Memilih Sepeda Berhari-hari, Padahal yang Saya Cari Bukan Cuma Sepeda

Daftar Isi

Saya sedang mencari sepeda jenis city bike. Tujuan awalnya sederhana: bisa saya gunakan untuk mengajak anak bersepeda dan bisa dipakai ibu saya pergi ke pasar.

Masalahnya, semakin lama saya mencari, semakin tidak sederhana sepedanya.

Sepeda itu harus murah, tetapi kuat digunakan dalam jangka waktu lama. Ukurannya tidak boleh terlalu tinggi agar ibu saya mudah menaikinya. Bobotnya juga jangan terlalu berat. Selain itu, sepedanya harus cukup nyaman ketika saya gunakan membawa anak.

Sepedanya cuma satu, tetapi tanggung jawabnya sudah seperti kepala keluarga.

Saya mengecek marketplace, menonton ulasan, bertanya kepada penjual, melihat beberapa toko lain, lalu menghitung ulang berapa budget yang pantas. Setelah mendapatkan satu pilihan, saya menemukan pilihan lain. Setelah pilihan lain terlihat bagus, saya kembali memikirkan pilihan pertama.

Seorang ayah kebingungan memilih city bike untuk anak dan ibunya sambil mempertimbangkan harga, ukuran, berat, dan kekuatan sepeda.

Begitu terus sampai saya mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sedang memilih dengan hati-hati, terlalu banyak berpikir, kekurangan uang, atau sebenarnya sepeda ini memang tidak terlalu diperlukan?

Sepedanya Harus Murah, Kuat, Ringan, dan Cocok untuk Semua Orang

Saya ingin membeli sepeda murah karena tetap saja ini bukan kebutuhan yang harus dibeli hari ini. Namun saya juga tidak ingin membeli sepeda yang terlalu murah lalu beberapa bulan kemudian mulai bermasalah.

Kalau sudah begitu, harga murahnya hanya berlaku pada saat pembayaran. Setelah itu, hidup mulai mencicil masalah dalam bentuk rantai lepas, rem tidak nyaman, atau sepeda yang akhirnya lebih sering bersandar di tembok.

Saya juga perlu memikirkan ibu saya. Sepedanya tidak boleh terlalu tinggi dan tidak boleh terlalu berat. Saya takut ibu kesulitan menaikinya atau tidak kuat mengendalikan sepeda saat pergi ke pasar.

Satu city bike ditarik oleh berbagai kebutuhan berupa harga murah, rangka kuat, bobot ringan, kebutuhan anak, dan kebutuhan orang tua.

Di sisi lain, saya ingin menggunakannya bersama anak. Berarti saya harus memikirkan apakah rangkanya cukup kuat, apakah bisa dipasangi kursi anak, dan apakah nyaman digunakan dalam waktu lama.

Kalau dipikir-pikir, saya bukan sedang memilih sepeda. Saya sedang mencari satu benda yang harus cocok untuk tiga orang dengan kebutuhan yang berbeda, tetapi harganya tetap harus membuat saya bisa tidur nyenyak.

Keinginan saya sebenarnya masuk akal. Hanya saja semua keinginan yang masuk akal itu kalau dikumpulkan dalam satu produk bisa membuat proses memilih menjadi tidak masuk akal.

Penjual mungkin hanya melihat saya sebagai calon pembeli yang banyak bertanya. Padahal di kepala saya sedang ada ibu, anak, tinggi rangka, berat sepeda, kekuatan bahan, harga, dan kemungkinan penyesalan setelah barang datang.

Dua Tahun Lalu Saya Sudah Pernah Hampir Membelinya

Sebenarnya rencana membeli sepeda untuk ibu bukan baru muncul sekarang. Dua tahun lalu saya sudah hampir membelinya. Bahkan saya sudah menaruh uang muka di sebuah toko.

Lalu kakak saya mengatakan bahwa kalau nanti ibu kenapa-kenapa di jalan bagaimana?

Kalimat itu cukup untuk membuat saya membatalkan pembelian.

Padahal sebelumnya saya melihat sepeda sebagai alat yang bisa membantu ibu pergi ke pasar. Setelah mendengar kakak saya, sepeda yang sama tiba-tiba berubah menjadi benda yang bisa membuat saya merasa bersalah kalau terjadi sesuatu.

Seorang pria membatalkan pembelian sepeda setelah membayar uang muka karena khawatir terhadap keselamatan ibunya di jalan.

Saya akhirnya membatalkannya. Uang muka sudah diberikan, keputusan sudah hampir selesai, tetapi saya mundur.

Saya tidak bisa mengatakan keputusan itu salah. Kekhawatiran kakak saya juga masuk akal. Orang tua naik sepeda di jalan memang memiliki risiko. Namun sejak saat itu, rencana membeli sepeda tidak benar-benar hilang. Rencana itu hanya disimpan, lalu sesekali muncul lagi ketika saya melihat sepeda yang kelihatannya cocok.

Sekarang anak-anak mulai besar. Saya kembali memikirkan sepeda itu karena saya ingin mengajak mereka bersepeda. Sekalian, pikir saya, sepeda tersebut bisa digunakan oleh ibu.

Kata sekalian memang sering membuat pembelian terasa lebih masuk akal. Kita membeli satu barang, lalu mencari sebanyak mungkin anggota keluarga yang bisa ikut menggunakannya agar harganya terasa lebih sopan.

Namun pengalaman dua tahun lalu masih ikut duduk di belakang setiap keputusan. Saya tidak hanya takut membeli sepeda yang salah. Saya juga takut keputusan saya menyebabkan sesuatu yang buruk.

Mungkin itu sebabnya saya terus mencari pilihan yang terasa paling aman, seolah-olah ada sepeda yang bisa memberikan jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Masalahnya, barang sebagus apa pun tidak bisa memberikan jaminan seperti itu.

Mungkin Lama Memilih Bukan Selalu Karena Overthinking

Seorang pria terus membandingkan sepeda di ponsel sementara waktu berlalu dan ibu serta anaknya masih menunggu.

Saya sering menganggap terlalu lama memilih sebagai tanda overthinking. Seolah-olah orang yang pikirannya sehat akan membuka marketplace, melihat tiga sepeda, lalu langsung membeli salah satunya sebelum makan siang.

Namun mungkin tidak selalu begitu.

Dalam kasus saya, lamanya memilih datang dari beberapa hal yang bercampur. Budget saya terbatas. Kebutuhannya lebih dari satu. Saya ingin barangnya tahan lama. Saya memikirkan keselamatan ibu. Saya juga belum yakin seberapa sering sepeda itu benar-benar akan digunakan.

Jadi mungkin masalahnya bukan saya tidak bisa mengambil keputusan. Mungkin saya sedang berusaha mendapatkan kepastian terlalu banyak dari satu pembelian.

Saya ingin yakin bahwa sepedanya kuat. Yakin ibu nyaman. Yakin anak aman. Yakin uang saya tidak terbuang. Yakin sepeda itu tidak hanya semangat digunakan selama satu minggu lalu menjadi tempat menggantung kantong belanja.

Sayangnya, ulasan sebanyak apa pun tidak bisa memberikan semua kepastian tersebut. Penjual juga biasanya hanya bisa menjawab sesuai spesifikasi. Ia tidak mungkin menjawab, “Tenang, Pak. Sepeda ini akan digunakan rutin oleh keluarga Bapak selama tujuh tahun dan tidak akan menjadi penghuni tetap teras rumah.”

Ada bagian yang memang harus diputuskan tanpa jaminan lengkap.

Tetapi saya juga mulai curiga bahwa terus mencari kadang menjadi cara yang nyaman untuk menunda keputusan. Selama saya masih membandingkan, saya belum bisa salah membeli. Uang belum keluar. Risiko belum dimulai. Penyesalan juga belum punya alamat untuk datang.

Hanya saja, kebutuhan juga tidak bergerak ke mana-mana.

Ibu tetap belum mempunyai sepeda untuk pergi ke pasar. Saya tetap belum mempunyai sepeda untuk mengajak anak berkeliling. Dua tahun bisa lewat sementara saya masih sibuk mencari pilihan yang paling sempurna.

Saya belum tahu sepeda mana yang akhirnya akan saya beli. Saya juga belum yakin apakah proses panjang ini lebih banyak disebabkan oleh kehati-hatian atau ketakutan.

Namun sekarang saya mulai melihat bahwa keputusan membeli barang bukan hanya soal barang tersebut diperlukan atau tidak. Kadang yang membuatnya lama adalah karena kita ingin keputusan kecil itu bebas dari segala kemungkinan buruk.

Padahal mungkin yang perlu dicari bukan sepeda yang sempurna, melainkan pilihan yang cukup aman, cukup berguna, dan risikonya masih sanggup saya terima.