Berhemat Ada Batasnya, tetapi Gaji Naik Juga Bisa Habis
Dulu saya pernah berusaha sangat hemat supaya bisa mempunyai tabungan. Setiap membeli sesuatu saya pikirkan berkali-kali. Kadang barangnya sudah masuk keranjang, lalu saya keluarkan lagi. Bukan karena berubah pikiran, tetapi karena saldo rekening ikut memberikan pendapat.
Masalahnya, walaupun sudah berhemat, selalu ada saja pengeluaran yang datang mengambil uang tersebut. Kadang kebutuhan keluarga, kebutuhan rumah, kendaraan yang mendadak minta perhatian, atau beberapa pengeluaran kecil yang datang bersamaan seperti rombongan tanpa reservasi.
Tabungan yang tadinya mulai terlihat agak sehat akhirnya mengecil lagi. Gaji pun begitu. Datang seperti tamu hotel, menginap sebentar, lalu buru-buru check-out.
Waktu itu saya sempat berpikir mungkin saya memang kurang disiplin. Mungkin masih ada pengeluaran yang bisa dipotong. Mungkin saya terlalu sering membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Tetapi kalau dipikir-pikir, berhemat memang ada batasnya.
Berhemat Sampai Tidak Ada Lagi yang Bisa Dipotong
Orang dengan penghasilan besar mungkin bisa mengurangi makan di restoran, berhenti membeli kopi mahal, atau menunda liburan. Orang dengan gaji UMR kadang yang sedang dipikirkan bukan kopi mahal, tetapi harga beras, uang sekolah, bensin, cicilan, dan apakah bulan ini ada keluarga yang membutuhkan bantuan.
Ada nasihat keuangan yang sebenarnya masuk akal, tetapi terasa aneh ketika diberikan tanpa melihat keadaan orang yang menerimanya.
“Kurangi pengeluaran.”
Baik. Dikurangi dari mana?
Makan sudah sederhana. Kendaraan yang dipakai untuk bekerja berumur 15 tahun. Rumah bukan vila dengan kolam renang yang airnya diganti menggunakan air mata investor. Banyak pengeluaran memang tidak mewah. Hanya kehidupan biasa yang kebetulan tetap meminta pembayaran.
Karena itu, ketika mendengar saran bahwa orang bergaji UMR sebaiknya menaikkan penghasilan, saya merasa nasihat tersebut cukup benar. Kita bisa menghemat, tetapi ada titik ketika tidak ada lagi yang aman untuk dipotong.
Kita tetap harus makan. Tetap butuh tempat tinggal. Tetap harus berangkat bekerja. Kadang juga harus membantu orang tua atau keluarga. Jika selisih antara pemasukan dan pengeluaran terlalu tipis, satu kejadian kecil saja bisa mengambil tabungan yang dibangun berbulan-bulan.
Dalam keadaan seperti itu, masalahnya bukan selalu karena orang tersebut boros. Kadang memang ruang keuangannya terlalu sempit.
“Naikkan Income” Bukan Tombol di Remote
Walaupun saya setuju penghasilan perlu dinaikkan, saya juga mengerti kenapa sebagian orang terganggu ketika mendengar nasihat tersebut.
Kalimat “naikkan income” sering terdengar seperti menyuruh orang menaikkan volume televisi. Seolah-olah tombolnya sudah tersedia, hanya orang tersebut terlalu malas mencarinya.
Padahal untuk menaikkan penghasilan, orang membutuhkan waktu, kemampuan, kesempatan, keberanian, dan kadang jaringan. Masalahnya, orang yang paling membutuhkan penghasilan tambahan sering kali juga orang yang waktunya paling sedikit.
Pagi bekerja. Sore masih di jalan. Malam mengurus keluarga. Setelah semuanya selesai, tubuh sudah ingin rebahan dan otak mulai bekerja menggunakan tenaga cadangan.
Jadi yang membuat orang terganggu mungkin bukan gagasan menaikkan penghasilannya. Mereka terganggu karena nasihat itu kadang disampaikan seolah prosesnya mudah dan semua orang memulai dari tempat yang sama.
Namun saya juga tidak ingin menggunakan kesulitan itu sebagai alasan untuk diam saja.
Menurut saya, daripada terlalu cepat memikirkan investasi saham, kripto, atau instrumen yang namanya membuat kita merasa seperti sudah mengenakan jas, hal pertama yang perlu diperbesar mungkin adalah kemampuan menghasilkan uang.
Kita sering dicekoki video pendek yang mengatakan investasi harus dimulai sedini mungkin. Nasihat itu tidak salah. Tetapi bagi orang yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan bulanan, hasil investasi dari uang kecil kadang juga kecil sekali.
Bukan berarti tidak perlu mulai. Hanya saja, jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan keuntungan beberapa persen, sementara kemampuan utama kita untuk menghasilkan uang tidak bertambah.
Saya Pernah Membuktikan Gaji Naik Bisa Tetap Habis
Saya pernah mengalami kenaikan gaji. Rasanya tentu menyenangkan. Pikiran pertama saya bukan membuat perencanaan keuangan yang rapi. Pikiran saya justru mulai menghitung barang apa yang sekarang terasa lebih pantas dibeli.
Saya berpikir, “Tidak apa-apa. Bulan depan gaji sebesar ini datang lagi.”
Kalimat itu sederhana, tetapi berbahaya. Karena begitu kita merasa uang bulan depan sudah pasti datang, uang bulan ini mulai terasa boleh dihabiskan.
Saya kemudian lebih sering berbelanja online atau pergi keluar bersama keluarga. Tidak semuanya buruk. Mengajak keluarga menikmati hasil kerja juga bukan kejahatan. Masalahnya, saya tidak benar-benar memberi batas.
Kenaikan gaji membuat saya membabi buta. Penghasilan bertambah, tetapi rasa mampu membeli meningkat lebih cepat daripada rasa perlu menyimpan.
Barang-barang mulai terlihat murah hanya karena gaji naik. Padahal harganya tetap sama. Yang berubah hanya keberanian saya menekan tombol pembayaran.
Lama-lama saya mulai berpikir tentang masa depan anak-anak dan masa depan saya sendiri. Kalau setiap kenaikan penghasilan langsung saya ubah menjadi kenaikan pengeluaran, sebenarnya hidup saya tidak menjadi lebih aman. Saya hanya mempunyai cara menghabiskan uang yang lebih mahal.
Di sinilah saya mulai melihat masalah lain. Menaikkan penghasilan memang penting, tetapi kenaikan penghasilan bukan jaminan tabungan akan ikut naik.
Kalau penghasilan naik 30 persen lalu gaya hidup naik 35 persen, kita memang terlihat lebih sejahtera dari luar. Namun di dalam rekening, keadaannya mungkin masih sama. Hanya bungkus masalahnya yang sekarang lebih bagus.
Saya tidak mengatakan kita harus hidup menderita setelah gaji naik. Pengeluaran boleh bertambah. Keluarga juga berhak menikmati kehidupan. Namun tidak semua kenaikan penghasilan harus langsung diberi pekerjaan untuk dibelanjakan.
Keterampilan Tidak Otomatis Mengundang Uang
Saya percaya cara yang lebih masuk akal untuk menaikkan penghasilan adalah memperbesar keterampilan. Semakin banyak kemampuan yang kita miliki, semakin banyak masalah yang mungkin bisa kita bantu selesaikan.
Orang membayar bukan karena kita membutuhkan uang. Mereka membayar karena kita mempunyai sesuatu yang berguna bagi mereka.
Namun ada satu hal yang juga perlu saya koreksi dari pikiran saya sendiri. Memiliki banyak keterampilan tidak otomatis membuat orang berdatangan membawa uang.
Dunia tidak bekerja seperti permainan yang setelah kita naik level, tiba-tiba koin berjatuhan dari langit.
Keterampilan perlu berguna. Perlu terlihat. Perlu dipercaya. Dan perlu ditawarkan kepada orang yang memang membutuhkannya.
Seseorang bisa sangat pandai menulis, mendesain, memperbaiki kendaraan, memasak, memotret, atau melayani pelanggan. Tetapi kalau tidak ada orang yang mengetahui kemampuannya, uang juga tidak akan mencari alamat rumahnya sendiri.
Jadi mungkin bukan sekadar mengumpulkan sebanyak mungkin keterampilan. Kita perlu memilih keterampilan yang bisa menyelesaikan masalah nyata, memperdalamnya, lalu menunjukkan bahwa kita memang mampu mengerjakannya.
Bagian ini mungkin tidak seindah video motivasi berdurasi tiga puluh detik. Belajar membutuhkan waktu. Menawarkan diri terasa tidak nyaman. Kadang sudah belajar lama, belum ada juga yang mau membayar.
Tetapi setidaknya kita sedang memperbesar sesuatu yang masih berada dalam kendali kita. Bukan hanya terus memotong pengeluaran sampai kehidupan terasa seperti daftar larangan.
Saya sekarang melihat berhemat dan menaikkan penghasilan bukan sebagai dua nasihat yang saling bertentangan. Keduanya perlu berjalan bersama.
Berhemat memberi kita sedikit ruang. Keterampilan membantu memperbesar ruang tersebut. Setelah ruangnya membesar, kita masih perlu menahan diri agar tidak langsung mengisinya dengan barang-barang baru.
Mungkin masalah keuangan bukan hanya soal berapa banyak uang yang datang, tetapi apakah kemampuan kita mengelola diri tumbuh secepat kemampuan kita menghasilkan uang.
