Kenapa Dana Darurat Terasa Tidak Pernah Cukup?
Saya punya target dana darurat sebesar enam bulan biaya hidup.
Secara teori, kedengarannya cukup masuk akal. Kalau suatu hari ada masalah, saya punya waktu enam bulan untuk bernapas. Tidak langsung panik. Tidak langsung melihat barang di rumah sambil berpikir, “Kulkas kalau dijual laku berapa, ya?”
Masalahnya, saya mulai curiga enam bulan itu nanti juga tidak akan membuat saya merasa aman.
Sekarang saja targetnya belum tercapai, saya sudah bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan kalau suatu hari berhasil mencapainya.
Saya akan menambah lagi.
Mungkin delapan bulan.
Lalu sepuluh.
Kalau sudah dua belas bulan, mungkin saya akan mulai berpikir, “Ya… tapi bagaimana kalau tahun depannya kacau juga?”
Begitulah. Garis finish-nya belum saya sentuh, panitianya sudah saya suruh pindah lebih jauh.
Saya Bisa Membeli, tetapi Rasanya Belum Tentu Boleh
Hal seperti ini terasa ketika saya ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Salah satu yang cukup jelas adalah Kindle. Sebenarnya ada uang di luar dana darurat dan tabungan yang memang tidak ingin saya ganggu.
Artinya secara sederhana: uangnya ada.
Tetapi saya tidak membelinya.
Uang tersebut akhirnya saya gunakan untuk membeli sepeda karena menurut saya manfaatnya lebih luas. Bukan hanya untuk saya sendiri.
Keputusan itu sendiri tidak salah. Saya juga tidak menyesal membeli sepeda.
Tetapi menariknya ada di pikiran sebelum keputusan itu dibuat.
Ketika barangnya untuk diri sendiri, uang yang tersedia belum otomatis terasa sebagai uang yang boleh digunakan.
Masih ada pertanyaan lain.
Bagaimana kalau nanti ada kebutuhan mendadak?
Bagaimana kalau setelah uang berkurang, sesuatu terjadi?
Bagaimana kalau dana darurat ternyata belum cukup?
Padahal pertanyaan “bagaimana kalau” ini mempunyai satu kemampuan luar biasa: jumlahnya tidak terbatas.
Kita bisa selesai menjawab satu, lalu muncul yang lain.
Seperti nyamuk malam hari. Yang satu sudah kena tepuk, dari pojokan terdengar temannya mengambil giliran.
Enam Bulan Biaya Hidup Tidak Bisa Menjamin Enam Bulan yang Tenang
Target saya enam bulan biaya hidup.
Tetapi kalau dipikir-pikir, angka enam bulan itu hanya bisa mengukur satu hal: berapa lama sejumlah uang bisa menanggung biaya hidup dengan asumsi tertentu.
Ia tidak bisa menjamin enam bulan berikutnya tidak membawa kejadian lain.
Ini yang membuat saya sulit mengatakan, “Nah, segini sudah cukup.”
Misalnya dana darurat sudah penuh. Lalu pada bulan kedua ada kebutuhan besar. Belum sempat dana tersebut dikumpulkan kembali, bulan berikutnya muncul kebutuhan lain.
Secara matematis mungkin target awal saya sudah benar.
Tetapi kehidupan tidak ikut spreadsheet saya.
Dia tidak melihat kolom “Dana Darurat: SUDAH CUKUP” lalu berkata, “Oh, baik Pak Adi. Kalau begitu masalahnya kami jadwalkan tahun depan saja.”
Apalagi saya orang Bali. Ada biaya upacara yang kadang tidak benar-benar bisa saya ramalkan jauh-jauh hari, terutama kalau menyangkut keluarga.
Kalau keadaan seperti itu datang, tentu saya akan menggunakan uang yang tersedia.
Dan pada saat itulah angka yang sebelumnya terasa besar bisa mendadak terasa kecil.
Jadi menurut saya, sebagian rasa “dana darurat belum cukup” memang masuk akal.
Kalau pendapatan belum stabil, tanggungan banyak, ada biaya keluarga yang sulit diprediksi, atau memang cadangannya masih kecil dibandingkan kebutuhan hidup, rasa belum aman bukan berarti kita terlalu cemas.
Bisa saja memang belum aman.
Masalahnya menjadi lebih rumit ketika jumlah uang terus bertambah, tetapi definisi “cukup” tidak pernah ikut dibuat.
Mungkin yang Saya Cari Bukan Angka, tetapi Kepastian
Ini bagian yang agak tidak enak saya akui.
Saya mungkin tidak hanya sedang berusaha mempunyai dana darurat yang cukup.
Saya juga sedang berusaha mempunyai dana yang bisa membuat saya yakin tidak akan kesulitan apa pun yang terjadi.
Dan kemungkinan besar angka seperti itu memang tidak ada.
Karena saya sendiri tadi sudah menjawabnya: kita tidak tahu berapa dana yang diperlukan untuk keadaan darurat.
Kalau saya benar-benar mengikuti semua kemungkinan buruk yang bisa saya bayangkan, tidak ada angka yang bisa menang.
Enam bulan bisa kurang.
Dua belas bulan juga bisa kurang.
Dua tahun mungkin terasa aman sampai otak saya menemukan skenario baru yang belum masuk daftar.
Bukan berarti saya harus berhenti menambah dana darurat. Saya tetap ingin mencapai target enam bulan biaya hidup. Setelah itu mungkin memang masuk akal untuk terus memperkuat cadangan.
Tetapi sekarang saya melihat ada dua pertanyaan yang berbeda.
Yang pertama: apakah dana yang saya punya cukup untuk risiko yang memang nyata dalam kehidupan saya?
Yang kedua: apakah saya baru akan merasa cukup kalau uang tersebut mampu melindungi saya dari hampir semua kemungkinan?
Yang kedua ini sulit sekali selesai.
Karena masalahnya bukan lagi jumlah uang. Masalahnya saya sedang meminta uang memberikan kepastian tentang masa depan.
Padahal uang bisa memberi ruang bernapas, pilihan, dan perlindungan.
Tetapi uang tidak bisa menandatangani surat perjanjian bahwa enam bulan ke depan tidak akan ada kejadian aneh.
Saya masih ingin dana darurat saya lebih besar.
Saya juga masih mungkin menunda beberapa pembelian karena merasa cadangan belum cukup. Itu bagian dari cara saya menjaga keluarga dan kondisi keuangan saya.
Tetapi setidaknya sekarang ada satu hal yang ingin saya perhatikan.
Kalau suatu hari target enam bulan itu tercapai lalu saya langsung memindahkan garis “aman” lebih jauh tanpa alasan yang jelas, mungkin saya perlu bertanya lagi: yang sedang kurang sebenarnya dana darurat saya, atau kepastian yang memang tidak pernah bisa saya beli?
