Kalau Uang Adalah Pesawat, Landasan Saya Belum Siap

Daftar Isi

Saya pernah mendengar uang diibaratkan sebagai pesawat, sedangkan kita adalah bandaranya.

Pesawat kecil bisa mendarat di bandara kecil. Namun pesawat sebesar Airbus membutuhkan landasan yang panjang, teknologi yang memadai, petugas yang siap, dan mungkin warung kopi dengan harga yang sudah kehilangan hubungan dengan harga kopi di luar bandara.

Pesan dari analogi itu sederhana: kalau ingin menerima uang dalam jumlah besar, kita harus mempunyai wadah yang besar.

Awalnya saya merasa analogi ini masuk akal. Saya bahkan sempat membayangkan, kalau tiba-tiba menerima uang satu miliar rupiah, mungkin kehidupan saya akan langsung menjadi lebih baik.

Lalu saya memikirkannya sedikit lebih lama.

Kalau uang satu miliar itu benar-benar masuk ke rekening saya besok pagi, saya justru mungkin akan duduk memandangi angka tersebut sambil bingung. Mau diapakan? Ditabung semuanya terasa sayang. Dibelanjakan terasa berbahaya. Diinvestasikan, saya belum cukup mengerti. Dibagikan kepada keluarga, nanti saya sendiri kembali menatap saldo seperti orang kehilangan rombongan.

Pada saat itu saya mulai curiga. Mungkin masalah saya bukan belum pantas menerima uang sebesar Airbus. Masalahnya, menara pengawas saya belum tahu pesawat itu harus diarahkan ke mana.


Ilustrasi pesawat besar hendak mendarat di landasan kecil yang belum selesai sebagai simbol ketidaksiapan mengelola uang besar.

Bandara Saya Ramai Saat Gajian

Setiap kali menerima gaji, ada dua orang yang langsung berdebat di kepala saya.

Orang pertama berkata, “Tabung. Masa depan masih panjang.”

Orang kedua berkata, “Belanja sedikit tidak apa-apa. Hidup juga harus dinikmati.”

Keduanya mempunyai alasan yang terdengar masuk akal. Masalahnya, orang kedua biasanya lebih pandai presentasi.

Saya tidak merasa sebagai orang yang sangat boros. Namun saya mulai melihat satu pola yang cukup mengganggu. Ketika tabungan saya mencapai angka tertentu, misalnya sekitar dua puluh juta rupiah, entah kenapa beberapa waktu kemudian jumlahnya bisa turun kembali menjadi lima juta.

Lalu saya mulai mengumpulkannya lagi. Naik perlahan. Setelah hampir mencapai angka yang sama, ada saja pengeluaran, kebutuhan, keputusan, atau keinginan yang membuatnya turun lagi.

Seperti permainan ular tangga, hanya saja ularnya lebih banyak dan tangganya sedang diperbaiki.

Saya sering bertanya, kenapa uang saya seperti mempunyai tempat parkir langganan? Mengapa setelah naik ke jumlah tertentu, akhirnya kembali lagi ke angka sebelumnya?

Mungkin jawabannya bukan karena semesta menilai kapasitas saya hanya lima juta rupiah. Bisa jadi jawabannya lebih biasa dan kurang mistis: saya belum mempunyai sistem yang cukup kuat untuk mempertahankan uang tersebut.

Saya belum benar-benar menentukan berapa yang boleh digunakan, berapa yang harus diamankan, untuk apa uang itu dikumpulkan, dan apa yang harus dilakukan setelah jumlahnya bertambah.

Jadi setiap uang datang, saya memperlakukannya seperti tamu yang datang tanpa pemberitahuan. Saya senang melihatnya, tetapi tidak menyiapkan kamar. Akhirnya ia tidur sebentar di ruang tamu, lalu pulang lagi.

Airbus Tidak Mendarat karena Kita Pandai Menerima Pujian

Dalam penjelasan yang saya dengar, cara memperbesar wadah uang adalah dengan belajar menerima bantuan, menerima pujian, dan memprioritaskan diri sendiri.

Saya kebetulan sulit melakukan ketiganya.

Saya malu meminta bantuan karena takut merepotkan orang. Ketika dipuji, respons pertama saya biasanya bukan berterima kasih, melainkan mencari alasan untuk mengecilkan pujian itu.

“Ah, biasa saja.”

“Kebetulan saja.”

“Belum bagus juga.”

Seolah-olah menerima pujian secara utuh dapat menyebabkan petugas pajak langsung datang ke rumah.

Saya juga sering mendahulukan kebutuhan orang lain. Teman perlu dibantu, saya mencoba membantu. Orang lain mempunyai keinginan, saya pertimbangkan. Kebutuhan saya sendiri sering diletakkan paling belakang, lalu saya heran mengapa akhirnya merasa kecil dan tertinggal.

Jadi saya mengerti kenapa kemampuan menerima bantuan, pujian, dan perhatian kepada diri sendiri dianggap penting. Orang yang selalu merasa tidak pantas memang bisa menolak banyak kesempatan sebelum kesempatan itu sempat duduk.

Tetapi saya kurang setuju kalau ketiga hal tersebut langsung dianggap sebagai jalan untuk menarik uang besar.

Sebuah Airbus tidak memilih bandara karena pengelola bandaranya sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Pesawat itu mendarat karena landasannya cukup panjang, sistem navigasinya berjalan, petugasnya terlatih, dan bandaranya tidak dibangun memakai keyakinan positif serta dua karung semen.

Belajar menerima bantuan mungkin membuat kita lebih mudah berkembang. Menerima pujian dapat membuat kita tidak terus-menerus mengecilkan kemampuan sendiri. Memprioritaskan diri dapat memberi ruang untuk belajar dan bekerja lebih baik.

Namun semua itu baru bahan pendukung. Uang tetap membutuhkan kemampuan yang lebih konkret: mencari, mengelola, menjaga, dan menggunakannya tanpa membuat keputusan berdasarkan perasaan sesaat.


Perlu Diperbesar Bukan Hanya Wadahnya

Yang Perlu Diperbesar Bukan Hanya Wadahnya

Kalau saya jujur, selama ini saya sering berharap mempunyai uang lebih banyak tanpa benar-benar meningkatkan kemampuan mengelola uang yang sudah ada.

Saya ingin pesawat lebih besar datang, tetapi jadwal penerbangan saja belum saya tulis.

Saya belum mempunyai jawaban yang jelas untuk pertanyaan sederhana: kalau pendapatan saya bertambah dua kali lipat, ke mana tambahan tersebut akan diarahkan?

Apakah otomatis ikut habis karena standar hidup naik? Apakah masuk tabungan? Apakah digunakan untuk belajar keterampilan baru? Apakah dipakai membeli sesuatu yang memang menghasilkan, atau justru membeli barang yang membuat saya terlihat seperti orang yang menghasilkan?

Ini bagian yang kurang nyaman. Lebih menyenangkan membayangkan diri sebagai wadah keberlimpahan daripada mengakui bahwa saya belum disiplin mencatat pengeluaran dan belum cukup belajar mengenai uang.

Analogi bandara itu tetap berguna, tetapi bagi saya maknanya sedikit berbeda.

Menjadi bandara besar bukan berarti hanya merasa layak menerima pesawat besar. Bandara besar mempunyai aturan. Tidak semua pesawat boleh mendarat sembarangan. Ada jalur masuk, tempat parkir, jadwal keberangkatan, biaya pemeliharaan, dan orang-orang yang tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana.

Begitu juga dengan uang.

Jumlah yang lebih besar bukan hanya meminta keberanian untuk menerimanya. Ia juga meminta ketenangan agar kita tidak buru-buru menghabiskannya, pengetahuan agar tidak mudah ditipu, tujuan agar uang tidak berjalan tanpa arah, dan batas agar semua kebutuhan orang lain tidak otomatis menjadi tanggung jawab kita.

Saya mungkin memang perlu belajar menerima bantuan dan berhenti menolak pujian seperti sedang menghindari paket COD. Saya juga perlu sesekali menaruh kebutuhan saya sendiri di depan tanpa langsung merasa egois.

Namun saya tidak ingin berhenti pada perasaan bahwa setelah melakukan itu, uang besar akan otomatis datang.

Saya tetap harus membangun landasannya.

Pesawat Besar Bisa Menjadi Masalah Besar

Kita sering menganggap uang besar pasti menyelesaikan masalah. Padahal uang besar yang datang kepada orang yang belum siap bisa memperbesar masalah yang sudah ada.

Kalau ketika mempunyai dua puluh juta saya belum tahu cara mempertahankannya, uang satu miliar belum tentu membuat saya seratus kali lebih bijaksana. Bisa saja ia hanya memberi saya kesempatan melakukan kesalahan dengan anggaran yang lebih besar.

Karena itu, mungkin ukuran kesiapan seseorang bukan terlihat dari seberapa yakin ia pantas menerima uang, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan jumlah yang sudah ada sekarang.

Apakah uang itu selalu habis tanpa diketahui arahnya? Apakah setiap kenaikan pendapatan langsung diikuti kenaikan keinginan? Apakah kita menyimpan uang karena mempunyai tujuan, atau hanya menahannya sampai menemukan alasan yang cukup menarik untuk menghabiskannya?

Saya belum mempunyai sistem keuangan yang sempurna. Bahkan kata “sistem” terdengar sedikit terlalu gagah untuk kondisi saya sekarang. Namun setidaknya saya mulai melihat bahwa kebingungan saya terhadap uang bukan kutukan dan bukan tanda bahwa rezeki menolak mampir.

Saya hanya belum selesai membangun bandaranya.

Jadi sebelum berharap Airbus datang, mungkin saya perlu memastikan dulu bahwa ketika pesawat itu benar-benar muncul, saya tidak berdiri di tengah landasan sambil bertanya, “Sekarang ini ditaruh di mana?”