Anak Itu Bukan Investasi, Pak. Dia Manusia
Kadang saya mikir, mengasuh anak itu pekerjaan yang aneh.
Aneh karena yang capek orang tua, yang nangis anak, yang pusing semua anggota keluarga, tapi yang sering disalahkan malah WiFi.
Anak rewel sedikit, kita panik. Anak sakit, kita ikut meriang walaupun suhu tubuh normal. Anak tidak mau makan, kita seperti chef hotel bintang lima yang sedang menghadapi kritik Michelin dari manusia setinggi dispenser.
“Ini nasi, Nak.”
Dia geleng.
“Ini telur.”
Geleng.
“Ini ayam.”
Geleng.
Begitu kita makan mie instan diam-diam, dia mendekat seperti debt collector kecil.
Hidup sebagai orang tua memang begitu. Penuh cinta, penuh tisu basah, penuh mainan yang kalau diinjak rasanya seperti ditusuk masa lalu.
Anak Itu Kita yang Mau
Di balik semua keributan lucu itu, ada satu hal yang menurut saya sering disalahpahami: banyak orang menganggap anak sebagai investasi masa depan.
Kalimatnya biasanya terdengar manis.
“Besarkan anak baik-baik, nanti dia yang urus kita waktu tua.”
Sekilas terdengar wajar. Bahkan terdengar bijak. Tapi kalau dipikir lebih lama sambil minum kopi yang sudah dingin karena tadi keburu ganti popok, kok agak berat juga ya?
Anak itu kita yang mau.
Bukan dia yang daftar online untuk lahir ke dunia ini.
Tidak ada formulir dari alam semesta yang dia isi:
Nama: calon anak
Tujuan lahir: membahagiakan orang tua
Kesediaan menjadi dana pensiun: ya, dengan syarat dan ketentuan berlaku
Tidak ada.
Kitalah yang ingin punya anak. Kita yang berharap. Kita yang berdoa. Kita yang membayangkan rumah lebih ramai, hidup lebih lengkap, ada suara kecil yang memanggil kita ayah atau ibu.
Jadi agak lucu kalau setelah anak lahir, tumbuh, sekolah, berjuang, lalu diam-diam kita titipkan beban:
“Nanti hidup Bapak/Ibu kamu yang tanggung ya.”
Lho, kok enak?
Ini anak apa BPJS emosional?
Peduli Itu Indah, Tapi Jangan Jadi Tagihan
Saya tidak bilang anak tidak perlu peduli pada orang tua. Itu ekstrem juga. Nanti dikira saya sedang kampanye “abaikan orang tua sejak dini”. Bukan begitu.
Anak yang baik tentu punya rasa sayang. Anak yang tumbuh dalam kasih biasanya ingin membalas dengan perhatian.
Tapi perhatian itu seharusnya lahir dari cinta, bukan dari tagihan moral yang ditempel sejak kecil.
Beda sekali antara anak membantu karena sayang, dengan anak membantu karena merasa hidupnya berutang.
Yang satu hangat.
Yang satu seperti cicilan KPR batin.
Dan cicilan batin itu berat. Bunganya bisa turun-temurun.
Saya pernah mendengar kalimat begini:
“Orang tua sudah susah-susah membesarkan kamu, masa nanti kamu tidak mau balas budi?”
Kalimat itu kalau diucapkan sekali mungkin terdengar seperti nasihat. Tapi kalau sering diulang, lama-lama berubah jadi invoice.
Padahal membesarkan anak memang tugas orang tua.
Ya memang berat. Ya memang capek. Ya memang kadang membuat dompet seperti habis ikut acara bakar-bakaran.
Tapi itu bagian dari keputusan kita.
Kita tidak bisa memesan anak, lalu beberapa tahun kemudian komplain:
“Biaya maintenance-nya tinggi juga ya.”
Lha iya, Pak. Ini manusia. Bukan kipas angin.
Mengasuh Anak Bukan Menyiapkan Dana Pensiun
Menurut saya, mengasuh anak itu penting bukan supaya nanti dia menanggung kita.
Mengasuh anak itu penting supaya dia tidak menderita karena keputusan kita menghadirkan dia ke dunia.
Ini yang kadang bikin saya diam.
Karena dunia ini tidak selalu ramah.
Harga-harga naik seperti punya cita-cita jadi roket. Sekolah mahal. Rumah makin jauh dari jangkauan. Kerja tidak selalu pasti. Media sosial bikin orang gampang merasa kurang. Mental anak-anak sekarang juga menghadapi tekanan yang mungkin dulu tidak kita pahami.
Maka tugas orang tua bukan cuma memberi makan dan menyuruh anak sopan pada tetangga.
Tugas orang tua adalah menyiapkan anak agar dia punya bekal hidup.
Bukan bekal untuk membayar hidup kita.
Bekal untuk menjalani hidupnya sendiri.
Anak perlu tumbuh dengan perasaan bahwa dia dicintai, bukan sedang dibentuk menjadi aset keluarga.
Anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat pulang, bukan kantor cabang kewajiban.
Anak perlu merasa bahwa keberadaannya berharga, bukan karena nanti bisa menghasilkan uang, tapi karena dia memang manusia.
Jangan-Jangan Kita Ingin Anak Sukses Demi Rasa Aman Kita
Kadang orang tua terlalu sibuk berharap anak sukses, tapi lupa bertanya: anak ini bahagia tidak?
Terlalu sibuk membayangkan nanti anak kerja bagus, gaji besar, bisa bantu keluarga, tapi lupa bahwa anak juga punya hidup sendiri.
Punya mimpi sendiri.
Punya luka sendiri.
Punya capek sendiri.
Jangan-jangan kita ingin anak sukses bukan demi dia, tapi demi rasa aman kita.
Nah, ini yang tidak enak dilihat, tapi perlu jujur.
Banyak orang tua bilang, “Semua ini demi anak.”
Tapi kadang di dalamnya ada juga:
“Supaya nanti anak tidak lupa sama saya.”
Manusiawi sih.
Orang tua juga takut tua. Takut sendiri. Takut tidak punya pegangan. Takut suatu hari tubuh melemah dan uang tidak cukup.
Itu semua ketakutan yang nyata.
Tapi ketakutan orang tua tidak boleh otomatis diwariskan menjadi beban anak.
Kalau kita takut masa tua susah, ya kita perlu berpikir dari sekarang.
Pelan-pelan. Sesuai kemampuan. Tidak harus langsung punya deposito segede ego pejabat saat kampanye.
Tapi minimal sadar bahwa anak bukan rencana pensiun.
Kita tetap perlu menjaga kesehatan. Mengatur uang semampunya. Tidak hidup sembrono lalu berharap anak nanti jadi pemadam kebakaran finansial.
Karena kasihan juga anak.
Dia baru belajar jalan, kita sudah titip masa tua.
Dia baru bisa bilang “ayah”, kita diam-diam sudah buka spreadsheet harapan.
Umur dua tahun: lucu.
Umur tujuh tahun: masuk SD.
Umur tujuh belas: kuliah.
Umur dua puluh lima: kerja.
Umur tiga puluh: mulai transfer bulanan ke orang tua.
Ini bukan parenting.
Ini proyeksi bisnis keluarga.
Bakti Tidak Sama dengan Beban
Yang lebih berbahaya, pola seperti ini sering dibungkus dengan kata “bakti”.
Bakti itu mulia.
Tapi bakti yang dipaksa bisa berubah jadi beban.
Anak mungkin tetap membantu, tapi hatinya lelah.
Dia mungkin tetap mengirim uang, tapi setiap transfer ada rasa sesak.
Dia mungkin tersenyum di depan orang tua, tapi di dalam dirinya ada pertanyaan:
“Kapan hidup saya benar-benar jadi milik saya?”
Saya tidak ingin anak tumbuh dengan pertanyaan seperti itu.
Saya ingin anak tahu bahwa dia boleh sayang pada orang tuanya, tapi dia tidak lahir untuk menjadi penanggung jawab utama hidup orang tuanya.
Kalau nanti dia membantu, saya ingin itu karena hatinya lapang.
Bukan karena sejak kecil dicekoki kalimat:
“Ingat, kamu harus balas jasa.”
Balas jasa terbaik anak kepada orang tua sebenarnya bukan selalu uang.
Kadang balas jasa terbaik adalah dia tumbuh jadi manusia yang tidak hancur.
Tidak kehilangan dirinya.
Tidak hidup dalam dendam.
Tidak menjadi orang yang penuh luka karena masa kecilnya dipenuhi tuntutan.
Kalau anak bisa hidup baik, punya hati yang sehat, punya hubungan yang hangat, bisa berdiri dengan kakinya sendiri, itu sudah besar sekali.
Itu bukan kecil.
Di zaman sekarang, bisa hidup waras saja sudah prestasi.
Apalagi kalau masih bisa senyum tanpa pura-pura kuat.
Itu levelnya sudah hampir seperti menemukan parkir kosong di mall saat akhir pekan.
Langka dan patut disyukuri.
Anak yang Dicintai Tidak Perlu Dipaksa untuk Peduli
Maka menurut saya, mengasuh anak bukan soal mencetak anak yang nanti mengurus kita.
Mengasuh anak adalah soal memastikan keputusan kita menjadi orang tua tidak membuat dia membayar tagihan yang bukan miliknya.
Kita boleh berharap anak peduli. Tapi jangan menjadikan harapan itu sebagai kontrak.
Kita boleh mendidik anak untuk punya empati. Tapi jangan memakai empati itu untuk mengikat lehernya.
Kita boleh ingin dekat dengan anak sampai tua. Tapi kedekatan itu dibangun dari cinta, bukan rasa bersalah.
Karena anak yang tumbuh dengan cinta biasanya tidak perlu dipaksa untuk peduli.
Dia akan ingat sendiri.
Dia akan datang sendiri.
Dia akan membantu sebisanya.
Tapi anak yang tumbuh dengan tekanan mungkin tetap datang, tapi hatinya sudah jauh.
Badannya hadir, jiwanya absen.
Seperti orang ikut rapat Zoom tapi kameranya mati dan pikirannya sedang di warung pecel lele.
Menjadi Orang Tua Itu Juga Membesarkan Diri Sendiri
Saya menulis ini bukan karena saya sudah jadi orang tua sempurna.
Jauh.
Saya juga masih belajar.
Masih sering emosi.
Masih sering bingung.
Masih sering merasa teori parenting itu bagus sekali sampai anak mulai tantrum, lalu semua teori berubah menjadi:
“Ya Tuhan, ini tombol off-nya di mana?”
Tapi makin lama saya merasa, menjadi orang tua itu bukan cuma soal membesarkan anak.
Menjadi orang tua juga soal membesarkan diri sendiri.
Membesarkan kesabaran.
Membesarkan tanggung jawab.
Membesarkan kemampuan untuk tidak menumpahkan luka kita kepada anak.
Karena anak tidak minta dilahirkan.
Tapi setelah dia lahir, dia pantas mendapatkan orang tua yang berusaha sadar.
Bukan sempurna.
Sadar saja dulu.
Sadar bahwa cinta bukan kepemilikan.
Sadar bahwa anak bukan perpanjangan ambisi.
Sadar bahwa masa depan anak bukan tempat kita menyimpan seluruh ketakutan masa tua.
Sadar bahwa tugas kita bukan membuat anak merasa berutang karena sudah dibesarkan.
Tugas kita adalah membuat dia merasa cukup dicintai untuk bisa hidup dengan baik.
Kalau nanti dia sukses, syukuri.
Kalau nanti dia membantu, terima dengan rendah hati.
Kalau nanti dia punya hidup sendiri, jangan marah seolah-olah dia kabur dari kontrak kerja.
Karena sejak awal, anak memang bukan milik kita sepenuhnya.
Dia hanya dititipkan lewat kita.
Kita yang mengundangnya datang ke dunia.
Maka jangan sampai setelah dia datang, kita malah membuat dunia ini terasa seperti tempat cicilan seumur hidup.
Anak itu bukan investasi.
Anak itu manusia.
Dan manusia tidak seharusnya lahir hanya untuk membayar ketakutan orang tuanya.
