Hidup Orang Lain Kelihatan Lebih Enak karena Kita Tidak Ikut Bayar Cicilannya
Kadang saya membuka Facebook hanya lima menit.
Niat awalnya sederhana. Cuma mau melihat kabar teman, membaca satu dua komentar, lalu menutup aplikasi.
Dua puluh menit kemudian saya mulai mempertanyakan seluruh perjalanan hidup.
Teman sekolah sedang liburan bersama keluarganya. Teman kerja membeli mobil baru. Tetangga merenovasi rumah. Seseorang yang dulu sering meminjam pulpen sekarang sudah membuka cabang usaha ketiga.
Sementara saya masih mencari sandal sebelah yang hilang di bawah sofa.
Dalam waktu yang sangat singkat, hidup orang lain terlihat begitu rapi. Hidup saya terlihat seperti gudang yang belum sempat dibereskan sejak Lebaran tiga tahun lalu.
Lalu muncul pertanyaan yang sebenarnya cukup sering datang ke kepala kita.
Kenapa hidup orang lain selalu kelihatan lebih baik?
Kita Melihat Hidup Orang Lain dalam Bentuk Trailer
Hidup orang lain biasanya datang kepada kita dalam bentuk potongan pendek.
Foto saat mereka liburan.
Video ketika menerima penghargaan.
Pengumuman saat membeli rumah.
Cerita ketika bisnisnya berkembang.
Kita melihat bagian yang bagus. Musiknya juga biasanya bagus. Ada suara piano pelan, matahari terbenam, lalu tulisan, “Perjalanan panjang akhirnya membuahkan hasil.”
Yang tidak diperlihatkan adalah perjalanan panjang yang benar-benar panjang itu.
Tidak ada video saat dia membuka aplikasi mobile banking pukul dua pagi, kemudian menghela napas seperti ban truk bocor.
Tidak ada foto ketika dia bertengkar dengan pasangannya karena salah membeli warna gorden.
Tidak ada unggahan ketika dia ingin menyerah, takut gagal, bingung membayar tagihan, atau diam di kamar mandi sedikit lebih lama karena di sanalah satu-satunya tempat yang cukup tenang.
Orang biasanya menunjukkan hasil akhirnya.
Kita sendiri melihat seluruh proses hidup kita. Termasuk kegagalan, rasa malu, tagihan, pakaian yang belum dilipat, dan percakapan aneh yang masih kita pikirkan tiga tahun kemudian.
Perbandingannya jelas tidak seimbang.
Kita membandingkan rekaman kamera belakang orang lain dengan kamera depan kita sendiri yang tidak sengaja terbuka dari bawah dagu.
Tentu saja kita kalah.
Kita Membandingkan Dapur Sendiri dengan Etalase Orang
Kita tahu hampir semua hal tentang hidup kita sendiri.
Kita tahu berapa uang yang tersisa.
Kita tahu pekerjaan mana yang belum selesai.
Kita tahu hubungan mana yang sedang tidak baik-baik saja.
Kita juga tahu bahwa foto keluarga yang terlihat bahagia itu diambil setelah tujuh belas kali percobaan karena anak tidak mau melihat kamera dan bapaknya mulai kehilangan kesabaran.
Namun ketika melihat kehidupan orang lain, kita hanya melihat etalasenya.
Bersih. Terang. Barang disusun rapi.
Kita tidak melihat gudang di belakangnya.
Padahal hampir setiap manusia memiliki gudang. Isinya bermacam-macam. Ada rasa takut, masalah keluarga, cicilan, kesepian, penyesalan, dan kardus bekas yang entah kenapa tidak pernah dibuang.
Karena itu, hidup orang lain terlihat lebih bagus bukan selalu karena hidupnya benar-benar lebih bagus.
Bisa saja karena kita tidak memiliki cukup informasi.
Ketidaktahuan memang kadang membuat sesuatu terlihat indah.
Dari jauh gunung terlihat bagus. Setelah didaki, baru sadar ada tanjakan, nyamuk, lutut gemetar, dan teman yang terus bertanya, “Masih jauh?”
Kadang Kita Tidak Menginginkan Hidupnya
Hal yang sedikit lucu adalah kita sering merasa ingin memiliki kehidupan seseorang, padahal sebenarnya kita hanya menginginkan satu bagian kecil dari hidupnya.
Kita melihat orang bekerja dari rumah, lalu berpikir hidupnya bebas.
Mungkin yang kita inginkan sebenarnya bukan pekerjaannya. Kita hanya ingin mempunyai lebih banyak waktu.
Kita melihat orang mendapat banyak pujian.
Mungkin kita tidak ingin menjadi dirinya. Kita cuma ingin merasa dihargai.
Kita melihat seseorang sering bepergian.
Mungkin kita tidak ingin pindah-pindah kota setiap minggu sambil menyeret koper yang rodanya macet. Kita hanya sedang bosan dengan rutinitas sendiri.
Kita ingin pendapatannya, tetapi belum tentu ingin pekerjaannya.
Kita ingin rumahnya, tetapi belum tentu ingin cicilannya.
Kita ingin usahanya, tetapi belum tentu sanggup menjawab pesan pelanggan pukul sebelas malam yang bertanya, “Kak, ini masih ada?” lalu menghilang setelah dijawab.
Jadi kadang rasa iri perlu diperiksa sedikit.
Bukan langsung dimarahi. Bukan juga langsung diberi ceramah supaya bersyukur.
Cukup ditanya:
Bagian mana yang sebenarnya saya inginkan?
Pertanyaan itu lebih berguna daripada terus berkata, “Kenapa hidup saya tidak seperti dia?”
Sebab kita mungkin tidak menginginkan seluruh hidupnya. Kita hanya sedang kekurangan istirahat, perhatian, uang, kebebasan, atau perasaan bahwa hidup kita sedang bergerak.
Orang yang Kita Iri Bisa Jadi Sedang Mengiri Orang Lain
Ada kemungkinan orang yang hidupnya kita lihat begitu sempurna juga sedang melihat kehidupan orang lain dan merasa tertinggal.
Karyawan melihat pengusaha lalu berpikir enak sekali tidak punya atasan.
Pengusaha melihat karyawan lalu berpikir enak sekali setiap akhir bulan ada angka yang masuk dengan jadwal jelas.
Orang yang belum menikah melihat pasangan yang sedang makan bersama dan merasa kesepian.
Orang yang sudah menikah melihat temannya pergi sendirian ke mana-mana dan berpikir, “Wah, tenang sekali hidupnya. Tidak ada yang bertanya mau makan apa, lalu menolak semua pilihan.”
Manusia memang agak membingungkan.
Kita ingin apa yang tidak kita miliki. Setelah memilikinya, kita mulai melihat bagian yang merepotkan.
Dulu ingin punya kendaraan supaya bebas pergi ke mana-mana.
Setelah punya kendaraan, kita mengeluh tentang bensin, pajak, servis, kemacetan, dan orang yang parkir miring seolah halaman minimarket adalah tanah warisan keluarganya.
Bukan berarti keinginan kita salah.
Namun hampir semua kehidupan memiliki harga yang tidak terlihat dari luar.
Kita sering melihat barangnya, tetapi tidak melihat tagihan yang menempel di belakangnya.
Kepala Kita Suka Mengadakan Perlombaan
Sebenarnya tidak ada yang menyuruh kita berlomba.
Tidak ada panitia resmi.
Tidak ada garis akhir.
Tidak ada hadiah berupa rice cooker atau sepeda gunung.
Namun kepala kita suka membuat perlombaan sendiri.
Siapa lebih cepat punya rumah.
Siapa lebih cepat menikah.
Siapa lebih sukses.
Siapa penghasilannya lebih besar.
Siapa anaknya lebih pintar.
Siapa yang fotonya paling sering diambil dari dalam pesawat, walaupun tiketnya dibeli dengan promo dan selama perjalanan hanya makan roti dari rumah.
Masalahnya, perlombaan ini tidak pernah selesai.
Selalu ada orang yang lebih kaya, lebih terkenal, lebih muda, lebih cantik, lebih pintar, atau lebih rajin bangun pukul lima pagi untuk berlari.
Bahkan kalau kita berhasil melewati satu orang, kepala kita akan mencari orang lain.
Kerjanya memang rajin. Sayangnya tidak digaji.
Media sosial membuat perlombaan itu semakin ramai karena kita bisa melihat kehidupan ratusan orang dalam satu hari.
Dulu mungkin kita hanya membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah.
Sekarang kita bisa membandingkan diri dengan pengusaha di Jakarta, keluarga di Korea Selatan, pelari di Kenya, koki di Italia, dan seorang anak berumur dua belas tahun yang sudah menghasilkan uang dari membuat video permainan.
Tentu saja kepala menjadi lelah.
Pesertanya terlalu banyak.
Kadang Kita Cuma Sedang Capek
Saya merasa hidup orang lain paling menarik ketika saya sedang lelah dengan hidup sendiri.
Ketika pekerjaan sedang banyak, orang yang duduk minum kopi terlihat sangat merdeka.
Ketika uang sedang sempit, orang yang membawa dua kantong belanja terlihat seperti keturunan pemilik bank.
Ketika rumah sedang berisik, orang yang tinggal sendirian terlihat hidup dalam kedamaian seperti biksu di atas gunung.
Padahal mungkin dia sedang kesepian dan makan mi instan langsung dari panci karena malas mencuci piring.
Rasa iri tidak selalu berarti kita benar-benar ingin menjadi orang lain.
Kadang kita hanya sedang capek menjadi diri sendiri.
Dan saat sedang capek, hampir semua jalan terlihat lebih bagus daripada jalan yang sedang kita lewati.
Bahkan pekerjaan penjual es krim keliling bisa terlihat menyenangkan. Berjalan santai, membunyikan lonceng, dikelilingi anak-anak.
Kita lupa bahwa dia juga harus mendorong gerobak di bawah matahari sambil menjawab anak yang ingin membeli tetapi uangnya kurang seribu.
Melihat Hidup Orang Lain Boleh, Menyewanya Jangan
Saya rasa tidak mungkin kita berhenti membandingkan diri sepenuhnya.
Kita manusia. Kepala kita memang suka melihat ke kiri dan ke kanan.
Yang mungkin bisa dilakukan adalah tidak langsung percaya pada semua kesimpulan yang muncul.
Ketika hidup orang lain terlihat lebih enak, mungkin hidupnya memang sedang lebih enak.
Itu juga boleh diakui. Tidak semua harus dibantah dengan kalimat bahwa semua orang punya masalah.
Ada orang yang memang lebih beruntung. Ada yang mendapat kesempatan lebih baik. Ada yang lahir dengan dukungan lebih besar. Hidup memang tidak membagikan kartu dengan jumlah dan gambar yang sama.
Namun melihat seseorang lebih beruntung tidak otomatis berarti hidup kita gagal.
Itu hanya berarti perjalanan kita berbeda.
Kalimat ini terdengar sedikit seperti tulisan di belakang truk, tetapi kadang tulisan di belakang truk memang ada benarnya.
Kita boleh melihat kehidupan orang lain untuk mendapatkan ide.
Kita boleh merasa iri sebentar.
Kita boleh mengakui bahwa ada sesuatu yang kita inginkan.
Namun jangan menyewa seluruh hidup orang lain di dalam kepala kita, lalu tinggal di sana setiap hari.
Biaya sewanya mahal. Bayarnya pakai ketenangan sendiri.
Mungkin Hidup Kita Tidak Seburuk yang Terlihat
Kita melihat hidup sendiri dari jarak yang sangat dekat.
Terlalu dekat malah kadang membuat semuanya terlihat buruk.
Wajah sendiri juga terlihat cukup mengejutkan kalau dilihat di cermin dari jarak lima sentimeter.
Ada pori-pori, kerutan, bekas jerawat, dan rambut misterius yang kemarin belum ada.
Namun dari jarak yang wajar, ternyata masih lumayan.
Begitu juga hidup.
Mungkin hidup kita tidak kalah.
Mungkin hidup kita hanya tidak memakai pencahayaan yang bagus, musik latar yang menyentuh, dan seseorang yang mengambil gambar dari sudut terbaik.
Kita menjalani bagian yang biasa-biasa saja. Bangun, bekerja, mengurus keluarga, membayar tagihan, mencoba lagi, kadang gagal, lalu besok mengulanginya.
Bagian ini memang tidak selalu menarik untuk diunggah.
Namun justru sebagian besar hidup berada di sana.
Bukan pada saat menerima penghargaan.
Bukan ketika sedang liburan.
Bukan ketika membeli barang baru.
Hidup lebih sering terjadi saat kita makan nasi di rumah, mencari remote televisi, menunggu cucian kering, dan mencoba tetap waras ketika rencana tidak berjalan.
Jadi ketika hidup orang lain kembali terlihat jauh lebih baik, mungkin kita tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa kita salah jalan.
Bisa jadi kita hanya sedang melihat etalasenya.
Sementara dapurnya belum dibuka.
