Kenapa Saya Lebih Tenang Kalau Ada Batas Uang yang Memang Boleh Dihabiskan?
Saya punya satu rekening yang saya anggap sebagai batas pengeluaran bulanan.
Uang di sana memang boleh dipakai. Untuk kebutuhan sehari-hari, makan di luar, membeli barang yang saya inginkan, atau pengeluaran pribadi lain yang biasanya tidak masuk pengeluaran tetap.
Secara aturan sebenarnya sederhana: selama uangnya masih ada, berarti masih boleh digunakan.
Masalahnya, otak saya kadang tidak membaca aturan itu.
Misalnya saya ingin membeli TWS atau Kindle. Uangnya mungkin ada. Kebutuhan lain sudah saya pisahkan. Secara sistem sebenarnya tidak ada yang sedang saya rampok.
Tapi tetap muncul pikiran:
Kalau nanti ada kebutuhan mendadak bagaimana?
Lalu lanjutannya sudah bisa ditebak: kalau kebutuhan mendadak itu benar-benar datang, saya pasti menyesal sudah membeli barang tadi.
Jadi ternyata punya uang yang boleh dipakai tidak otomatis membuat saya santai memakainya.
Saya Butuh Batas, Bukan Sekadar Saldo
Dulu saya lebih melihat uang dari total saldo. Masalahnya, saldo yang terlihat besar tidak memberi tahu saya berapa yang sebenarnya aman digunakan.
Sekarang saya lebih suka memisahkan uang terlebih dahulu. Ada uang yang memang punya tugas sendiri dan tidak saya anggap tersedia. Setelah itu, barulah ada bagian yang menjadi uang operasional selama sebulan.
Buat saya, perbedaan ini lumayan besar.
Sebab batas pengeluaran bulanan bukan cuma mengatakan, “Jangan lebih dari sini.”
Ia juga mengatakan, “Sampai sini sebenarnya masih boleh.”
Ini berbeda dengan sekadar melihat saldo yang bisa dipakai tidak terlihat besar. Saldo kecil membantu saya secara visual. Sementara batas pengeluaran memberi saya aturan: uang inilah yang memang disediakan untuk menjalani bulan tersebut.
Termasuk untuk pengeluaran yang tidak selalu bisa saya masukkan ke daftar sejak awal.
Makan di luar, misalnya. Atau membeli sesuatu yang saya inginkan.
Tentu “boleh” bukan berarti “harus”. Kalau saya menyediakan sejumlah uang untuk pengeluaran bulan ini, bukan berarti pada tanggal 30 saya harus mencari cara supaya saldonya menjadi nol. Itu bukan budget. Itu seperti sedang mengejar target penjualan, tetapi produknya adalah uang saya sendiri. 🤣
Lucunya, Izin dari Sistem Belum Tentu Disetujui Kepala
Bagian ini yang menurut saya agak aneh.
Saya sudah membuat aturan sendiri. Saya sendiri yang memisahkan uang. Saya sendiri yang menentukan rekening mana yang boleh digunakan.
Tapi ketika mau membeli sesuatu, saya sendiri juga yang curiga dengan aturan tersebut.
TWS dan Kindle tadi contohnya.
Pertimbangannya bukan semata-mata apakah uangnya cukup. Saya membayangkan sesuatu yang belum terjadi: bagaimana kalau beberapa hari lagi ada kebutuhan mendadak?
Kalau itu terjadi, barang yang sekarang terlihat menyenangkan bisa langsung berubah menjadi barang bukti keputusan yang saya sesali.
Saya rasa di sinilah batas pengeluaran membantu, tetapi tidak menyelesaikan semuanya.
Setidaknya saya punya angka konkret untuk melihat posisi saya. Namun rasa aman saya rupanya tidak hanya ditentukan oleh angka. Ada juga ketakutan terhadap kejadian yang belum diketahui.
Dan mungkin itu sebabnya saya tetap ingin ada sisa.
Kalau akhir bulan masih ada uang di rekening tersebut, biasanya saya tidak langsung memindahkannya. Saya biarkan beberapa hari. Setelah itu baru saya pikirkan apakah akan dipindahkan ke kantong lain atau dibiarkan saja di rekening untuk keperluan bulanan.
Saya tidak merasa uang yang boleh dipakai harus dihabiskan.
Bagi saya, batas itu lebih mirip batas maksimal daripada jatah yang harus dituntaskan.
Minggu Terakhir Bisa Mengubah Tingkah Saya
Sistem ini paling terasa ketika masuk minggu terakhir.
Kalau saldo masih cukup, hidup berjalan normal.
Tapi kalau sudah tinggal ratusan ribu, perilaku saya mulai berubah.
Otak mulai mencari makanan yang lebih murah.
Biasanya isi bensin penuh, sekarang Rp20.000 atau Rp25.000 dulu.
Biasanya membeli barang 10, sekarang beli 5.
Lucunya, tidak ada petugas bank yang menelepon dan menyuruh saya begitu. Tidak ada juga alarm yang berbunyi karena saldo memasuki wilayah berbahaya.
Saya sendiri yang otomatis menyesuaikan.
Dan justru bagian ini yang membuat saya merasa batas pengeluaran cukup berguna.
Saya tidak perlu memikirkan setiap transaksi dari nol. Saya tinggal melihat posisi uang yang memang boleh digunakan. Kalau masih cukup banyak, saya punya ruang. Kalau sudah menipis, perilaku saya ikut mengerem.
Tentu batas seperti ini bisa salah juga.
Kalau saya menentukan jumlah terlalu kecil dibanding kebutuhan nyata, saya mungkin akan terus melanggarnya. Kalau terlalu besar, batasnya tidak banyak berguna. Dan kalau saya menganggap semua uang yang sudah dianggarkan wajib dihabiskan, saya malah menciptakan alasan baru untuk belanja.
Jadi bagi saya, angka tersebut bukan perintah untuk menghabiskan uang. Ia cuma memberi tahu seberapa jauh saya boleh berjalan.
Budget Ternyata Bukan Cuma Soal Melarang
Sebelumnya saya lebih mudah memahami sistem keuangan dari sisi uang yang tidak boleh disentuh.
Ini untuk tabungan. Jangan dipakai.
Ini untuk kebutuhan tertentu. Jangan dipakai.
Ini untuk dana darurat. Kalau tidak darurat, ya jangan kreatif mencari alasan supaya kelihatannya darurat.
Tapi setelah uang-uang itu dipisahkan, ternyata saya juga membutuhkan satu jawaban lain: lalu berapa yang memang boleh saya gunakan?
Tanpa jawaban itu, semua pengeluaran bisa terasa salah.
Padahal uang memang ada yang tugasnya disimpan, tetapi ada juga yang tugasnya membayar bensin, makan, kebutuhan sehari-hari, dan sesekali sesuatu yang saya inginkan.
Saya sendiri masih belum sepenuhnya santai dengan bagian terakhir itu. Bahkan ketika sistem sudah bilang boleh, kepala saya kadang masih bertanya, “Yakin nih?”
Mungkin itu tidak masalah.
Setidaknya sekarang saya tidak hanya punya aturan tentang uang mana yang tidak boleh saya sentuh. Saya juga punya batas tentang uang mana yang memang boleh digunakan.
Dan kalau akhir bulan masih tersisa, ya lebih bagus.
Garis batasnya dibuat supaya saya tahu kapan harus berhenti, bukan supaya saya wajib berlari sampai menyentuh garis itu.
