Kalau Sedang Kesulitan Uang, Apakah Sebaiknya Kita Diam?

Daftar Isi

Saya menemukan sebuah video TikTok yang memberi nasihat cukup keras: jangan pernah memberi tahu siapa pun kalau kita sedang kesulitan secara finansial.

Alasannya menarik perhatian saya. Menurut video itu, orang yang tidak mampu membantu hanya akan mengasihani kita. Orang yang sebenarnya mampu membantu malah bisa menjauh karena melihat kita sebagai orang yang sedang bermasalah. Lebih parah lagi, orang yang kelihatannya bersimpati bisa saja membicarakan keadaan kita kepada orang lain.

Awalnya saya merasa nasihat ini masuk akal.

Kalau saya sedang berjuang memperbaiki keadaan keuangan, untuk apa saya mengumumkannya ke mana-mana? Belum tentu masalah selesai. Bisa-bisa yang bertambah malah jumlah orang yang tahu masalah saya.

Tapi setelah saya pikir lagi, ada satu bagian yang menurut saya perlu dibedakan. Menjaga privasi keuangan tidak harus berarti menyelesaikan semuanya sendirian.

Seseorang duduk di meja dengan beberapa tagihan dan kursi kosong di depannya, menggambarkan pilihan antara menyimpan masalah keuangan dan mencari bantuan.

Tidak semua orang perlu tahu keadaan keuangan kita

Saya cukup setuju dengan bagian ini.

Kesulitan keuangan menurut saya bukan sesuatu yang harus diceritakan kepada semua orang. Apalagi kalau orang yang mendengarkan memang tidak mempunyai kemampuan untuk membantu kita keluar dari masalah tersebut.

Mungkin dia kasihan. Mungkin dia ikut sedih. Mungkin setelah itu kami berdua sama-sama memandangi masalahnya.

Masalahnya masih ada.

Saya juga bisa memahami kekhawatiran bahwa setelah kita menceritakan kondisi keuangan, orang mulai melihat kita secara berbeda. Apakah pasti semua orang akan menganggap kita lemah lalu menjauh? Saya rasa tidak bisa sesederhana itu.

Tetapi kekhawatiran terhadap penilaian orang ternyata memang bukan sesuatu yang mengada-ada. Penelitian mengenai utang konsumen menemukan adanya apa yang disebut anticipated stigmatization: orang yang berutang dapat mengantisipasi bahwa orang lain akan menilai atau memperlakukan mereka secara negatif apabila kondisi tersebut diketahui.

Jadi saya mengerti kenapa seseorang memilih diam.

Yang saya tidak setujui adalah kalau kata “diam” kemudian diterjemahkan menjadi: jangan bicara kepada siapa pun.

Masalahnya bukan bicara atau diam, tetapi bicara kepada siapa

Kalau saya benar-benar mempunyai masalah keuangan yang tidak mampu saya selesaikan sendiri, saya justru lebih memilih menceritakannya kepada orang yang kompeten dan memang mungkin membantu.

Bukan sekadar orang yang kasihan kepada saya. Bukan pula hanya karena dia pernah mengalami nasib serupa.

Sebab simpati dan kemampuan menyelesaikan masalah adalah dua hal berbeda.

Orang bisa sangat peduli kepada kita tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebaliknya, orang yang tepat mungkin tidak ikut mengelus dada selama setengah jam, tetapi bisa melihat angka kita dan berkata, “Yang ini masalahnya.”

Bagi saya, itu jauh lebih berguna.

Menariknya, penelitian tentang penyembunyian utang justru menemukan sisi buruk dari terlalu takut membuka masalah. Orang yang merasa akan mendapat stigma cenderung menghindari bantuan. Dalam salah satu studi, semakin tinggi kekhawatiran terhadap stigma, semakin lama orang menunda mencari pertolongan untuk masalah utangnya.

Artinya, diam memang bisa melindungi privasi. Tetapi kalau salah penggunaannya, diam juga bisa membuat kita mempertahankan masalah lebih lama karena orang yang sebenarnya mampu membantu tidak pernah tahu bahwa bantuan dibutuhkan.

Dalam bisnis, saya bisa memahami kenapa informasi harus lebih dijaga

Ada bagian lain dari video itu yang juga masuk akal bagi saya, terutama kalau seseorang sedang menjalankan usaha.

Saya tidak merasa semua perjuangan bisnis harus diumumkan.

Ketika usaha sedang bermasalah, informasi itu bisa mengundang terlalu banyak suara dari luar. Ada orang yang benar-benar ingin membantu, tetapi ada juga yang datang membawa kepentingannya sendiri. Ada yang ingin ikut nebeng, meminta sesuatu, atau memasukkan agenda mereka ketika perhatian kita sebenarnya sedang dibutuhkan untuk membereskan masalah utama.

Belum lagi kalau informasi tersebut sampai kepada orang yang memang tidak senang melihat usaha kita berhasil.

Tetapi saya juga tidak mau melompat terlalu jauh lalu menganggap bahwa setiap orang di luar sana sedang menunggu kita jatuh. Itu malah bikin capek sendiri.

Bagi saya, poin yang lebih masuk akal adalah informasi mengenai kondisi keuangan memang mempunyai tempat dan audiensnya sendiri.

Tidak semua orang berhak mendapat laporan keuangan versi lengkap hanya karena kebetulan sedang ngopi bersama kita.

Privasi berbeda dengan berpura-pura kuat

Di sinilah saya agak berbeda dengan nada video tersebut.

Saya menangkap pesannya sebagai nasihat untuk menjaga privasi perjuangan kita. Dalam batas itu, saya setuju.

Tetapi saya tidak terlalu yakin dengan gagasan bahwa kita harus selalu menampilkan kekuatan karena dunia hanya menghargai persepsi bahwa kita kuat.

Kalau diterapkan terlalu jauh, kita bisa masuk ke jebakan lain: keadaan sebenarnya sudah berantakan, tetapi kita sibuk menjaga penampilan supaya orang mengira semuanya baik-baik saja.

Itu bukan lagi privasi. Itu sudah mendekati pertunjukan.

Bahkan bisa menjadi mahal. Kalau seseorang sebenarnya sedang terlilit utang tetapi tetap mengeluarkan uang dalam situasi sosial supaya orang lain tidak mengetahui kondisinya, dia sedang membayar harga untuk mempertahankan citra. Penelitian mengenai stigma utang menemukan perilaku seperti ini juga terjadi: keinginan menyembunyikan masalah dapat mendorong pengeluaran sosial yang justru memperburuk keadaan.

Jadi setelah memikirkan video tersebut, saya masih setuju dengan sebagian besar gagasan tentang menjaga perjuangan keuangan tetap privat. Saya hanya akan mengganti satu hal.

Bukan “jangan pernah bilang kepada siapa pun bahwa kita sedang kesulitan.”

Lebih tepatnya: jangan menceritakan kesulitan keuangan kepada sembarang orang.

Ada hal yang memang tidak perlu menjadi konsumsi banyak orang. Tetapi kalau masalah sudah membutuhkan bantuan, menurut saya jauh lebih masuk akal mencari orang yang kompeten daripada mempertahankan citra kuat sendirian.

Privasi bisa melindungi kita. Kerahasiaan yang salah sasaran justru bisa mengunci kita di dalam masalah.