Kalau Pengeluarannya Sudah Kita Tahu Akan Datang, Apakah Masih Bisa Disebut Darurat?
Dulu kalau ada biaya sekolah anak yang harus dibayar, saya biasanya mengambil uang dari tabungan yang berasal dari gaji bulan sebelumnya.
Sebenarnya biaya sekolah anak bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Saya tahu anak saya sekolah. Saya juga tahu akan ada biaya yang harus dibayar.
Masalahnya waktu itu saya tidak berpikir bahwa akan ada pengeluaran tahunan. 😅
Jadi ketika waktunya membayar datang, rasanya seperti ada pengeluaran besar yang mendadak muncul. Padahal kalau dipikir sekarang, yang mendadak bukan pengeluarannya. Saya saja yang belum menyiapkan tempat untuk uangnya.
Kalender sudah tahu. Sekolah mungkin juga sudah tahu. Cuma rekening saya yang belum dikasih tahu.
Nominal besar tidak otomatis berarti darurat
Saya mulai melihat ada perbedaan sederhana antara pengeluaran yang memang tidak saya tahu akan terjadi dengan pengeluaran yang sebenarnya sudah saya tahu akan datang.
Misalnya pajak kendaraan. Saya tahu kendaraan saya akan kena pajak lagi. Bahkan tanggalnya bisa dilihat jauh-jauh hari.
Biaya sekolah anak juga kurang lebih begitu. Mungkin nominal akhirnya bisa berubah, tetapi kebutuhannya sendiri bukan sesuatu yang benar-benar datang dari kegelapan.
Ini berbeda dengan keadaan yang memang sulit diprediksi.
Masalahnya, kalau uang untuk pengeluaran yang sudah diketahui belum disiapkan, keduanya bisa terasa sama. Sama-sama membutuhkan uang dalam jumlah lumayan. Sama-sama membuat kita melihat saldo. Sama-sama bisa membuat kepala mulai menghitung ke sana kemari.
Makanya saya dulu tidak terlalu memikirkan perbedaannya. Selama ada tabungan dari gaji bulan lalu, ya uang itu yang dipakai.
Sekarang saya mulai merasa fungsi uangnya perlu dibuat sedikit lebih jelas.
Saya mulai memberi tempat untuk uang yang sudah punya pekerjaan
Sekarang ketika gaji masuk, saya langsung mentransfer sebagian uang ke kantong masing-masing untuk kebutuhan yang memang sudah saya ketahui.
Bukan berarti saya membuat kantong untuk setiap kemungkinan hidup. Kalau begitu nanti aplikasi bank saya isinya lebih banyak nama kantong daripada uangnya. 🤣
Saya hanya mencoba memisahkan beberapa kebutuhan yang memang sudah cukup jelas akan datang.
Dalam istilah keuangan, uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk kebutuhan tertentu di masa depan sering disebut sinking fund. Bagi saya, istilahnya tidak terlalu penting. Saya lebih mudah memahaminya sebagai uang yang memang sudah punya pekerjaan.
Kalau saya tahu nanti ada kebutuhan tertentu, saya bisa menyisihkannya sejak awal daripada menunggu tagihannya datang lalu mengambil uang dari mana saja yang masih tersedia.
Saya pernah membahas bagaimana pengeluaran tahunan tetap bisa terasa berat walaupun kita tahu akan datang. Buat saya, memisahkan uang sedikit demi sedikit membantu mengurangi rasa berat itu. Tetapi belakangan saya melihat ada manfaat lain: dana darurat juga jadi tidak harus menanggung semua hal yang sebenarnya sudah bisa saya perkirakan.
Dana darurat jadi lebih jelas fungsinya
Saya tidak menganggap dana darurat sebagai uang yang sama sekali tidak boleh disentuh.
Kalau suatu saat uang dalam kantong tertentu ternyata kurang, sementara kebutuhan memang harus dibayar, saya tetap akan mengambil dana darurat seperlunya sesuai kebutuhan saat itu.
Hidup tidak selalu bisa mengikuti angka yang sudah kita susun. Biaya bisa berubah. Penghasilan bisa terganggu. Bisa juga ada beberapa kebutuhan datang berdekatan. Spreadsheet mungkin bilang semuanya aman, kehidupan kadang punya pendapat sendiri.
Jadi bagi saya masalahnya bukan membuat aturan bahwa dana darurat haram dipakai untuk pengeluaran yang sudah diketahui.
Yang lebih penting adalah sebisa mungkin saya tidak menjadikan dana darurat sebagai kantong serba guna.
Karena kalau biaya sekolah, pajak kendaraan, kebutuhan tahunan, dan semua pengeluaran besar lainnya selalu mengambil dari dana darurat, saya sendiri akhirnya sulit menjawab pertanyaan sederhana: sebenarnya berapa dana yang saya punya kalau sesuatu yang benar-benar tidak saya rencanakan terjadi?
Mungkin ini juga salah satu alasan dana darurat terasa tidak pernah cukup. Bukan selalu karena jumlahnya terlalu kecil, tetapi bisa juga karena terlalu banyak pekerjaan yang kita berikan kepadanya.
Yang berubah justru pengeluaran sehari-hari terasa lebih tenang
Anehnya, setelah uang untuk beberapa kebutuhan saya pisahkan sejak awal, yang paling terasa justru bukan saat membayar kebutuhan besar.
Saya malah lebih tenang ketika menggunakan uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebab ketika gaji masuk, sebagian sudah langsung saya transfer ke kantong masing-masing. Saldo yang tersisa menjadi lebih dekat dengan uang yang memang bisa saya gunakan untuk menjalani bulan tersebut.
Ini juga yang membuat saya merasa lebih tenang kalau uang untuk kebutuhan sudah dipisahkan sejak awal. Saya tidak perlu terus melihat saldo lalu bertanya, “Ini sebenarnya boleh dipakai atau nanti ada yang nagih?”
Dulu tabungan dari gaji bulan lalu bisa terlihat seperti uang yang masih tersedia. Sampai biaya sekolah datang dan mengingatkan bahwa ternyata uang itu sudah punya calon pemilik. Saya saja yang belum mencatat namanya. 😅
Sekarang saya mencoba membedakan dua hal sederhana.
Ada kejadian yang memang saya tidak tahu akan terjadi. Untuk hal seperti itulah saya ingin dana darurat tetap tersedia sebanyak mungkin.
Lalu ada pengeluaran yang saya tahu akan datang, hanya saja tanggal atau nominalnya mungkin belum selalu tepat. Kalau masih punya waktu untuk menyiapkannya, saya lebih memilih memberi uang itu tempat sendiri sedikit demi sedikit.
Tentu saya belum bisa membuat semuanya sempurna. Kalau suatu hari kantongnya kurang dan dana darurat memang dibutuhkan, ya saya pakai seperlunya.
Tapi setidaknya sekarang saya mulai sadar: kadang sesuatu terasa darurat bukan karena datang tanpa peringatan, melainkan karena saya tahu akan datang tetapi belum menyiapkan uangnya.pengeluaran tahunan
