Memaafkan Tidak Berarti Harus Mempercayai Lagi: Belajar Batas dari Konfusius
Sejak kecil saya cukup sering mendengar ajaran bahwa kalau ada orang berbuat buruk kepada kita, balaslah dengan kebaikan. Tidak usah membalas. Biar Tuhan yang membalas.
Saya tidak pernah merasa ada yang salah dengan ajaran itu. Sampai saya menemukan satu percakapan pendek dalam Analects yang membuat saya berhenti sebentar.
Seseorang bertanya kepada Konfusius tentang membalas keburukan dengan kebaikan. Konfusius malah bertanya balik, kurang lebih begini: kalau keburukan dibalas dengan kebaikan, lalu dengan apa kita membalas kebaikan?
Nah. Benar juga ya.
Kalimatnya sederhana, tetapi membuat saya melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu saya pikirkan. Kalau orang yang berbuat baik dan orang yang berbuat buruk selalu mendapat perlakuan yang sama dari kita, lalu apa bedanya?
Kebaikan juga seharusnya mempunyai nilai
Awalnya saya sempat berpikir pemikiran Konfusius ini bertentangan dengan apa yang saya pelajari sejak kecil. Setelah saya pikir lagi, sepertinya tidak harus begitu.
Ajaran untuk membalas keburukan dengan kebaikan menurut saya tetap mempunyai nilai. Mungkin salah satu gunanya justru untuk diri kita sendiri. Kita tidak perlu terus memikirkan orang yang menyakiti kita, menyimpan kemarahan, lalu membawa orang itu ke mana-mana di dalam kepala.
Orangnya mungkin sudah santai minum kopi. Kita yang masih sibuk marah sendirian. Lumayan juga dia, sudah bikin masalah, dapat tempat tinggal gratis di kepala kita pula.
Jadi saya masih percaya ada sesuatu yang baik dari belajar melepaskan.
Tetapi pertanyaan Konfusius membuat saya sadar bahwa melepaskan kemarahan tidak harus berarti menghapus perbedaan antara orang yang memperlakukan kita dengan baik dan orang yang memperlakukan kita dengan buruk.
Dalam Analects 14.34, jawaban Konfusius memuat kalimat yi zhi bao yuan, yi de bao de (以直報怨,以德報德). Bagian 直 (zhi) diterjemahkan dengan beberapa nuansa seperti kelurusan, ketepatan, atau keadilan. Jadi saya tidak membacanya sebagai ajakan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Lebih dekat dengan memperlakukan sesuatu sebagaimana semestinya.
Dan buat saya, perbedaannya cukup besar.
Saya boleh tidak membalas, tetapi hubungan bisa berubah
Saya sendiri kalau merasa seseorang sudah berbuat buruk kepada saya biasanya akan membatasi hubungan. Saya bisa berhenti menyapa, tidak menghubungi lagi, dan sebisa mungkin tidak berhubungan dengannya.
Jujur saja, biasanya pada tahap itu saya masih marah. Jadi saya juga tidak mau sok bijaksana lalu bilang, “Saya sudah memaafkan semuanya dan hati saya setenang permukaan danau.” Tidak. Kadang memang masih kesal. 😁
Tetapi kalau kemudian orang tersebut mulai berbuat baik lagi, saya masih mungkin membuka hubungan. Hanya saja kepercayaan tidak langsung kembali hanya karena satu tindakan baik atau satu permintaan maaf.
Saya perlu melihat perubahan dari tindakan maupun perkataannya. Dan mungkin tidak cukup sekali. Perlu waktu sampai saya bisa percaya bahwa memang ada sesuatu yang berubah.
Di sini saya mulai melihat bahwa memaafkan dan mempercayai ternyata memang dua hal yang berbeda.
Memaafkan bisa berarti saya tidak ingin terus membawa kemarahan itu. Sedangkan mempercayai seseorang berhubungan dengan apa yang sudah dia lakukan dan apa yang kemudian dia tunjukkan kepada saya.
Kalau kepercayaan rusak dalam lima menit, rasanya agak aneh juga kalau perbaikannya diwajibkan selesai lima menit setelah kata “maaf” keluar.
Memaafkan tidak otomatis mengembalikan semua akses
Saya rasa ada beberapa hal yang sering tercampur ketika bicara soal memaafkan: pengampunan, kepercayaan, kedekatan, dan akses.
Saya bisa berhenti marah kepada seseorang tetapi belum mempercayainya seperti dulu. Saya bisa tetap berbicara baik-baik dengannya tetapi tidak lagi sedekat sebelumnya. Saya juga bisa tetap mengenalnya tanpa harus memberinya akses yang sama ke kehidupan saya.
Misalnya seseorang beberapa kali berbohong. Saya tidak harus membalas dengan berbohong kepadanya. Tetapi saya juga tidak harus memberikan informasi pribadi kepadanya seperti sebelum kejadian itu.
Kalau seseorang berkali-kali meminjam uang lalu tidak menepati janji, berhenti meminjamkan uang kepadanya juga tidak otomatis berarti saya membencinya. Bisa saja saya masih ngobrol biasa. Hanya satu layanan yang tutup. Bagian kredit sudah tidak beroperasi. 😁
Tentu saja menurut saya ini juga tidak berarti setiap kesalahan harus langsung membuat seseorang dikeluarkan dari kehidupan kita. Orang bisa salah. Saya juga bisa salah. Kalau setiap kesalahan langsung berakhir dengan blokir, hapus nomor, dan pura-pura tidak pernah kenal, lama-lama kontak di ponsel mungkin tinggal keluarga inti dan tukang galon.
Yang lebih masuk akal bagi saya adalah melihat apa yang terjadi setelahnya. Apakah orang itu berubah? Apakah kesalahan yang sama terus diulang? Apakah perkataan dan tindakannya mulai membuat kita bisa percaya lagi?
Kepercayaan bisa diberikan kembali. Tetapi orang yang pernah merusaknya mungkin memang perlu waktu untuk membangunnya lagi.
Saya tidak harus memilih antara menjadi baik atau mempunyai batas
Setelah memikirkan percakapan Konfusius tadi, saya justru tidak merasa harus membuang ajaran yang saya dengar sejak kecil.
Saya masih percaya bahwa tidak membalas keburukan dengan keburukan bisa membuat hidup lebih ringan. Tidak semua orang yang menyakiti saya harus saya pikirkan terus. Tidak semua kejadian harus saya bawa sampai bertahun-tahun. Pada suatu titik saya tetap perlu melepaskannya supaya bisa melanjutkan hidup dan melakukan hal-hal yang menurut saya baik.
Tetapi melepaskan bukan berarti semuanya harus kembali seperti semula.
Kalau seseorang menyakiti saya, saya tidak perlu menyakitinya kembali. Tetapi tindakannya tetap boleh mempunyai konsekuensi terhadap seberapa jauh saya mempercayainya, seberapa dekat hubungan kami, dan seberapa besar akses yang saya berikan.
Di sisi lain, saya juga sadar ada jebakannya. Selama masih marah, mudah sekali menyebut tindakan menjauh sebagai “memasang batas”, padahal mungkin saya memang sedang marah dan tidak mau melihat mukanya. Saya sendiri pernah berada di situ.
Mungkin karena itulah bagian zhi dalam perkataan Konfusius tadi menarik. Yang dicari bukan respons paling manis, tetapi juga bukan respons yang lahir dari dendam. Yang dicari adalah respons yang tepat.
Saya belum tentu selalu bisa melakukannya. Apalagi ketika yang sedang bekerja masih emosi. Tetapi setidaknya sekarang saya melihat bahwa menjadi baik tidak harus berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang, apa pun yang mereka lakukan.
Kita boleh memaafkan tanpa membalas. Kita juga boleh menunggu sebelum percaya lagi.
Jangan sampai keburukan orang lain membuat kita ikut menjadi buruk. Tetapi jangan pula karena ingin menjadi orang baik, pintu yang sama kita buka berkali-kali untuk orang yang belum menunjukkan bahwa ia berhenti mendobraknya.
