Kenapa Saya Lebih Mudah Mengatur Uang Kalau Saldo yang Bisa Dipakai Tidak Terlihat Besar?

Daftar Isi

Sekarang saya sengaja membuat rekening yang saya pakai sehari-hari terlihat lebih miskin.

Bukan karena uang saya tiba-tiba hilang. Sebagian cuma saya pindahkan ke beberapa kantong di bank online. Ada yang memang sudah punya tujuan, ada tabungan, ada juga dana darurat yang sebisa mungkin ingin saya lupakan keberadaannya.

Setelah gaji masuk dan uang dipisah-pisahkan, saya menetapkan satu akun sebagai batas pengeluaran yang boleh saya pakai dalam bulan tersebut.

Kalau saldonya tinggal segitu, ya segitulah yang saya lihat.

Sebisa mungkin malah masih ada sisa. Hehe.

Padahal kalau saya mau sedikit rajin membuka kantong satu per satu lalu menghitung semuanya, uang saya tentu lebih banyak daripada angka yang terlihat di rekening utama. Tapi justru saya merasa tidak perlu melihat semuanya setiap kali mau mengeluarkan uang.

Ilustrasi saldo rekening utama yang kecil dengan beberapa kantong tabungan terpisah di belakangnya.

Dulu saldo besar membuat semua uang terlihat seperti tersedia

Sebelum memakai sistem seperti sekarang, uang yang saya punya lebih banyak terlihat dalam satu tempat. Masalahnya, satu angka besar tidak menjelaskan uang itu sebenarnya untuk apa.

Saya pernah membeli sebuah tablet karena berpikir barang itu akan membantu saya membuat konten. Alasannya juga masuk akal bagi saya. Di rumah sekarang ada anak-anak. Menghidupkan PC tidak selalu praktis karena ya... namanya juga ada anak-anak. Barang yang menyala, layar besar, bapaknya duduk tenang di depan komputer. Itu seperti undangan terbuka. 🤣

Jadi tablet terasa seperti solusi.

Sebenarnya pembelian itu tidak sampai membuat kebutuhan lain tidak ter-cover. Bukan itu masalahnya.

Yang lebih terasa justru setelah membeli, saya melihat saldo berkurang cukup banyak.

Perasaan itu membuat saya sadar bahwa selama uang masih terlihat sebagai satu saldo besar, saya lebih mudah merasa punya ruang untuk membeli sesuatu. Baru setelah angkanya turun, efek pengeluarannya terasa lebih nyata.

Sekarang saya mencoba membalik urutannya.

Bukan membeli dulu lalu melihat saldo mengecil. Uangnya saya kecilkan dulu sampai yang terlihat memang hanya bagian yang boleh saya gunakan.

Saya tidak perlu melihat semua uang setiap kali mau membeli sesuatu

Setelah gaji masuk, sebagian uang langsung pergi ke kantong masing-masing. Akibatnya saldo rekening yang saya gunakan sehari-hari memang tidak terlihat mengesankan.

Dan ternyata saya malah suka begitu.

Karena saya sudah menetapkan bahwa uang di rekening itulah batas pengeluaran bulan tersebut. Uang di kantong lain secara teknis masih milik saya, tetapi di kepala saya sudah bukan uang belanja.

Dalam behavioral economics ada konsep yang disebut mental accounting. Sederhananya, orang cenderung membagi uang ke dalam kategori atau “akun” mental berdasarkan tujuan tertentu. Secara matematis uangnya tetap uang, tetapi cara kita memberi label pada uang bisa memengaruhi cara kita memperlakukannya.

Saya rasa sistem kantong yang saya pakai bekerja kurang lebih seperti itu, hanya saja saya membuat pembagiannya benar-benar terlihat.

Uang untuk sesuatu tidak lagi bercampur dengan uang yang boleh saya pakai hari ini.

Jadi ketika mau membeli sesuatu, informasi pertama yang saya lihat bukan, “Berapa total uang yang saya punya?”

Melainkan, “Berapa uang yang memang saya izinkan untuk dipakai bulan ini?”

Buat saya, dua pertanyaan itu menghasilkan perasaan yang cukup berbeda.

Efek sampingnya: saya bisa menjadi terlalu hati-hati

Tentu sistem ini tidak otomatis membuat keputusan saya selalu lebih bagus.

Sekarang kalau mau mengeluarkan uang di luar kebutuhan rutin, saya benar-benar bisa berpikir dua kali. Kadang saya menunda sampai merasa aman. Kadang malah membuat kantong baru supaya uangnya dikumpulkan dulu.

Bahkan untuk urusan seperti Samsat atau menaikkan daya listrik, saya bisa menunda karena takut biaya bulanan nanti tidak ter-cover.

Kalau dipikir-pikir, ini juga menunjukkan kelemahan sistem saya.

Saldo kecil memang membuat saya lebih berhati-hati, tetapi kehati-hatian itu bisa kelewatan. Padahal mungkin kalau semua uang dihitung, saya sebenarnya mampu membayar sesuatu.

Hanya saja saya lebih nyaman menunggu daripada mengeluarkan uang sekarang lalu beberapa minggu kemudian berpikir, “Wah, coba saja jangan dulu dipakai.”

Saya lebih tidak suka penyesalan yang datang belakangan daripada sedikit repot menunggu di depan.

Dan saya rasa di sinilah bedanya antara sistem yang membantu dengan sekadar membuat diri sendiri merasa terkendali. Saldo yang kecil bukan bukti bahwa keputusan saya pasti benar. Saya tetap perlu tahu kondisi keuangan secara keseluruhan.

Orang lain mungkin justru lebih nyaman memakai satu rekening dan mencatat semuanya dengan rapi. Kalau pencatatannya berjalan dan orang tersebut tahu persis mana uang yang boleh dipakai, mungkin tidak ada alasan membuat lima atau enam kantong seperti saya.

Saya sendiri sekarang punya sekitar lima sampai enam kantong.

Kalau ditanya total uang saya persis berapa tanpa membuka aplikasi, mungkin saya harus diam sebentar, melihat ke atas, lalu mulai meraba-raba angkanya di kepala. 😅

Itu harga kecil dari sistem ini: gambaran total uang memang tidak langsung terlihat dalam satu angka.

Ada uang yang memang ingin saya lupakan

Lucunya, untuk beberapa kantong, tidak terlalu terlihat justru merupakan tujuan saya.

Terutama dana darurat.

Saya memang ingin bisa melupakan uang itu ada.

Bukan lupa dalam arti benar-benar tidak tahu punya uang di mana. Saya masih bisa meraba totalnya kalau dipikirkan pelan-pelan. Tetapi saya tidak ingin dana darurat ikut hadir setiap kali saya melihat barang dan mulai berhitung.

Kalau setiap mau membeli sesuatu saya selalu melihat seluruh uang yang saya punya, batas antara “saya punya uang” dan “uang ini boleh dipakai” menjadi terlalu tipis.

Padahal menurut saya itu dua hal yang berbeda.

Karena itulah sekarang saya tidak terlalu keberatan melihat saldo rekening utama yang lebih kecil. Angka itu memang tidak menggambarkan seluruh uang yang saya punya. Memang bukan itu tugasnya.

Tugasnya hanya memberi tahu saya berapa banyak yang boleh saya gunakan.

Sistem ini mungkin membuat saya sesekali terlalu hati-hati. Saya juga harus memastikan jangan sampai banyaknya kantong membuat saya merasa semuanya aman, padahal kondisi keuangan secara keseluruhan belum tentu demikian.

Tapi untuk keputusan sehari-hari, saya lebih suka melihat angka yang sedikit lebih menyedihkan tetapi jujur daripada angka besar yang membuat semua uang seolah-olah sedang bebas tugas.

Kadang uang yang sudah punya pekerjaan memang lebih baik tidak kelihatan sedang nganggur. 🤣