Kenapa Pengeluaran Tahunan Tetap Terasa Berat Padahal Kita Tahu Akan Datang?
Saya tahu pajak kendaraan akan datang.
Bukan cuma tahu tahunnya. Kurang lebih saya juga tahu kapan harus membayar dan berapa uang yang perlu disiapkan. Untuk kendaraan saya, kira-kira sekitar Rp1 juta.
Begitu juga dengan beberapa pengeluaran lain. Ada kebutuhan sekolah anak yang bisa sekitar Rp1,5 juta. Ada juga kebutuhan upacara yang kira-kira Rp2 jutaan.
Jadi sebenarnya tidak ada yang benar-benar muncul mendadak.
Pajak kendaraan bahkan termasuk pengeluaran yang sangat sopan. Tanggal kedatangannya sudah diberi tahu jauh-jauh hari. Tidak seperti motor tiba-tiba rusak pagi-pagi ketika saya mau berangkat kerja.
Masalahnya, dulu saya tahu pengeluaran itu akan datang, tetapi saya belum tentu sudah menyediakan uangnya.
Tahu akan datang ternyata berbeda dengan uangnya sudah ada
Dulu cara berpikir saya cukup sederhana. Nanti kalau waktunya bayar pajak kendaraan, ya saya gunakan uang gaji bulan tersebut.
Secara teori memang bisa.
Masalahnya, gaji pada bulan itu bukan pegawai khusus pajak kendaraan. Dia masih harus mengurus kebutuhan rumah, pengeluaran sehari-hari, sekolah anak, dan berbagai kebutuhan lain yang kebetulan tetap jalan seperti biasa.
Jadi ketika Rp1 juta harus keluar sekaligus, rasanya tetap berat.
Bukan karena pajaknya tiba-tiba menjadi lebih mahal. Bukan juga karena saya tidak tahu pajak itu akan datang. Saya hanya belum memberikan tempat untuk uangnya sejak bulan-bulan sebelumnya.
Untuk kebutuhan upacara sebenarnya saya sudah melakukan sesuatu yang mirip. Saya menabung di BPD dan uang tersebut akan ditarik setiap enam bulan. Artinya, tanpa saya sadari, saya sudah pernah memakai sistem mempersiapkan pengeluaran dari jauh hari.
Hanya saja waktu itu saya belum menerapkannya ke pengeluaran lain.
Sekarang membuat pemisahan seperti itu jauh lebih mudah karena saya menggunakan bank online. Saya bisa membuat beberapa kantong untuk kebutuhan yang berbeda, lalu mengisinya setiap awal bulan ketika gaji masuk.
Saya sekarang lebih suka mencicil kepada diri sendiri
Untuk pengeluaran tahunan yang memang sudah pasti, sekarang saya lebih suka mempersiapkannya sedikit demi sedikit.
Pajak kendaraan misalnya.
Kalau setahun nanti saya membutuhkan sekitar Rp1 juta, sebenarnya saya bisa melihatnya dengan dua cara. Saya bisa menganggap itu sebagai pengeluaran Rp1 juta pada bulan pembayaran.
Atau saya bisa melihatnya sebagai pengeluaran yang sebenarnya sudah terbentuk sedikit demi sedikit selama setahun.
Kalau dibagi 12 bulan, Rp1 juta itu sekitar Rp83 ribuan per bulan.
Angkanya tetap sama. Pajaknya juga tidak menjadi lebih murah hanya karena saya membaginya dengan kalkulator. Sayangnya kantor pajak juga tidak memberi penghargaan karena saya merasa lebih terorganisir.
Yang berubah adalah beban pada bulan pembayarannya.
Hal yang sama bisa saya lakukan untuk kebutuhan sekolah anak dan kebutuhan upacara. Sekarang saya mempunyai kantong-kantong di bank online dan mengisinya pada awal bulan setelah menerima gaji.
Saya seperti mencicil tagihan kepada diri sendiri sebelum orang lain datang menagih.
Dalam pengelolaan uang, cara seperti ini sering disebut sinking fund: menyisihkan uang secara berkala untuk pengeluaran tertentu yang sudah diperkirakan akan datang. Buat saya, istilahnya tidak terlalu penting. Saya lebih gampang memahaminya sebagai menyediakan uangnya sebelum waktunya bayar.
Tapi semakin banyak kantong, uang yang bisa dipakai memang semakin sedikit
Ada bagian yang menurut saya tidak bisa diabaikan.
Kalau pajak kendaraan dibuatkan kantong, sekolah anak dibuatkan kantong, upacara dibuatkan kantong, dana darurat dipisahkan, lalu kebutuhan lain juga mempunyai tempat masing-masing, saldo yang benar-benar bisa saya gunakan sehari-hari tentu menjadi lebih kecil.
Dan jumlah uang yang tersisa untuk saya gunakan setiap bulan juga tidak selalu sama.
Ini bisa terasa agak aneh.
Gaji baru saja masuk. Secara angka mungkin terlihat lumayan. Setelah uang dipindahkan ke berbagai kantong, tiba-tiba bagian yang boleh dipakai tidak sebanyak yang terlihat beberapa menit sebelumnya.
Tetapi justru bagian itu yang sekarang saya anggap penting.
Saya harus melatih diri mengatur uang berdasarkan jumlah yang memang tersedia untuk digunakan, bukan berdasarkan seluruh saldo yang kebetulan terlihat di rekening.
Meski begitu, saya juga tidak merasa semua pengeluaran masa depan harus dibuatkan kantong sendiri. Kalau semuanya dipisahkan sampai hal kecil pun mempunyai rekening khusus, saya mungkin malah membutuhkan daftar isi untuk membuka aplikasi bank.
Buat saya, yang paling masuk akal dipisahkan adalah pengeluaran yang sudah cukup pasti akan datang dan nominalnya cukup besar sehingga kalau dibayar sekaligus bisa membuat bulan tersebut terasa sempit.
Pajak kendaraan bukan keadaan darurat
Ada satu hal lain yang sekarang terasa lebih jelas bagi saya.
Pajak kendaraan bukan dana darurat.
Biaya sekolah tertentu yang sudah diketahui juga bukan keadaan darurat. Begitu juga kebutuhan upacara yang memang sudah bisa diperkirakan.
Dana darurat tetap saya pisahkan, tetapi fungsinya berbeda. Dana itu untuk menghadapi sesuatu yang memang tidak bisa saya prediksi dengan baik. Sedangkan pengeluaran tahunan seperti pajak kendaraan sudah memberi tanda dari jauh-jauh hari bahwa dia akan datang.
Kalau semua pembayaran besar saya ambil dari dana darurat hanya karena nominalnya terasa berat, lama-lama saya sendiri yang membuat arti “darurat” menjadi terlalu luas.
Saya juga tidak berpikir semua orang harus memakai cara yang sama. Kalau pemasukan seseorang cukup besar dan stabil sehingga membayar Rp1 juta atau Rp2 juta sekaligus tidak mengganggu kebutuhan bulan tersebut, mungkin membuat banyak kantong justru tidak perlu.
Buat saya, pemisahan ini berguna karena membuat pengeluaran besar tidak bertumpuk pada satu gaji.
Dan mungkin itu yang dulu kurang saya sadari.
Saya menganggap pajak Rp1 juta sebagai beban pada bulan ketika saya membayarnya. Padahal kewajiban itu sudah ada jauh sebelum bulan tersebut datang.
Sekarang kalau ada pengeluaran tahunan yang sudah pasti, saya lebih suka memberi waktu kepada diri sendiri untuk mengumpulkan uangnya.
Karena kalau tanggalnya sudah diketahui sejak lama, rasanya agak tidak adil juga kalau ketika hari pembayaran datang saya masih menatap tagihannya seperti, “Lho, kok kamu datang?”
