Apa Itu Stoikisme? Seni Tetap Waras Saat Dunia Tidak Mau Menurut

Daftar Isi

Saya dulu mengira stoikisme adalah ilmu untuk membuat wajah tetap datar dalam segala keadaan.

Dimarahi atasan, wajah datar.

Kehabisan uang tanggal 20, wajah datar.

Pesan makanan ayam goreng, yang datang sendok plastik tanpa ayam, wajah tetap datar.

Pokoknya seperti manusia yang sudah berdamai dengan kehidupan, sekaligus kehilangan kemampuan menggerakkan alis.

Ternyata bukan begitu.

Stoikisme bukan ajaran untuk menjadi manusia tanpa emosi. Bukan juga ilmu menahan marah sampai tekanan darah naik, lalu kita masuk rumah sakit sambil tetap berkata, “Saya baik-baik saja.”

Stoikisme sebenarnya membicarakan sesuatu yang sangat sederhana.

Ada hal yang bisa kita kendalikan.

Ada hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Masalahnya, kita sering menghabiskan tenaga untuk mengendalikan bagian kedua.

Apa itu stoikisme

Stoikisme Terdengar Rumit karena Namanya Seperti Merek Semen

Kata stoikisme memang terdengar berat.

Seperti sesuatu yang hanya boleh dibicarakan oleh orang berjanggut sambil memegang buku tebal. Kalau kita membicarakannya sambil memakai celana pendek dan menyapu halaman, rasanya seperti kurang resmi.

Padahal gagasannya dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari.

Filsafat ini berkembang pada zaman Yunani dan Romawi kuno. Tokoh-tokohnya antara lain Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius.

Marcus Aurelius bahkan seorang kaisar.

Artinya, dia punya kekuasaan besar, pasukan, wilayah, dan mungkin jumlah rapat yang jauh lebih banyak daripada kita. Namun dia tetap harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak gampang marah menghadapi manusia.

Ini cukup menghibur.

Ternyata sejak zaman Romawi, masalah manusia masih sama. Bukan hanya perang dan politik. Kemungkinan besar juga ada orang yang kalau ditanya sesuatu jawabannya muter-muter seperti kipas angin nomor tiga.

Salah satu gagasan utama stoikisme adalah kita perlu memisahkan mana yang berada dalam kendali kita dan mana yang tidak.

Yang bisa kita kendalikan adalah pikiran, pilihan, sikap, perkataan, dan tindakan kita.

Yang tidak bisa kita kendalikan adalah pendapat orang, cuaca, masa lalu, hasil akhir, kemacetan, dan orang yang membaca pesan WhatsApp tetapi tidak membalas.

Khusus yang terakhir, kita bahkan sudah melihat dua centang biru. Namun tetap saja kita tidak punya kekuasaan untuk memasukkan tangan ke dalam ponselnya dan memaksa jarinya mengetik.

Kita Ingin Mengatur Semua Hal, Padahal Mengatur Diri Sendiri Saja Kadang Lupa

Banyak kekesalan muncul bukan karena sebuah kejadian terlalu besar.

Kita kesal karena kejadian itu tidak mengikuti keinginan kita.

Kita ingin jalanan kosong saat berangkat kerja.

Kita ingin orang lain memahami maksud kita tanpa perlu dijelaskan.

Kita ingin anak kecil makan dengan rapi.

Ini harapan yang berani sekali.

Anak kecil diberi bubur bukan hanya untuk dimakan. Bubur juga dapat digunakan sebagai masker, cat meja, bahan penelitian gravitasi, dan alat untuk mengukur seberapa panjang kesabaran orang tuanya.

Kita juga ingin semua kerja keras menghasilkan sesuatu yang sesuai rencana.

Sudah membuat tulisan, tetapi tidak dibaca orang.

Sudah bekerja dengan baik, tetapi orang lain yang dipuji.

Sudah berusaha hidup hemat, tetapi motor tiba-tiba rusak. Motor memang sering mempunyai indra keenam. Ia tahu kapan pemiliknya baru menerima gaji.

Stoikisme tidak mengatakan bahwa kita harus senang menghadapi semua itu.

Ia hanya mengingatkan bahwa kejadian dan reaksi kita adalah dua hal yang berbeda.

Kita mungkin tidak dapat memilih kejadian yang datang. Namun kita masih punya sedikit ruang untuk memilih apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Ruangnya kadang sangat kecil.

Kadang hanya beberapa detik sebelum mulut kita mengeluarkan kalimat yang nanti harus diperbaiki selama tiga hari.

Tetapi ruang kecil itu penting.

Menerima Bukan Berarti Menyerah

Orang sering salah memahami penerimaan.

Menerima dianggap sama dengan pasrah.

Misalnya pekerjaan kita buruk, lalu kita berkata, “Saya menerima keadaan.” Setelah itu kita tidur siang selama enam bulan.

Itu bukan stoikisme.

Itu mungkin hanya kelelahan yang diberi nama filsafat agar terlihat berpendidikan.

Menerima kenyataan berarti melihat keadaan sebagaimana adanya.

Tanpa menambah cerita yang belum tentu benar.

Misalnya tulisan kita sepi pembaca.

Kenyataannya adalah tulisan itu belum banyak dibaca.

Namun pikiran kita sering menambah cerita:

“Tidak ada yang menyukai tulisan saya. Saya tidak berbakat. Internet telah sepakat untuk mengabaikan saya. Mungkin Google mempunyai masalah pribadi dengan keluarga saya.”

Padahal belum tentu.

Bisa saja judulnya kurang menarik.

Bisa saja belum cukup banyak orang yang mengenal kita.

Bisa juga tulisannya memang belum bagus.

Bagian terakhir ini tidak menyenangkan, tetapi masih lebih berguna daripada menyalahkan algoritma sambil tidak memperbaiki apa pun.

Stoikisme mengajak kita menerima fakta terlebih dahulu. Setelah itu baru bertindak pada bagian yang masih bisa diperbaiki.

Kita tidak mengendalikan berapa banyak orang yang menyukai pekerjaan kita.

Namun kita bisa mengendalikan apakah kita mau belajar, memperbaiki, dan mencoba lagi.

Hasil tetap tidak sepenuhnya berada di tangan kita.

Tetapi usaha jangan sampai ikut diserahkan kepada nasib. Nasib sudah banyak pekerjaan. Jangan semua dibebankan kepadanya.

Emosi Tidak Harus Dibuang ke Tempat Sampah

Ada orang yang mencoba terlihat stoik dengan cara menekan semua perasaannya.

Sedih, tetapi mengaku biasa saja.

Marah, tetapi tersenyum sambil rahangnya mengeras.

Kecewa, tetapi berkata, “Saya sudah tidak peduli.” Lalu membicarakan masalah itu kepada tujuh orang berbeda.

Stoikisme bukan berarti kita tidak boleh sedih, marah, takut, atau kecewa.

Kita manusia.

Bukan dispenser.

Dispenser pun kadang mengeluarkan bunyi aneh kalau airnya habis.

Perasaan muncul secara alami. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang kita lakukan setelah perasaan itu muncul.

Marah bukan masalah utama.

Memecahkan gelas karena marah mungkin mulai menjadi masalah. Apalagi kalau gelasnya milik orang lain.

Takut juga bukan masalah.

Namun membiarkan rasa takut menentukan semua keputusan dapat membuat hidup kita mengecil sedikit demi sedikit.

Kita tidak harus memusuhi emosi.

Kita hanya perlu berhenti menjadikan setiap emosi sebagai direktur utama.

Emosi boleh ikut rapat.

Tetapi jangan langsung diberi hak menandatangani keputusan.

Menerapkan Stoikisme Tidak Harus Sambil Duduk di Atas Gunung

Kita bisa mempraktikkan stoikisme dalam kejadian yang sangat biasa.

Misalnya ketika terjebak macet.

Macet tidak akan berkurang hanya karena kita mengomel.

Klakson juga bukan mantra pembelah jalan.

Kita boleh kesal. Tetapi setelah itu pilihannya sederhana. Terus mengutuk semua kendaraan di depan, atau menerima bahwa perjalanan memang sedang lambat lalu menggunakan waktu itu untuk mendengar sesuatu, berpikir, atau sekadar diam.

Contoh lain adalah saat menerima kritik.

Reaksi pertama biasanya ingin membela diri.

Apalagi kalau kritiknya datang dari orang yang menurut kita juga punya banyak kekurangan.

Ini kebiasaan manusia yang menarik.

Saat dikritik, kita tidak memeriksa isi kritiknya. Kita lebih dulu membuka arsip kesalahan orang yang mengkritik.

“Memangnya dia sempurna?”

Tentu tidak.

Tetapi orang yang tidak sempurna tetap bisa mengatakan sesuatu yang benar. Jam dinding yang rusak saja bisa menunjukkan waktu yang tepat dua kali sehari. Walaupun sisanya dia hanya hiasan bulat.

Stoikisme mengajak kita bertanya:

“Apakah ada bagian dari kritik ini yang bisa saya gunakan?”

Kalau ada, ambil.

Kalau tidak ada, lepaskan.

Tidak semua pendapat harus dibawa pulang. Rumah kita sudah cukup penuh dengan barang yang tidak terpakai.

Berhenti Memesan Kehidupan Seperti Memesan Makanan

Kita sering mempunyai gambaran tentang bagaimana hidup seharusnya berjalan.

Saya bekerja keras, maka saya harus berhasil.

Saya baik kepada orang lain, maka mereka harus baik kepada saya.

Saya sudah datang tepat waktu, maka acaranya juga harus dimulai tepat waktu.

Kalimat terakhir ini terutama sulit diterapkan di banyak acara keluarga.

Undangan menulis pukul lima sore.

Pukul lima sore kursi masih ditata.

Pukul enam orang mulai datang.

Pukul tujuh pembawa acara bertanya apakah pengeras suara sudah menyala.

Hidup tidak selalu memberikan hasil sesuai pesanan.

Kita bisa melakukan hal yang benar dan tetap mendapatkan hasil yang buruk.

Kita juga bisa melakukan kesalahan lalu kebetulan tetap selamat.

Dunia tidak menjalankan sistem poin yang langsung terlihat.

Stoikisme membantu kita melepaskan tuntutan bahwa kehidupan harus selalu berlaku sesuai harapan kita.

Bukan berarti tidak boleh punya harapan.

Kita tetap boleh merencanakan sesuatu.

Kita tetap boleh mengejar hasil.

Namun kita perlu mengingat bahwa rencana adalah usaha manusia. Hasil akhir kadang mempunyai rapat sendiri dan tidak mengundang kita.

Satu Pertanyaan yang Lumayan Berguna

Saat sesuatu membuat saya kesal, ada satu pertanyaan stoik yang cukup berguna:

“Bagian mana dari masalah ini yang masih bisa saya kendalikan?”

Pertanyaan ini tidak langsung membuat hati damai.

Kadang hati masih tetap ingin mengamuk dan mengajukan banding.

Tetapi setidaknya pertanyaan itu mengarahkan tenaga ke tempat yang lebih masuk akal.

Kalau hujan turun, saya tidak bisa menghentikannya.

Saya bisa membawa payung.

Kalau orang tidak menyukai saya, saya tidak bisa memaksa mereka.

Saya bisa memeriksa apakah perilaku saya memang perlu diperbaiki.

Kalau masa lalu buruk, saya tidak bisa kembali ke sana.

Mesin waktu bahkan belum tersedia di toko elektronik.

Saya hanya bisa menentukan apakah kejadian itu akan terus mengatur keputusan saya hari ini.

Ini bukan jawaban untuk semua masalah.

Ada masalah yang rumit. Ada kehilangan yang tidak selesai hanya dengan mengubah pikiran. Ada keadaan yang memang membutuhkan bantuan, keberanian, uang, waktu, atau keputusan besar.

Tetapi memisahkan antara yang bisa dikendalikan dan yang tidak tetap dapat mengurangi penderitaan tambahan yang kita buat sendiri.

Kejadiannya mungkin sudah berat.

Jangan ditambah dengan berdebat melawan kenyataan selama dua puluh empat jam sehari.

Stoikisme Tidak Membuat Hidup Mudah, tetapi Membuat Kita Tidak Terlalu Ribut

Setelah memahami sedikit tentang stoikisme, saya tidak langsung menjadi manusia yang tenang.

Saya masih bisa kesal.

Masih khawatir.

Masih memikirkan komentar orang lebih lama daripada yang seharusnya.

Masih berharap antrean saya bergerak lebih cepat daripada antrean sebelah. Padahal hukum antrean sangat jelas: antrean yang kita pilih selalu terasa paling lambat.

Namun sekarang setidaknya saya lebih cepat sadar.

Kadang masalahnya bukan hanya apa yang terjadi.

Masalahnya adalah saya menuntut agar hal itu tidak boleh terjadi.

Padahal dunia tidak pernah menandatangani perjanjian untuk selalu mengikuti keinginan saya.

Stoikisme tidak menjanjikan kehidupan tanpa gangguan.

Ia hanya menawarkan cara agar kita tidak ikut menjadi gangguan tambahan bagi diri sendiri.

Kita tetap bisa kecewa tanpa menghancurkan semuanya.

Kita tetap bisa marah tanpa menyerahkan mulut kepada kemarahan.

Kita tetap bisa gagal tanpa langsung memutuskan bahwa seluruh hidup sudah selesai.

Mungkin itulah bentuk ketenangan yang lebih masuk akal.

Bukan wajah datar.

Bukan hati yang mati rasa.

Hanya kemampuan untuk berkata:

“Saya tidak menyukai keadaan ini. Tetapi saya akan melihat apa yang masih bisa saya lakukan.”

Setelah itu kita lanjut hidup.

Sambil sesekali mengeluh sedikit.

Karena kita sedang belajar menjadi stoik, bukan sedang mendaftar menjadi batu.