Yang Selalu Saya Tunda Justru Waktu Menyenangkan Bersama Anak

Daftar Isi

Saya ingin mengajak keluarga staycation di sebuah hotel.

Bukan liburan jauh. Tidak perlu pesawat, koper besar, atau bangun pukul tiga pagi hanya untuk duduk menunggu di bandara. Cukup menginap satu malam, mengajak anak-anak berenang, lalu membiarkan mereka merasa sedang pergi ke tempat yang sangat jauh walaupun rumah mungkin hanya beberapa kilometer.

Namun sampai sekarang rencana itu masih saya tunda.

Bulan ini ada biaya upacara. Ada kebutuhan sekolah anak. Saya juga sedang berencana menaikkan daya listrik di rumah. Semuanya terasa lebih penting daripada menginap di hotel.

Jadi saya berkata kepada diri sendiri, “Nanti saja. Tunggu uangnya lebih aman.”

Kalimat itu terdengar sangat bertanggung jawab. Bahkan kalau diucapkan sambil memegang kalkulator, mungkin saya langsung terlihat seperti kepala keluarga teladan.

Masalahnya, saya tidak tahu kapan uang akan benar-benar terasa aman.

Seorang ayah menghitung kebutuhan keluarga sementara anak-anak menunggu rencana menginap dan berenang yang terus ditunda.

Yang Menyenangkan Selalu Paling Mudah Dicoret

Kalau anak membutuhkan sesuatu untuk sekolah, saya tidak terlalu lama berpikir. Kalau keluarga mempunyai kebutuhan penting, saya juga berusaha memenuhinya.

Saya bisa cukup jor-joran dalam urusan itu.

Bagi saya, memberikan yang terbaik kepada anak-anak adalah bagian dari tanggung jawab sebagai ayah. Mereka tidak memilih lahir di keluarga ini, jadi rasanya tidak pantas kalau setelah lahir mereka disuruh memahami laporan keuangan rumah tangga.

Namun anehnya, pengeluaran untuk menciptakan pengalaman bersama mereka terasa berbeda.

Biaya sekolah masuk kebutuhan penting. Kebutuhan rumah masuk daftar wajib. Biaya upacara jelas harus disiapkan. Sementara staycation langsung masuk ke bagian yang paling mudah digeser.

“Bulan depan saja.”

Kalau bulan depan belum bisa, pindah lagi ke bulan berikutnya. Rencana itu tidak hilang. Ia hanya terus dipindahkan seperti barang di rumah yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

Saya tidak merasa menunda itu selalu salah. Kalau uang memang belum cukup, tentu saya tidak harus memaksakan diri. Saya juga tidak ingin anak-anak senang berenang satu malam, lalu ayahnya berenang di dalam tagihan selama tiga bulan.

Seorang ayah mencoret rencana menginap bersama keluarga karena mendahulukan berbagai kebutuhan rumah tangga.

Tetapi kalau dipikir-pikir, hampir semua hal yang menyenangkan memang tidak terlihat mendesak.

Staycation tidak mempunyai tanggal jatuh tempo. Mengajak anak pergi tidak akan mengirim pesan pengingat. Waktu bersama keluarga juga tidak datang membawa surat bertuliskan “harap segera digunakan sebelum habis”.

Karena tidak mendesak, ia mudah dikorbankan.

Padahal sesuatu tidak harus mendesak untuk menjadi penting.

Saya Menyebutnya Berhati-hati, tetapi Mungkin Saya Juga Takut Menyesal

Saya sendiri belum tahu kapan kehati-hatian berubah menjadi kebiasaan menunda hidup.

Saya selalu memikirkan kemungkinan akan muncul kebutuhan yang tidak saya perhitungkan. Saya pernah lupa memasukkan pajak kendaraan ke dalam rencana pengeluaran. Saat waktunya membayar datang, saya takut mengeluarkan uang untuk kebutuhan lain.

Kejadian seperti itu membuat pikiran saya semakin waspada.

Seorang ayah menahan dompet sambil membayangkan berbagai kebutuhan mendadak yang mungkin muncul setelah ia menggunakan uang.

Setiap kali ingin membeli sesuatu, termasuk Kindle yang sudah lama saya inginkan, saya akan berpikir bahwa mungkin beberapa hari lagi ada kebutuhan yang lebih penting.

Masalahnya, kemungkinan itu memang selalu ada.

Rumah bisa membutuhkan perbaikan. Kendaraan bisa bermasalah. Anak bisa mempunyai kebutuhan baru. Bulan yang terlihat tenang pada tanggal satu bisa berubah sifat sebelum tanggal dua puluh.

Karena itu, menahan uang terasa seperti keputusan yang paling aman.

Kalau saya tidak membeli Kindle, saya tidak akan menyesal ketika kebutuhan lain muncul. Kalau saya tidak mengajak keluarga menginap, saya tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika uang menjadi lebih sempit.

Saya mulai sadar bahwa yang saya hindari mungkin bukan hanya kekurangan uang.

Saya juga ingin menghindari perasaan bersalah setelah menggunakannya.

Saya takut berkata kepada diri sendiri, “Seharusnya waktu itu tidak usah pergi.”

Jadi lebih mudah untuk tidak pergi sama sekali.

Dengan begitu saya tidak perlu mengambil risiko membuat keputusan yang salah. Walaupun sebagai gantinya, saya juga tidak membuat banyak keputusan yang menyenangkan.

Ini bukan berarti saya harus mulai menghabiskan uang tanpa perhitungan. Saya tetap percaya dana darurat penting. Kebutuhan anak dan keluarga juga harus didahulukan.

Namun mungkin tidak semua uang yang dipakai untuk menikmati hidup adalah uang yang terbuang.

Masalahnya bukan pada menabung atau mengeluarkan uang. Masalahnya adalah ketika saya hanya merasa menjadi ayah yang bertanggung jawab saat sedang membayar kebutuhan, tetapi merasa sedikit bersalah saat membayar sebuah pengalaman.

Anak-anak Tetap Bertambah Besar Saat Saya Menunggu

Seorang ayah memegang rencana liburan yang tertunda sementara bayangan anak-anaknya terlihat semakin besar.

Ada banyak cara menikmati hidup yang tidak membutuhkan uang.

Saya bisa bersyukur karena berangkat bekerja dan pulang dengan selamat. Saya masih bisa bertemu keluarga di rumah. Anak-anak dalam keadaan sehat. Kebutuhan mereka juga masih bisa terpenuhi.

Hal-hal seperti itu sebenarnya besar, hanya saja bentuknya terlalu biasa.

Saya tidak selalu menyadarinya karena besok pagi saya kembali bekerja, lalu sore pulang lagi. Kegiatan yang berulang sering terlihat tidak istimewa sampai suatu hari kita tidak bisa melakukannya.

Jadi saya setuju bahwa kita tidak harus menunggu mempunyai banyak uang untuk menikmati hidup.

Namun bagi saya, menikmati hidup juga tidak cukup hanya dengan berkata bahwa saya sudah bersyukur.

Rasa syukur seharusnya membuat saya lebih sadar terhadap waktu yang sedang berjalan, bukan hanya membuat saya menerima semua rencana yang terus ditunda.

Anak-anak tetap bertambah besar saat saya sedang menunggu keadaan lebih aman.

Sekarang mereka mungkin senang diajak menginap di hotel. Berenang sebentar saja bisa menjadi acara besar. Mereka mungkin lebih tertarik menekan tombol lift berkali-kali daripada menikmati kamar yang sudah dibayar, tetapi setidaknya kami mengalaminya bersama.

Beberapa tahun lagi, ajakan yang sama belum tentu membuat mereka senang.

Mungkin mereka lebih suka pergi bersama teman. Mungkin mereka tetap ikut, tetapi sepanjang perjalanan hanya melihat ponsel. Saya memanggil namanya tiga kali, lalu dijawab dengan suara yang biasanya digunakan orang ketika nomor antreannya belum dipanggil.

Saya tidak ingin menggunakan ketakutan bahwa hidup ini singkat untuk memaksa diri melakukan semua hal sekarang. Itu juga tidak masuk akal.

Saya hanya mulai merasa bahwa menunggu bukanlah keputusan yang netral.

Ketika saya menunda membeli Kindle, mungkin tidak banyak yang berubah. Buku masih ada. Kindle juga kemungkinan masih dijual tahun depan.

Namun ketika saya terus menunda pengalaman bersama keluarga, ada sesuatu yang tetap bergerak: usia anak-anak, tenaga saya, keadaan keluarga, dan waktu yang tidak pernah kembali ke ukuran semula.

Saya masih belum tahu kapan kami akan staycation. Mungkin bukan bulan ini karena memang ada kebutuhan yang lebih penting.

Tetapi saya tidak ingin terus menganggap kebahagiaan keluarga sebagai pengeluaran pertama yang boleh dicoret setiap kali hidup terasa belum aman.Anak-anak tetap bertambah besar