Saya Sering Menunda karena Memikirkan Semuanya, Padahal Cukup Satu Dulu
The Law of Diminishing Intent says, “The longer you wait to do something you should do now, the greater the odds that you will never actually do it.”
Di sebuah video TikTok, pembuat videonya mengaku sebagai orang yang suka menunda pekerjaan. Salah satu cara yang membantunya ternyata sangat sederhana: lakukan satu dulu.
Kalau piring menumpuk, cuci satu sendok dulu. Kalau tugas Bahasa Jepang membuat mual hanya dengan melihat kertasnya, pegang kertas itu dulu, lalu kerjakan soal nomor satu.
Ia membandingkannya dengan kebiasaan menonton serial. Awalnya satu episode dulu. Setelah selesai, lanjut satu lagi. Tahu-tahu sudah lama duduk di sana dan baru sadar serialnya hampir habis.
Kali ini kebiasaan sulit berhenti tersebut dicoba dipindahkan ke pekerjaan rumah. Biasanya membuat waktu tidur berkurang, sekarang diminta membantu mencuci sendok. Lumayan juga. Tidak semua kebiasaan buruk harus dibuang. Kadang cukup dipindahkan tempat kerjanya.
Saya setuju dengan gagasan “satu dulu” ini karena ketika melihat pekerjaan besar, saya biasanya tidak langsung bekerja. Saya malah memikirkan seluruh bagian pekerjaan tersebut sekaligus.
Saya sempat mempertanyakan cara ini. Bagaimana kalau satu pekerjaan kecil ternyata merembet ke bagian berikutnya dan mengganggu jadwal lain?
Namun kalau keberatan itu dijadikan pusat pembahasan, saya rasa saya justru menjauh dari maksud pembuat videonya. Ia tidak mengatakan bahwa satu akan tetap menjadi satu. Justru harapannya memang satu dapat membawa kita menuju bagian berikutnya.
Pekerjaan Belum Dimulai, Pikiran Sudah Sampai Akhir
Saat ingin menulis artikel, misalnya, saya bisa langsung memikirkan artikel tersebut sebagai satu pekerjaan lengkap. Saya memikirkan pembukaan, arah tulisan, bagian tengah, penutup, judul, gambar, sampai apakah tulisan tersebut nantinya enak dibaca.
Belum ada satu paragraf, tetapi urusan administrasi artikelnya sudah lengkap di kepala.
Akhirnya pekerjaan tersebut terasa besar. Saya merasa membutuhkan waktu yang panjang, pikiran yang tenang, dan suasana yang tepat. Kalau salah satunya tidak tersedia, saya menunda. Padahal bisa saja yang tidak tersedia sebenarnya hanya kemauan untuk menghadapi semuanya sekaligus.
Keadaannya berbeda ketika saya berkata, “Buat satu paragraf dulu.”
Satu paragraf terasa cukup kecil. Saya tidak sedang meminta diri saya menyelesaikan artikel. Saya hanya perlu menuliskan beberapa kalimat yang ada di kepala.
Setelah paragraf itu jadi, biasanya pikiran mulai bertanya, “Lalu ini nyambungnya ke mana?” Saya menulis satu kalimat lagi. Kalimat tersebut membutuhkan penjelasan. Tiba-tiba bagian pembuka sudah terbentuk.
Menurut saya, ini justru membuktikan gagasan dari video tersebut. Satu bagian kecil bukan tipuan yang diam-diam berubah menjadi pekerjaan besar. Memang begitulah tujuannya. Gerakan pertama membuat bagian berikutnya lebih mudah terlihat.
Sebelum menulis satu paragraf, saya hanya berhadapan dengan bayangan sebuah artikel. Setelah menulisnya, saya sudah mempunyai sesuatu yang bisa diteruskan, diperbaiki, atau bahkan dibuang kalau ternyata tidak bagus.
Setidaknya sekarang ada yang bisa dibuang. Sebelumnya bahkan sampahnya pun belum tersedia.
Saya Mencampur Masalah Memulai dengan Masalah Berhenti
Kekhawatiran saya sebenarnya bukan pada bagian “satu dulu”. Saya khawatir setelah mengerjakan satu bagian, pikiran akan terus berjalan ke bagian berikutnya. Sementara itu, mungkin ada kegiatan lain yang membutuhkan perhatian.
Kekhawatiran tersebut masuk akal. Namun saya mulai melihat bahwa saya sedang mencampur dua masalah yang berbeda.
Masalah pertama adalah sulit memulai. Masalah kedua adalah sulit berhenti ketika sudah mulai. Video tersebut sedang membantu masalah pertama. Ia tidak sedang menawarkan cara mengatur seluruh jadwal dalam satu kalimat.
Kalau saya hanya mempunyai waktu sebentar, saya tetap boleh berhenti setelah mengerjakan satu bagian. Pikiran mungkin masih ingin meneruskan, tetapi itu tidak berarti saya wajib meneruskannya saat itu juga.
Memang ketika kembali nanti, saya mungkin harus membaca ulang bagian sebelumnya dan mengingat lagi arah pikiran saya. Namun saya tidak benar-benar kembali dari awal. Sudah ada satu paragraf. Sudah ada satu soal yang selesai. Sudah ada satu sendok yang tidak lagi ikut rapat di dalam wastafel.
Kalau saya memakai kekhawatiran akan keterusan sebagai alasan untuk tidak memulai, penundaan saya hanya berganti pakaian. Sebelumnya saya menunda karena pekerjaannya terlalu besar. Sekarang saya menunda karena takut bagian kecilnya nanti menjadi besar.
Saya belum mencuci satu sendok, tetapi sudah mencemaskan kemungkinan seluruh dapur akan bersih dan membuat jadwal saya berantakan. Pikiran memang kadang jauh lebih rajin daripada tangan.
Pembuat video itu juga tidak mengatakan bahwa cara ini akan menghilangkan kebiasaan menunda. Ia hanya mengatakan bahwa cara tersebut membantunya. Menurut saya, justru itu yang membuat gagasannya masuk akal. Cara sederhana tidak perlu dipaksa menjadi jawaban untuk semua masalah.
“Satu dulu” hanya mengecilkan permintaan pertama kepada diri sendiri. Kalau setelah itu saya ingin meneruskan dan mempunyai waktu, silakan. Kalau ternyata berhenti pada satu, pekerjaan tersebut tetap sudah bergerak sedikit.
Kalau akhirnya hanya jadi satu paragraf pun, setidaknya saya sekarang mempunyai satu paragraf, bukan rencana menulis yang sudah saya pikirkan sampai capek.

