Kita Sudah Tahu Harus Melakukan Apa, Lalu Kenapa Masih Diam Saja?

Daftar Isi

Saya rasa hampir semua orang sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat hidupnya sedikit lebih baik.

Kita tahu harus tidur lebih cepat.

Kita tahu harus mengurangi makanan manis.

Kita tahu olahraga itu penting.

Kita tahu uang sebaiknya ditabung, bukan dihabiskan untuk membeli benda yang dua hari kemudian kita lupa pernah membelinya.

Kita juga tahu pekerjaan tidak akan selesai hanya dengan dipandangi.

Tetapi mengetahui sesuatu ternyata tidak selalu membuat kita melakukannya.

Kadang kita malah duduk sambil memikirkan kenapa kita belum mulai. Setelah itu kita membuka ponsel untuk mencari jawabannya.

Dua jam kemudian kita mengetahui kehidupan pribadi seorang selebritas, harga rumah di Swiss, dan cara seekor berang-berang membangun bendungan.

Pekerjaan kita masih belum disentuh.

Tetapi pengetahuan tentang berang-berang bertambah.

tahu-tapi-tidak-melakukan

Mengetahui Ternyata Tidak Sama dengan Melakukan

Dulu saya mengira orang yang tidak melakukan sesuatu mungkin belum tahu caranya.

Ternyata tidak selalu begitu.

Banyak orang tahu cara menurunkan berat badan. Kurangi makan, bergerak lebih banyak, tidur cukup, dan jangan menganggap gorengan sebagai sayur hanya karena ada daun bawangnya.

Penjelasannya sederhana.

Yang sulit adalah saat pukul sembilan malam ada sebungkus keripik di depan kita dan keripik itu seperti memanggil nama lengkap kita.

Kita tahu keripik itu tidak membantu.

Tetapi kita juga tahu hidup ini singkat.

Manusia memang pandai sekali memakai filsafat untuk membela keputusan yang dibuat oleh perut.

Hal yang sama terjadi dalam banyak bagian kehidupan.

Kita tahu harus menyelesaikan pekerjaan. Namun kita menunggu suasana hati.

Kita tahu perlu menghubungi seseorang. Namun kita menunggu waktu yang tepat.

Kita tahu harus mulai menulis. Namun sebelum menulis, kita merasa perlu membersihkan meja, menyusun folder, mengganti foto profil, dan menonton video tentang cara penulis sukses mengatur meja kerjanya.

Akhirnya meja kita rapi.

Tulisannya tidak ada.

Tetapi tempat pensil berdiri dengan penuh wibawa.

Otak Kita Menyukai Hasil, tetapi Kurang Suka Prosesnya

Kita suka membayangkan hasil akhir.

Kita ingin tubuh sehat. Kita ingin tabungan bertambah. Kita ingin pekerjaan selesai. Kita ingin mempunyai kemampuan baru.

Masalahnya, hasil akhir terlihat menyenangkan, sedangkan prosesnya kadang terlihat seperti hukuman ringan.

Kita ingin bisa bahasa Inggris, tetapi tidak ingin terlihat bodoh saat salah mengucapkan kata.

Kita ingin mempunyai usaha, tetapi tidak ingin mengalami penolakan.

Kita ingin menjadi penulis, tetapi tidak ingin duduk menghadapi halaman kosong yang menatap balik seperti petugas pajak.

Keinginan kita sering menuju hasil.

Sementara tubuh dan pikiran kita harus melewati prosesnya.

Dan proses biasanya tidak membawa musik latar yang semangat.

Ia hanya datang dalam bentuk pekerjaan kecil, membosankan, dan kadang tidak membuat kita merasa hebat.

Tidak ada orang yang bertepuk tangan saat kita menolak membuka media sosial dan memilih menyelesaikan satu paragraf.

Tidak ada tetangga yang keluar rumah lalu berkata, “Luar biasa, Pak Adi. Saya melihat Bapak menyimpan uang lima puluh ribu hari ini.”

Kalau sampai ada, saya mungkin justru pindah rumah.

Kita Sering Menunggu Perasaan yang Tidak Datang

Salah satu kebiasaan aneh manusia adalah menunggu keinginan untuk melakukan sesuatu.

Kita berkata, “Nanti kalau sudah semangat, saya mulai.”

Padahal semangat bukan petugas kelurahan yang mempunyai jadwal pelayanan.

Ia datang sesuka hati.

Kadang pagi hari kita merasa siap mengubah hidup. Sore harinya kita sudah berbaring sambil menonton orang lain mengubah hidup mereka.

Saya sendiri sering merasa harus mempunyai suasana yang tepat sebelum mengerjakan sesuatu.

Harus tenang.

Harus ada waktu kosong.

Harus sudah makan.

Harus tidak terlalu kenyang.

Harus tidak mengantuk.

Harus tidak banyak pikiran.

Kalau semua syarat itu harus dipenuhi, kemungkinan saya baru bisa bekerja saat seluruh keluarga sedang liburan dan bumi berhenti berputar selama tiga jam.

Kenyataannya, banyak hal penting dilakukan bukan karena kita sedang ingin melakukannya.

Kita melakukannya karena memang perlu dilakukan.

Orang mencuci piring bukan karena sejak kecil mempunyai cita-cita melihat busa sabun.

Kita melakukannya karena kalau tidak, besok pagi semua gelas sudah berubah menjadi tempat penelitian jamur.

Menunda Memberikan Hadiah Lebih Cepat

Ada alasan lain kenapa kita tetap tidak melakukan sesuatu meskipun tahu itu penting.

Menunda terasa lebih enak sekarang.

Sedangkan hasil dari tindakan baru terasa nanti.

Olahraga terasa berat sekarang. Tubuh sehat datang beberapa bulan kemudian.

Menabung terasa seperti kehilangan uang sekarang. Rasa aman datang entah kapan.

Belajar terasa membosankan sekarang. Kemampuan baru datang setelah kita berkali-kali merasa tidak pintar.

Sementara membuka ponsel memberi hadiah dalam tiga detik.

Ada video lucu.

Ada kabar terbaru.

Ada orang asing yang sedang berdebat tentang hal yang tidak memengaruhi hidup kita sama sekali.

Otak kita menyukainya karena cepat.

Kita seperti orang yang sedang menanam pohon, lalu lima menit kemudian menggali tanahnya untuk melihat apakah sudah berbuah.

Saat belum ada buah, kita kecewa dan memutuskan menonton video motivasi.

Video motivasi membuat kita merasa sudah melakukan sesuatu.

Padahal kita hanya melihat orang lain berbicara dengan suara keras dan pencahayaan yang bagus.

Kadang Kita Tidak Malas, Hanya Takut

Kita sering menyebut diri sendiri malas.

Padahal kadang yang terjadi bukan kemalasan.

Kita takut gagal.

Kita takut hasilnya jelek.

Kita takut dinilai.

Kita bahkan bisa takut berhasil karena keberhasilan mungkin membawa tanggung jawab baru.

Akhirnya kita memilih tidak mulai.

Kalau tidak mulai, kita tidak akan gagal.

Memang kita juga tidak akan berhasil, tetapi bagian itu biasanya kita bicarakan nanti.

Menunda membuat kemungkinan tetap terlihat indah.

Selama tulisan belum dibuat, kita masih bisa percaya bahwa kita sebenarnya mampu membuat tulisan bagus.

Selama usaha belum dimulai, kita masih bisa berkata usaha itu mungkin akan sukses besar.

Selama kita belum mencoba, kemampuan kita belum diuji.

Kemungkinan terasa lebih nyaman daripada kenyataan.

Kenyataan bisa memberi nilai enam.

Kemungkinan selalu memberi nilai seratus karena belum diperiksa guru.

Kita Terlalu Sering Berunding dengan Diri Sendiri

Saya juga memperhatikan bahwa kita terlalu banyak berunding sebelum melakukan sesuatu.

Kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah saya sedang ingin melakukannya?”

“Apakah sekarang waktu terbaik?”

“Apakah hasilnya nanti bagus?”

“Apakah saya mempunyai energi?”

“Apakah posisi duduk saya sudah mendukung produktivitas?”

Semakin lama perundingannya, semakin besar kemungkinan pekerjaan itu dibatalkan.

Ini mirip rapat kantor.

Semakin banyak peserta, semakin banyak kopi yang habis dan semakin tidak jelas siapa yang akan mengerjakan.

Mungkin beberapa tindakan kecil memang tidak perlu dirapatkan.

Bangun dan lakukan sedikit.

Bukan karena kita sangat disiplin.

Bukan karena kita sudah berubah menjadi manusia produktif yang bangun pukul empat pagi lalu mandi dengan air yang diambil langsung dari pegunungan Himalaya.

Tetapi karena semakin lama kita memikirkan pekerjaan kecil, pekerjaan itu semakin terlihat seperti proyek pembangunan bandara.

Kita Mungkin Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Nasihat

Saat kita tidak melakukan sesuatu, reaksi pertama biasanya mencari informasi baru.

Kita membaca buku lain.

Menonton video lain.

Menyimpan artikel lain.

Membeli buku catatan baru karena buku catatan lama dianggap tidak membawa energi yang tepat.

Padahal masalahnya mungkin bukan kurang tahu.

Kita sudah tahu cukup banyak.

Kita hanya belum bersedia merasa tidak nyaman selama beberapa menit.

Kita belum bersedia mengerjakan sesuatu dengan hasil yang biasa saja.

Kita ingin langkah pertama langsung terlihat seperti langkah orang yang sudah berjalan sepuluh tahun.

Keinginan itu tentu menarik.

Sayangnya hidup tidak bekerja seperti foto sebelum dan sesudah.

Di antara keduanya ada bagian panjang yang tidak fotogenik.

Ada kebingungan.

Ada kesalahan.

Ada hari saat kita hanya mampu melakukan sedikit.

Ada hari saat kita tidak melakukan apa pun lalu merasa bersalah karena tidak melakukan apa pun.

Kemudian karena merasa bersalah, kita kembali tidak melakukan apa pun.

Lingkarannya sangat rapi.

Kalau saja bisa dijual, mungkin sudah menjadi motif karpet.

Barangkali Kita Hanya Perlu Berhenti Menunggu Diri yang Ideal

Saya rasa kita sering membayangkan bahwa suatu hari akan muncul versi diri yang lebih baik.

Versi ini lebih rajin.

Lebih berani.

Lebih fokus.

Tidak mudah tergoda.

Bangun pagi dengan rambut rapi meskipun baru tidur.

Lalu versi sempurna itulah yang akan mulai mengerjakan semua hal yang selama ini kita tunda.

Masalahnya, orang itu mungkin tidak akan datang.

Yang ada tetap kita.

Dengan rasa malas, rasa takut, tagihan, ponsel, pekerjaan, keluarga, dan keinginan berbaring lima menit yang sering berkembang menjadi satu setengah jam.

Mungkin bukan diri kita yang harus berubah lebih dulu.

Mungkin tindakan kecilnya yang perlu dilakukan lebih dulu.

Bukan menunggu berani untuk memulai.

Mulai dalam keadaan agak takut.

Bukan menunggu semangat untuk bergerak.

Bergerak sedikit sambil mengeluh juga tidak apa-apa.

Banyak pekerjaan rumah tangga berhasil diselesaikan dengan cara seperti itu.

Tidak semua kemajuan harus terlihat gagah.

Kadang kemajuan hanya berupa membuka dokumen, menulis satu kalimat, lalu menatapnya selama sepuluh menit.

Tetapi satu kalimat masih lebih dekat kepada tulisan selesai daripada rencana menulis yang disimpan di kepala selama tiga tahun.

Jadi, Kenapa Kita Tetap Tidak Melakukannya?

Karena mengetahui sesuatu tidak otomatis menghilangkan rasa tidak nyaman.

Karena hasil terasa jauh, sedangkan gangguan terasa dekat.

Karena kita takut hasilnya tidak sesuai dengan bayangan.

Karena kita menunggu semangat.

Karena kadang sofa mempunyai kemampuan negosiasi yang sangat kuat.

Dan karena kita manusia.

Bukan mesin yang langsung bergerak setelah menerima perintah.

Tetapi menjadi manusia bukan berarti kita harus terus memaklumi semua penundaan.

Kita boleh memahami diri sendiri tanpa terus menipu diri sendiri.

Kalau memang takut, katakan takut.

Kalau memang tidak mau, katakan tidak mau.

Jangan menghabiskan tiga minggu menyusun sistem produktivitas hanya untuk menghindari pekerjaan yang sebenarnya bisa dimulai dalam lima menit.

Saya juga masih sering tahu apa yang harus dilakukan, lalu tidak melakukannya.

Bedanya, sekarang saya sedikit lebih curiga saat pikiran mulai berkata, “Nanti saja kalau waktunya sudah tepat.”

Karena pengalaman menunjukkan, waktu yang tepat biasanya tidak pernah datang.

Yang datang justru waktu makan, waktu tidur, dan notifikasi bahwa seseorang yang tidak kita kenal sedang melakukan siaran langsung.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Kenapa saya belum melakukannya?”

Mungkin pertanyaannya lebih sederhana:

“Apa bagian paling kecil yang bisa saya lakukan sekarang, sebelum otak saya mengadakan rapat lagi?”

Kalau rapatnya sudah dimulai, biasanya selesai tanpa keputusan.

Salam dari manusia yang juga sering tahu, tetapi pura-pura belum tahu.