Jangan Sampai Tua Baru Sadar
Beberapa hari lalu saya tidak sengaja nguping pembicaraan senior saya di tempat kerja.
Nguping ini bukan hobi ya. Jangan salah paham dulu. Ini bukan bakat intelijen. Bukan juga karena saya punya cita-cita jadi CCTV berjalan.
Namanya juga di tempat kerja. Kadang telinga ini punya nasib sendiri. Badan memang lagi kerja, tapi kuping ikut rapat tanpa undangan.
Awalnya saya tidak terlalu mendengarkan. Biasa saja. Obrolan bapak-bapak senior, isinya kadang campuran antara kerjaan, rumah, anak, uang, masa lalu, dan keluhan yang kalau dikumpulkan bisa jadi serial Netflix tujuh musim.
Tapi saya mulai tertarik waktu salah satu bapak itu bilang kurang lebih begini.
“Ngapain susah kerja, toh masa pensiun saya lagi beberapa tahun.”
Nah.
Kalimat itu langsung bikin kuping saya yang tadinya mode hemat baterai jadi aktif lagi.
Kalimat yang Bikin Kuping Ikut Lembur
Bukan karena bapak itu sedang sakit. Bukan juga karena dokter memberi vonis macam-macam. Setahu saya beliau sehat-sehat saja. Masih bisa kerja. Masih bisa ngobrol. Masih bisa tertawa. Masih bisa mengeluh juga, berarti sistem tubuh masih normal.
Maksud beliau lebih ke begini: uangnya sudah cukup untuk masa tua. Jadi buat apa kerja terlalu keras lagi. Beliau ingin istirahat dari kerja dan fokus memperbaiki rumahnya.
Di satu sisi, saya paham.
Siapa sih yang tidak ingin sampai di titik itu? Punya cukup uang, tidak terlalu dikejar kerjaan, bisa urus rumah, bisa santai sedikit, tidak tiap pagi merasa seperti ayam dibangunkan alarm.
Enak juga kedengarannya.
Tapi di sisi lain, pikiran saya langsung usil.
Kenapa baru umur 50-an berpikir begitu?
Kenapa baru sekarang merasa ingin istirahat?
Kenapa baru sekarang ingin menikmati hidup?
Kenapa tidak dari dulu hidupnya diatur supaya tidak sampai tua baru merasa, “Aduh, saya capek juga ya jadi manusia.”
Saya Bukan Lebih Pintar, Cuma Kepikiran Saja
Ini bukan saya merasa lebih pintar dari beliau. Jauh.
Saya ini siapa? Masih sering mikir beli gorengan lima ribu dapat berapa. Masih sering kalah sama malas. Masih sering niat produktif tapi ujung-ujungnya scroll HP seperti sedang mencari wahyu dari langit, padahal yang muncul cuma video orang jualan skincare.
Tapi kalimat beliau itu memang mengganggu kepala saya.
Apalagi waktu beliau bilang lagi:
“Kapan saya bisa menikmati hidup kalau bukan sekarang?”
Nah, ini yang menurut saya agak aneh.
Saya langsung mikir, lho, berarti selama ini hidup beliau tidak dinikmati?
Dari muda sampai sekarang, masa semuanya cuma lewat begitu saja?
Bangun, kerja, pulang, capek, tidur, ulang lagi. Begitu terus sampai rambut mulai minta izin berubah warna.
Kalau benar begitu, wah, kasihan juga.
Tapi jangan-jangan kita semua juga begitu.
Kita Sering Menunda Menikmati Hidup
Kita sering berpikir menikmati hidup itu nanti.
Nanti kalau uang sudah cukup.
Nanti kalau rumah sudah jadi.
Nanti kalau anak sudah besar.
Nanti kalau cicilan sudah lunas.
Nanti kalau kerjaan sudah ringan.
Nanti kalau badan masih kuat, tapi anehnya “nanti” itu sering datang saat badan sudah mulai bunyi semua.
Berdiri bunyi “krek”.
Duduk bunyi “aduh”.
Tidur salah posisi, bangun seperti habis ikut pertandingan olimpiade gulat dengan kasur.
Kita ini kadang lucu.
Waktu muda, tenaga masih ada, tapi pikiran penuh mengejar sesuatu.
Waktu tua, pikiran mulai ingin santai, tapi badan sudah mulai tawar-menawar.
“Pak, lutut ikut libur ya.”
“Pinggang cuti setengah hari.”
“Mata minta mode zoom permanen.”
Akhirnya hidup yang katanya mau dinikmati malah dinikmati sambil pegang minyak kayu putih.
Masalahnya Bukan Berhenti Kerja
Bukan berarti salah ingin berhenti kerja di usia 50-an. Tidak salah sama sekali. Kalau memang mampu, ya bagus. Itu hasil kerja keras juga.
Yang saya pikirkan bukan berhentinya.
Tapi sadarnya kenapa baru sekarang.
Ini yang agak menampar pelan. Seperti ditepuk sandal jepit, tidak sakit sekali, tapi harga diri agak bunyi.
Kadang kita hidup seperti sedang menunggu izin untuk bahagia.
Padahal siapa yang melarang?
Tuhan memberi napas hari ini. Kita masih bisa makan. Masih bisa kerja. Masih bisa pulang. Masih bisa ngobrol. Masih bisa tertawa walau hidup kadang bercanda terlalu serius.
Tapi kita malah sering merasa hidup baru layak dinikmati kalau semuanya sudah rapi.
Padahal hidup tidak pernah benar-benar rapi.
Rumah rapi, dompet berantakan.
Dompet mulai rapi, badan minta servis.
Badan sehat, pikiran kusut.
Pikiran mulai tenang, tetangga renovasi rumah jam tujuh pagi.
Hidup memang begitu. Selalu ada saja bagian yang belum sempurna.
Kalau menunggu semua beres baru menikmati hidup, bisa-bisa kita keburu jadi foto hitam putih di ruang tamu.
Menikmati Hidup Bukan Berarti Rebahan Terus
Ini bukan berarti kita harus santai-santai saja dan tidak memikirkan masa depan.
Bukan begitu juga.
Nanti ada yang baca setengah lalu bilang, “Berarti Adi menyarankan kita rebahan saja.”
Waduh, jangan. Rebahan itu boleh. Tapi kalau hidup isinya rebahan terus, nanti bukan menikmati hidup, tapi latihan jadi fosil.
Yang saya maksud, mungkin kita perlu belajar menikmati hidup sambil tetap memperbaiki hidup.
Bukan menunggu selesai dulu baru bahagia.
Kerja boleh. Mengejar masa depan boleh. Nabung boleh. Bangun rumah boleh. Mendidik anak boleh. Capek juga boleh. Namanya hidup, bukan brosur villa pinggir pantai.
Tapi di sela semua itu, jangan lupa sadar bahwa hari ini juga bagian dari hidup.
Bukan cuma jembatan menuju masa depan.
Hari ini bukan ruang tunggu.
Hari ini juga hidupmu.
Hal Kecil yang Sering Kita Anggap Biasa
Kopi pagi itu hidup.
Anak ketawa itu hidup.
Bisa pulang dengan selamat itu hidup.
Makan sederhana tapi masih hangat itu hidup.
Bisa tidur tanpa dikejar debt collector itu juga nikmat yang kadang kita remehkan. Walau kalau dikejar mantan, itu beda urusan. Saya tidak ikut campur.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar “hidup yang layak” sampai lupa bahwa hidup yang sekarang pun sudah layak disyukuri.
Ini bukan kalimat motivasi yang ditempel di dinding kantor ya.
Saya juga masih belajar.
Masih sering lupa bersyukur.
Masih sering merasa kurang.
Masih sering lihat hidup orang lain lalu merasa hidup sendiri seperti paket hemat tanpa topping.
Padahal bisa jadi orang lain juga melihat hidup kita dan berpikir, “Enak ya dia.”
Begitulah manusia. Rumput tetangga selalu lebih hijau, mungkin karena kita lihat dari jauh. Kalau didekati, siapa tahu itu rumput sintetis.
Menikmati Hidup Itu Juga Perlu Latihan
Dari obrolan bapak senior itu, saya jadi kepikiran satu hal.
Jangan sampai kita baru sadar di umur 50-an bahwa hidup perlu dinikmati.
Jangan sampai kita baru sadar setelah badan lelah, waktu menipis, dan anak-anak mulai punya dunianya sendiri.
Jangan sampai semua umur produktif kita habis hanya untuk bertahan, lalu saat ingin menikmati hidup, kita baru belajar caranya.
Karena menikmati hidup itu juga perlu latihan.
Kalau dari muda kita tidak pernah belajar menikmati hal sederhana, nanti saat punya banyak waktu pun belum tentu bisa menikmatinya.
Orang yang terbiasa gelisah tidak otomatis tenang hanya karena pensiun.
Orang yang terbiasa merasa kurang tidak otomatis puas hanya karena tabungan cukup.
Orang yang terbiasa menunda bahagia tidak otomatis bahagia hanya karena kalender sudah menunjukkan usia tua.
Bahagia itu bukan cuma soal keadaan.
Sering kali itu juga soal kebiasaan melihat.
Kalau mata kita terlatih melihat kurang, hidup penuh pun terlihat kosong.
Kalau hati kita terlatih melihat nikmat, hidup sederhana pun masih terasa hangat.
Aduh, mulai agak bijak ini. Maaf ya. Kadang saya juga bisa khilaf jadi motivator dadakan. Tenang, sebentar lagi balik normal.
Kenapa Saya Tidak Nasihati Langsung?
Lalu kenapa saya tidak langsung saja menasihati bapak itu?
Kenapa malah bikin artikel begini?
Hehe.
Karena saya sadar diri.
Kalau saya nasihati langsung, besar kemungkinan beliau akan melihat saya dari atas ke bawah lalu berkata dalam hati, “Anak kemarin sore.”
Atau lebih parah, “Bau kencur.”
Padahal kencur itu sehat ya. Bisa buat jamu. Bisa buat batuk. Bisa buat menghangatkan badan. Tapi entah kenapa kalau dipakai untuk menyebut orang muda, kesannya seperti belum layak bicara.
Jadi saya diam saja.
Saya simpan di kepala.
Lalu saya tulis di sini.
Anggap saja ini bukan nasihat. Ini cuma curhatan dari orang yang tidak sengaja mendengar kalimat yang membuat pikirannya nyangkut.
Jangan Tunggu Tua untuk Sadar
Karena mungkin kita semua perlu diingatkan, termasuk saya sendiri.
Jangan menunggu tua untuk sadar bahwa hidup bukan cuma soal kerja.
Jangan menunggu capek parah untuk sadar bahwa istirahat itu penting.
Jangan menunggu kehilangan untuk sadar bahwa yang sederhana ternyata berharga.
Jangan menunggu punya segalanya untuk sadar bahwa banyak hal sudah Tuhan beri sejak dulu.
Mudah-mudahan Tuhan yang selama ini memberi kita nikmat tidak tersinggung karena kita sering lupa menikmati.
Dikasih napas, masih mengeluh.
Dikasih makan, masih membandingkan.
Dikasih keluarga, masih sibuk HP.
Dikasih sehat, malah dipakai begadang nonton video orang mancing ikan yang kita tidak kenal.
Ya Tuhan, sabar sekali Engkau melihat manusia model begini. Kalau saya jadi Tuhan, mungkin sudah saya mute grup WhatsApp bumi ini.
Untung Tuhan bukan saya.
Dan untungnya lagi, kita masih diberi kesempatan sadar hari ini.
Bukan nanti.
Bukan setelah tua.
Bukan setelah semuanya telat.
Jadi mungkin, mulai sekarang, kita bisa tetap bekerja, tetap berjuang, tetap memperbaiki hidup, tapi jangan lupa sesekali berhenti dan bilang:
“Oh iya, ini juga hidup saya.”
Bukan hidup nanti.
Bukan hidup setelah sukses.
Bukan hidup setelah semua cicilan lunas.
Ini hidup saya sekarang.
Dan ternyata, kalau dilihat pelan-pelan, tidak semuanya buruk.
Ada capeknya, iya.
Ada pusingnya, jelas.
Ada tagihannya, sudah pasti. Tagihan itu seperti mantan yang belum move on, rajin muncul pada waktunya.
Tapi ada juga nikmatnya.
Ada berkahnya.
Ada lucunya.
Ada hal-hal kecil yang sebenarnya indah, cuma sering kalah suara dengan ambisi dan keluhan.
Mungkin bapak senior saya benar soal satu hal.
Hidup memang perlu dinikmati sekarang.
Tapi semoga kita tidak baru menyadarinya setelah terlalu lama menunda.
Karena kalau bisa sadar lebih cepat, kenapa harus menunggu tua?
Lutut saja belum tentu mau diajak kompromi nanti.
