Kenapa Kita Takut Mengeluarkan Uang Padahal Sebenarnya Mampu?

Daftar Isi

Sebelum membeli sepeda, saya sudah menghitung semuanya. Uangnya ada. Kebutuhan bulan itu tidak terganggu. Sepedanya juga bukan barang yang tiba-tiba muncul di marketplace jam sebelas malam lalu saya merasa hidup saya akan berubah kalau memilikinya.

Saya memang membutuhkan sepeda itu.

Tetapi tetap saja berat mengeluarkan uangnya.

Ilustrasi seseorang ragu membeli sepeda meskipun uang untuk membelinya tersedia.

Yang ada di kepala saya bukan cuma, “Sepedanya bagus atau tidak?” Pikiran saya sudah pergi lebih jauh: bagaimana kalau setelah uang ini keluar tiba-tiba ada kebutuhan lain? Bagaimana kalau sepedanya ternyata tidak cocok untuk ibu? Bagaimana kalau bahannya tidak kuat? Bagaimana kalau akhirnya jarang dipakai?

Hebat juga otak kalau sedang menjaga uang. Sepedanya belum datang, tapi masalahnya sudah dibuat sampai beberapa episode.

Padahal secara hitungan saya mampu.

Pengalaman memilih sepeda sampai berhari-hari ini pernah saya ceritakan dalam Memilih Sepeda Berhari-hari, Padahal yang Saya Cari Bukan Cuma Sepeda. Tetapi setelah sepeda itu akhirnya saya beli, saya malah kepikiran hal lain.

Mungkin selama ini yang saya takutkan bukan membeli barang.

Mungkin saya takut kehilangan rasa aman setelah uangnya keluar.

Uangnya Ada, tetapi Rasanya Belum Tentu Aman

Ini yang agak membingungkan.

Kalau uang memang tidak ada, tentu saja tidak membeli adalah keputusan yang sangat masuk akal. Tidak perlu memanggil psikologi segala. Saldo sudah memberikan penjelasan yang cukup lengkap.

Tetapi waktu membeli sepeda itu kondisinya berbeda. Uangnya memang ada dan kebutuhan bulan tersebut sudah saya pikirkan.

Masalahnya, setelah uang keluar, jumlah uang yang saya punya tentu berkurang. Dan angka yang lebih kecil itu berarti ruang untuk menghadapi sesuatu yang belum saya ketahui juga ikut mengecil.

Ilustrasi uang yang terasa seperti perlindungan dari kebutuhan mendadak meskipun sebenarnya tersedia untuk membeli sepeda.

Yang paling sering muncul di kepala saya adalah kebutuhan mendadak.

Kalau ternyata ada sesuatu yang membutuhkan uang, mungkin saya harus mengambil dari dana darurat.

Secara fungsi, ya memang begitulah dana darurat. Namanya juga darurat. Tetapi rupanya saya tetap lebih senang melihat dana itu tetap diam di tempatnya, sehat, lengkap, dan tidak banyak tingkah.

Saya mulai curiga bahwa kadang saya tidak sedang mempertahankan uang untuk membeli sesuatu yang jelas. Saya mempertahankan kemungkinan.

Kemungkinan anak membutuhkan sesuatu. Kemungkinan ada keperluan keluarga. Kemungkinan ada pengeluaran yang sekarang bahkan belum mempunyai nama.

Karena itu uang yang belum dibelanjakan terasa mempunyai banyak fungsi sekaligus. Begitu berubah menjadi sepeda, selesai sudah. Ia resmi menjadi dua roda, sadel, setang, dan tidak bisa dipanggil kembali untuk membayar kebutuhan lain.

Ternyata Membayar Memang Bisa Terasa Tidak Enak

Ilustrasi seseorang merasa berat menyerahkan uang meskipun mendapatkan sepeda yang memang dibutuhkan.

Saya kemudian menemukan penelitian yang membuat tingkah saya ini terasa sedikit lebih masuk akal.

Scott Rick, Cynthia Cryder, dan George Loewenstein pernah meneliti sesuatu yang mereka sebut pain of paying. Dalam penelitian mereka, ada orang yang mengalami rasa tidak nyaman sebelum mengeluarkan uang lebih kuat daripada orang lain. Bahkan rasa tidak nyaman itu bisa membuat seseorang mengeluarkan uang lebih sedikit daripada yang sebenarnya ingin ia keluarkan.

Artinya bukan berarti setiap orang yang susah belanja mempunyai masalah psikologis. Saya juga tidak mau mendiagnosis diri sendiri hanya gara-gara lama memilih sepeda. Nanti semua orang yang membandingkan harga di marketplace harus ikut terapi, repot juga.

Tetapi saya bisa memahami idenya.

Ketika melihat sepeda, saya tidak hanya melihat apa yang akan saya dapatkan. Saya sekaligus merasakan apa yang akan pergi.

Ada juga konsep anticipated regret: kita membayangkan penyesalan yang mungkin muncul setelah mengambil keputusan. Penelitian tentang anticipated regret menunjukkan bahwa bayangan mengenai penyesalan memang dapat memengaruhi keputusan yang kita ambil, dan dalam beberapa keadaan manusia bisa memperkirakan penyesalannya akan lebih besar daripada yang kemudian benar-benar dirasakan.

Ini juga terasa dekat dengan pikiran saya waktu itu.

Bagaimana kalau salah beli?

Bagaimana kalau ibu kesulitan mengendarainya?

Bagaimana kalau bahannya tidak kuat?

Dan salah satu skenario paling menyedihkan sekaligus agak lucu: bagaimana kalau setelah semua riset ini, sepedanya malah jarang dipakai?

Saya akhirnya membeli sepeda bekas. Umurnya baru sekitar enam bulan dari pemilik pertama. Sebelum membeli pun saya mencari berbagai informasi tentang sepeda tersebut.

Jadi ketakutan itu tidak sepenuhnya membuat saya batal membeli. Sebagian justru membuat saya lebih teliti.

Dan menurut saya bagian ini penting, karena mudah sekali membalik pembahasan seperti ini menjadi: takut mengeluarkan uang berarti kita mempunyai masalah.

Belum tentu.

Kehati-hatian Juga Bisa Menjadi Hal yang Masuk Akal

Ilustrasi perbedaan antara belanja gegabah, terlalu takut membeli, dan berhati-hati berdasarkan kondisi keuangan.

Saya sendiri tidak ingin menjadi orang yang setelah membaca soal psikologi uang lalu setiap rasa ragu dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Kadang ragu ya memang perlu.

Kalau setelah membeli sesuatu kebutuhan pokok terganggu, tabungan habis, cicilan tidak terbayar, atau kita sebenarnya belum mempunyai uangnya, mungkin rasa takut itu justru sedang melakukan pekerjaannya dengan benar.

Saya pernah berada di sisi sebaliknya juga. Ketika penghasilan bertambah, barang bisa terasa lebih murah hanya karena keberanian membeli ikut naik. Saya pernah menulis soal itu dalam Berhemat Ada Batasnya, tetapi Gaji Naik Juga Bisa Habis.

Jadi saya tidak ingin buru-buru mengusir rasa berat setiap kali mengeluarkan uang.

Yang sekarang lebih membuat saya penasaran justru: rasa takut ini sedang memberi informasi atau hanya meminta jaminan yang sebenarnya tidak mungkin diberikan?

Karena dalam kasus sepeda, saya sudah menghitung kebutuhan bulan itu. Uangnya ada. Saya sudah mencari informasi. Saya bahkan memilih barang bekas yang masih relatif baru.

Tetapi otak saya masih bisa membuat pertanyaan berikutnya.

Kalau pertanyaan itu dijawab, kemungkinan besar akan muncul pertanyaan lain.

Mungkin di situlah batas yang sulit saya lihat sebelumnya. Berhati-hati dengan uang masih masuk akal. Tetapi kalau syarat untuk membeli adalah saya harus yakin tidak akan ada kebutuhan mendadak setelahnya, ya saya mungkin harus menunggu sampai bisa membaca masa depan.

Anehnya, untuk kebutuhan anak atau keluarga yang memang benar-benar perlu, saya biasanya jauh lebih mudah mengusahakannya. Bahkan kalau harus mengambil uang dari tabungan.

Berarti saya sebenarnya bisa mengeluarkan uang.

Saya hanya membutuhkan alasan yang menurut kepala saya cukup kuat untuk menerima bahwa setelahnya angka tabungan akan lebih kecil.

Dan mungkin ini juga menjelaskan kenapa seseorang bisa mempunyai uang tetapi tetap merasa seperti belum cukup mampu membeli sesuatu. Yang sedang dihitung bukan cuma harga barang dibanding saldo, tetapi juga rasa aman sebelum dan sesudah uang itu pergi.

Saya masih ingin berhati-hati dengan uang. Saya rasa itu bukan kebiasaan yang perlu dibuang.

Tetapi sekarang saya mulai tahu ada satu pertanyaan lain yang perlu saya curigai setiap kali terlalu lama menahan tombol beli: apakah saya memang belum mampu, atau saya sedang menunggu rasa aman yang 100%?

Sumber riset: Scott I. Rick, Cynthia E. Cryder, dan George Loewenstein, “Tightwads and Spendthrifts,” Journal of Consumer Research (2008); Daniel T. Gilbert dkk., “Looking Forward to Looking Backward: The Misprediction of Regret” (2004).