusan Juta dari Lahan Sempit”.
Akhirnya bukan kekurangan peluang yang membuat kita diam di tempat.
Kita justru kebanyakan pintu, tetapi tidak pernah memutuskan pintu mana yang benar-benar ingin dimasuki.
Mungkin Kita Tidak Membutuhkan Jawaban Besar
Masalah lain muncul ketika orang menyuruh kita menentukan dengan sangat spesifik apa yang kita inginkan dalam hidup.
Pertanyaannya langsung dibuat besar:
“Apa tujuan hidupmu?”
Waduh.
Saya kadang baru bangun tidur saja masih perlu beberapa menit untuk mengingat hari apa. Jangan langsung diminta menjelaskan tujuan hidup seolah-olah saya sedang presentasi di depan dewan direksi alam semesta.
Tidak semua orang harus punya jawaban besar.
Kita mungkin belum tahu ingin menjadi siapa sepuluh tahun lagi.
Tetapi setidaknya kita bisa tahu hidup seperti apa yang ingin dibangun tahun ini.
Mungkin kita ingin punya lebih banyak waktu bersama keluarga.
Mungkin ingin bekerja tanpa terus-menerus membawa rasa kesal sampai ke rumah.
Mungkin ingin memiliki tabungan yang cukup agar kerusakan mesin cuci tidak terasa seperti bencana nasional.
Mungkin ingin menulis satu artikel setiap minggu.
Mungkin ingin tidur tanpa memikirkan cicilan yang dibuat untuk membeli barang yang sekarang bahkan sudah tidak menarik lagi.
Keinginan tidak harus selalu megah.
Yang penting cukup jelas untuk membantu kita mengambil keputusan.
Sebab keputusan yang baik tidak selalu lahir dari motivasi besar. Kadang ia lahir dari kalimat sederhana:
“Saya ingin hidup sedikit lebih tenang daripada tahun lalu.”
Dari sana kita bisa mulai bertanya: hal apa yang perlu dikurangi, ditambah, dihentikan, atau diperjuangkan?
Jadi, Latte-nya Mau Seperti Apa?
Teori kopi hitam menurut saya bukan tentang larangan memikirkan hal buruk.
Kita tetap perlu melihat kenyataan buruk. Menutup mata terhadap masalah tidak membuat masalah hilang. Ia hanya membuat kita menabraknya dengan kecepatan lebih tinggi.
Teori ini lebih cocok dianggap sebagai pengingat bahwa hidup tidak bisa hanya dibangun dari daftar penolakan.
Saya tidak mau miskin.
Baik. Lalu kondisi keuangan seperti apa yang ingin dibangun?
Saya tidak mau terus bekerja seperti ini.
Baik. Lalu pekerjaan seperti apa yang masih masuk akal dengan kemampuan dan tanggung jawab sekarang?
Saya tidak mau diremehkan.
Baik. Lalu kemampuan apa yang perlu dibuat begitu kuat sehingga pendapat orang tidak lagi menjadi pusat kehidupan?
Mengetahui apa yang tidak kita mau membantu kita mengenali batas.
Mengetahui apa yang kita mau membantu kita menentukan arah.
Keduanya dibutuhkan.
Hanya saja, selama ini mungkin kita terlalu lama berdiri di depan barista sambil terus berbicara tentang kopi hitam.
Padahal yang kita inginkan sebenarnya latte.
Bahkan mungkin latte dingin, sedikit gula, ukuran sedang, tanpa whipped cream karena umur sudah tidak muda dan kolesterol juga punya cita-cita.
Jadi, berhenti sebentar.
Bukan untuk meminta kepada semesta.
Bukan pula untuk menempel gambar mobil mewah di dinding lalu berharap kuncinya jatuh dari plafon.
Cukup bertanya dengan jujur:
“Di luar semua hal yang tidak saya sukai, sebenarnya hidup seperti apa yang sedang ingin saya bangun?”
Mungkin jawabannya belum sempurna.
Tidak apa-apa.
Setidaknya ketika pesanan datang, kita tidak lagi terkejut melihat secangkir kopi hitam di atas meja.
