Kalau Ada Sisa Budget Bulanan, Lebih Baik Dibawa ke Bulan Berikutnya atau Mulai dari Nol Lagi?
Saya biasanya tidak mengosongkan saldo operasional hanya karena bulan sudah berganti.
Kalau masih ada sisa, ya saya biarkan saja di kantong yang sama dan ikut masuk ke bulan berikutnya. Bukan karena saya punya teori budgeting yang canggih. Saya cuma merasa uangnya memang masih bisa dipakai untuk kebutuhan bulan berikutnya.
Toh tanggal 1 bukan tombol restart rekening bank. Yang berubah bulannya. Uangnya masih nongkrong di sana. 😁
Tapi kemudian saya kepikiran satu hal. Kalau setiap sisa budget terus dibawa ke bulan berikutnya, bukankah saldo yang boleh dipakai lama-lama bisa semakin besar?
Misalnya bulan ini kita menghemat Rp500 ribu. Bulan depan budget normal masuk lagi dan Rp500 ribu tadi tetap ada. Apakah itu berarti bulan depan kita boleh menghabiskan Rp500 ribu lebih banyak?
Saya rasa belum tentu.
Membawa sisa budget tidak harus berarti menaikkan jatah belanja
Dalam kasus saya, adanya saldo dari bulan sebelumnya tidak membuat saya sengaja lebih longgar. Saya tetap menggunakannya sewajarnya.
Ini yang menurut saya penting dibedakan.
Saldo yang tersedia tidak selalu sama dengan target yang harus dihabiskan.
Kalau bulan lalu ada sisa lalu bulan ini saya menganggap semuanya sebagai tambahan jatah belanja, agak aneh juga. Berarti hadiah karena berhasil menghemat bulan lalu adalah harus lebih boros bulan ini. 😂
Rollover budgeting sendiri sebenarnya bukan sesuatu yang aneh. Dalam sistem budgeting berbasis kategori, saldo positif sebuah kategori memang bisa tetap dibawa ke periode berikutnya. Ada juga sistem yang memilih mengisi kembali kategori hanya sampai batas tertentu, sehingga sisa bulan lalu mengurangi jumlah yang perlu ditambahkan pada bulan baru.
Buat saya, perbedaan itu menunjukkan bahwa pertanyaannya bukan sekadar apakah uang harus dibawa ke bulan berikutnya. Yang lebih penting adalah untuk apa uang itu masih berada di sana.
Ada pengeluaran yang memang tidak patuh pada kalender bulanan
Salah satu alasan saya membiarkan saldo operasional tersisa adalah pengeluaran hidup saya tidak selalu muncul dengan pola yang sama setiap bulan.
Ada upacara, hadiah, sedekah, atau kebutuhan keluarga tertentu. Bulan ini mungkin tidak ada. Bulan depan tiba-tiba ada.
Pengeluaran seperti ini yang membuat saya kurang cocok kalau setiap tanggal 1 semuanya harus kembali persis seperti semula.
Secara konsep, cara seperti ini dekat dengan gagasan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk pengeluaran yang tidak muncul setiap bulan. Dalam budgeting, pengeluaran tidak rutin tetapi sebenarnya bisa diperkirakan memang sering diperlakukan berbeda dari pengeluaran rutin bulanan.
Kalau uang makan harian bulan ini masih tersisa, mungkin masuk akal kalau bulan depan batasnya tetap sama. Saya tidak perlu makan dua porsi hanya karena bulan lalu berhasil makan satu porsi. 😁
Tetapi untuk hadiah, perawatan kendaraan, kebutuhan sekolah, pakaian, atau pengeluaran tidak rutin lainnya, saldo yang menumpuk justru bisa mempunyai fungsi. Bulan yang ringan membantu menyiapkan bulan yang lebih berat.
Jadi mungkin tidak semua kategori perlu memilih aturan yang sama.
Masalahnya muncul ketika saldo menumpuk tanpa pekerjaan yang jelas
Walaupun saya membiarkan sisa operasional ikut ke bulan berikutnya, saya juga tidak ingin saldo tersebut terus membesar tanpa batas.
Saya punya patokan sederhana. Kalau sisanya sudah lebih dari sekitar Rp1 juta, saya mulai mempertimbangkan memindahkannya ke tempat lain, misalnya dana darurat.
Angka Rp1 juta tentu bukan aturan yang cocok untuk semua orang. Itu hanya batas yang saya gunakan untuk diri sendiri.
Alasannya sederhana. Saya memang ingin punya bantalan untuk pengeluaran bulan berikutnya, tetapi saya juga tidak ingin kantong operasional menjadi terlalu gemuk.
Karena saya tahu diri sendiri juga. Melihat saldo yang lebih besar tetap bisa membuat sebuah pengeluaran terasa lebih mudah dibenarkan.
Padahal sebelumnya saya juga pernah menyadari bahwa uang sisa akhir bulan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai uang bebas. Kalau sisa itu terus dibiarkan tanpa fungsi, saya hanya memindahkan masalahnya ke bulan berikutnya.
Di sinilah rollover menurut saya perlu punya batas. Bukan batas yang harus sama untuk semua orang, tetapi setidaknya ada saat ketika kita bertanya lagi: uang ini masih diperlukan untuk pos lama atau sebenarnya sudah bisa diberi pekerjaan baru?
Saya akhirnya lebih suka melihat fungsi uang daripada pergantian bulan
Semakin saya pikirkan, saya tidak merasa harus memilih antara selalu rollover atau selalu reset.
Keduanya bisa masuk akal.
Kalau sebuah pengeluaran memang berubah-ubah dan ada kemungkinan bulan berikutnya lebih berat, saya tidak masalah membawa sisanya. Itu memberi sedikit bantalan tanpa harus langsung mengambil uang dari kantong lain ketika pengeluaran datang.
Tetapi kalau suatu kategori memang ingin saya batasi secara tegas setiap bulan, saldo yang tersisa tidak harus membuat jatah bulan berikutnya semakin besar. Uangnya bisa dipindahkan ke tabungan, dana darurat, atau kebutuhan lain.
Ini juga membuat saya melihat budget yang meleset sedikit berbeda. Pengeluaran hidup memang tidak selalu rata dari Januari sampai Desember. Ada bulan yang murah, ada bulan yang entah kenapa banyak saja urusannya.
Karena itu, sebagian uang mungkin lebih masuk akal dilihat dalam rentang beberapa bulan, bukan dipaksa selesai setiap tanggal terakhir.
Yang ingin saya hindari cuma satu: membawa sisa bulan lalu lalu menganggapnya sebagai izin untuk menghabiskan lebih banyak bulan ini.
Kalau uangnya masih punya pekerjaan di pos yang sama, biarkan bekerja. Kalau pekerjaannya sudah selesai, mungkin sudah waktunya dipindahkan.
Tanggal 1 hanya mengganti kalender. Tidak otomatis mengganti tugas uang kita.
