Apa Itu Self-Help, dan Kenapa Kita Membutuhkannya Saat Hidup Mulai Terasa Aneh?

Daftar Isi

Beberapa tahun belakangan ini saya sering mendengar istilah self-help.

Awalnya saya kira self-help adalah keadaan ketika seseorang sedang mengangkat lemari sendirian karena tidak ada tetangga yang mau membantu.

Ternyata bukan.

Self-help adalah berbagai gagasan, buku, video, nasihat, atau metode yang dibuat untuk membantu seseorang memperbaiki dirinya sendiri.

Masalahnya bisa bermacam-macam.

Ada orang yang ingin lebih percaya diri. Ada yang ingin lebih disiplin. Ada yang ingin mengatur emosi. Ada yang ingin berhenti memikirkan mantan.

Yang terakhir biasanya paling sulit.

Mantan sudah menikah dan punya dua anak, tetapi pikirannya masih dimasukkan ke dalam rapat harian tanpa undangan.

Secara sederhana, self-help adalah usaha untuk memahami masalah dalam diri kita, lalu mencari cara agar hidup menjadi sedikit lebih baik.

Tidak harus langsung menjadi manusia baru.

Manusia lama yang sedikit lebih waras juga sudah lumayan.

Apa itu self help

Kenapa Banyak Orang Merasa Membutuhkannya?

Menurut saya, banyak orang mulai mencari self-help bukan karena hidupnya benar-benar hancur.

Kadang hidup mereka terlihat biasa saja.

Masih bekerja. Masih makan. Masih bisa tertawa ketika ada teman yang jatuh dari kursi, setelah memastikan orangnya tidak cedera parah.

Tetapi di dalam kepala ada perasaan bahwa sesuatu tidak beres.

Kita bangun pagi, pergi bekerja, pulang, membuka ponsel, lalu tidur.

Besoknya begitu lagi.

Hari-hari berjalan lancar, tetapi rasanya seperti naik eskalator di pusat perbelanjaan yang belum buka. Bergerak, tetapi tidak tahu mau membeli apa.

Lalu kita mulai bertanya.

Kenapa saya mudah marah?

Kenapa saya selalu menunda pekerjaan?

Kenapa orang lain terlihat tahu tujuan hidupnya, sedangkan saya mencari kaus kaki sebelah saja kadang menyerah?

Dari pertanyaan seperti itulah orang mulai membaca buku pengembangan diri, menonton video motivasi, mendengarkan podcast, atau mengikuti akun media sosial yang setiap pagi mengingatkan kita untuk bangun dan mengejar impian.

Padahal kita baru saja bangun dan masih mencari sandal.

Self-Help Memberikan Nama pada Masalah Kita

Salah satu hal yang berguna dari self-help adalah membantu kita memberi nama pada sesuatu yang sebelumnya hanya terasa tidak nyaman.

Misalnya, seseorang selalu takut menolak permintaan orang lain.

Selama ini ia hanya merasa dirinya terlalu baik.

Setelah membaca beberapa pembahasan, ia baru sadar mungkin dirinya bukan terlalu baik. Ia hanya takut dianggap jahat.

Itu berbeda.

Orang baik membantu karena memang ingin membantu.

Orang yang takut dianggap jahat membantu sambil mengomel dalam hati sampai tiga hari.

Self-help kadang membuat kita melihat pola semacam itu.

Kita mulai sadar bahwa masalah yang terjadi hari ini mungkin bukan kejadian tunggal.

Mungkin kita memang mempunyai kebiasaan menghindar. Mungkin kita terlalu bergantung pada pengakuan orang lain. Mungkin kita sulit mengambil keputusan karena ingin semua keputusan dijamin berhasil.

Padahal hidup tidak menyediakan garansi seperti rice cooker.

Bahkan rice cooker saja kadang rusak dua minggu setelah masa garansinya habis. Hidup lebih kreatif lagi.

Tetapi Self-Help Juga Bisa Menjadi Tempat Bersembunyi

Di sinilah bagian yang menurut saya agak lucu.

Kita membaca buku agar berani bertindak.

Setelah selesai membaca buku pertama, kita merasa belum cukup siap.

Kita membeli buku kedua.

Lalu buku ketiga.

Lalu mengikuti seminar.

Lalu mencatat sepuluh kebiasaan orang sukses.

Setelah itu kita membeli buku catatan baru karena buku catatan lama terlihat kurang mendukung perubahan hidup.

Tindakan sebenarnya belum dimulai.

Tetapi perlengkapan untuk menjadi manusia baru sudah lengkap.

Ini salah satu jebakan self-help.

Belajar tentang perubahan dapat memberikan perasaan seolah-olah kita sedang berubah.

Padahal mengetahui cara berolahraga tidak membuat perut otomatis mengecil.

Kalau begitu, saya sudah memiliki tubuh atlet hanya karena sering menonton pertandingan bulu tangkis sambil makan kerupuk.

Ada orang yang terus mencari metode baru bukan karena metode lama tidak bekerja.

Ia belum benar-benar mencobanya.

Metode baru hanya terasa lebih menyenangkan karena belum menuntut apa-apa.

Nasihat baru selalu terlihat menjanjikan.

Kebiasaan lama terlihat melelahkan karena harus dijalankan pada hari Senin.

Kita Sering Menginginkan Jawaban yang Terlalu Bersih

Saya juga melihat ada alasan lain mengapa self-help sangat menarik.

Kita ingin hidup dijelaskan dengan cara yang rapi.

Lakukan lima langkah ini.

Bangun pukul lima pagi.

Minum air putih.

Menulis jurnal.

Berpikir positif.

Jangan berteman dengan orang negatif.

Masalahnya, manusia tidak serapi daftar tersebut.

Kita bisa bangun pukul lima pagi lalu menghabiskan satu jam melihat video orang membersihkan karpet.

Kita bisa menulis jurnal, tetapi isinya keluhan tentang orang yang menyuruh kita menulis jurnal.

Kita bisa menjauhi semua orang negatif, kemudian baru sadar orang paling negatif dalam hidup kita tinggal di dalam kepala sendiri dan tidak membayar sewa.

Hidup tidak selalu membaik hanya karena kita menemukan kutipan yang bagus.

Kadang masalahnya membutuhkan tindakan yang membosankan.

Mengurangi pengeluaran.

Meminta maaf.

Mengakui bahwa kita salah.

Berhenti menunda.

Menjalani percakapan yang selama ini kita hindari.

Hal-hal seperti itu jarang terlihat keren jika dijadikan video pendek.

Tidak ada musik megah ketika seseorang akhirnya mencuci piring yang menumpuk tiga hari.

Namun perubahan hidup sering dimulai dari pekerjaan kecil semacam itu.

Self-Help Bukan Pengganti Bantuan Profesional

Ada juga hal yang penting untuk dibedakan.

Self-help dapat membantu kita memahami diri, tetapi tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan membaca buku atau mendengarkan nasihat di internet.

Ada masalah yang memang membutuhkan psikolog, dokter, konselor, atau tenaga profesional lain.

Kita tidak perlu merasa gagal hanya karena tidak mampu menyelesaikan semuanya sendirian.

Kita juga tidak membongkar mesin mobil sendiri hanya karena sudah menonton dua video tutorial.

Setidaknya saya tidak berani.

Saya masih ingin mobilnya bisa maju, bukan berubah menjadi rak sepatu.

Meminta bantuan bukan berarti kita lemah.

Kadang itu justru tanda bahwa kita mulai melihat masalah dengan lebih jujur.

Jadi, Apakah Self-Help Itu Berguna?

Menurut saya, berguna.

Tetapi kegunaannya bukan karena self-help mempunyai semua jawaban.

Self-help berguna ketika membuat kita berhenti sebentar, melihat diri sendiri, lalu menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Ia dapat memberi bahasa untuk menjelaskan perasaan kita.

Ia bisa menunjukkan pola yang selama ini tidak terlihat.

Ia juga dapat memberi dorongan kecil ketika kita tidak tahu harus mulai dari mana.

Namun pada akhirnya, buku tidak bisa menjalani hidup kita.

Video motivasi tidak bisa melakukan percakapan sulit untuk kita.

Kutipan tentang disiplin juga tidak akan bangun dari tempat tidur dan menyelesaikan pekerjaan kita.

Sangat tidak sopan memang.

Sudah kita simpan kutipannya, bahkan diberi tanda hati, tetapi ia tidak mau membantu apa-apa.

Mungkin self-help yang sehat bukan usaha untuk menjadi manusia sempurna.

Manusia sempurna sepertinya melelahkan. Ia mungkin tidak pernah salah mengirim pesan, tidak pernah lupa kata sandi, dan selalu tahu posisi gunting di rumah.

Saya tidak mengenal manusia seperti itu.

Self-help mungkin hanya usaha untuk mengenali diri sedikit lebih baik.

Mengetahui kebiasaan buruk yang terus kita ulang.

Mengerti kapan kita sedang mencari jawaban, dan kapan kita sebenarnya hanya menunda tindakan.

Karena kadang kita tidak membutuhkan buku baru.

Kita sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Kita hanya berharap ada buku lain yang memberi jawaban berbeda, yang lebih mudah, lebih nyaman, dan kalau bisa tidak perlu dimulai hari ini.

Sayangnya, bagian paling menjengkelkan dari memperbaiki hidup adalah ini:

Pada satu titik, kita harus menutup bukunya.

Lalu mulai melakukan sesuatu.