Menjadi Blogger Itu Mudah, Sampai Harus Mulai Menulis
Menjadi blogger itu mudah.
Tinggal membuat akun, memilih alamat blog, memasang tema, lalu menghabiskan tiga hari untuk menentukan apakah judul artikel sebaiknya berwarna hitam, hitam agak abu-abu, atau abu-abu yang sedang mengalami krisis identitas.
Setelah itu, kita mengganti jenis huruf.
Lalu menggantinya lagi.
Kemudian membuka blog lewat ponsel, melihat tampilannya selama tujuh menit, dan merasa sudah bekerja sangat keras.
Padahal artikel pertama belum ditulis.
Ini seperti membeli sepatu lari, memotretnya dari lima sudut, lalu tidur siang supaya besok badan lebih segar.
Saya tidak sedang mengejek siapa-siapa. Saya juga pernah lebih bersemangat memilih tampilan blog daripada memikirkan apa yang sebenarnya ingin saya katakan.
Memilih tema memang menyenangkan. Tema tidak membantah kita. Tema juga tidak membuat kita merasa bodoh.
Berbeda dengan halaman kosong.
Halaman kosong punya bakat membuat manusia mempertanyakan seluruh hidupnya.
Baru lima menit menatap layar, kita sudah berpikir, “Memangnya saya punya sesuatu yang layak ditulis?”
Lalu sepuluh menit kemudian kita membuka Facebook.
Bukan untuk mencari inspirasi. Untuk melarikan diri secara elegan.
Punya Blog Belum Tentu Menjadi Blogger
Menurut saya, seseorang belum tentu menjadi blogger hanya karena memiliki blog.
Sama seperti seseorang belum otomatis menjadi petani karena punya pot bunga berisi tanah, dua batu, dan puntung rokok tetangga.
Blog hanyalah tempat.
Yang membuat seseorang menjadi blogger adalah kebiasaannya datang ke tempat itu, membawa sesuatu dari kepalanya, lalu meninggalkannya di sana dalam bentuk tulisan.
Kadang tulisannya bagus.
Kadang biasa saja.
Kadang setelah dibaca ulang, kita sendiri ingin berpura-pura akun tersebut diretas oleh orang yang terlalu banyak minum kopi saset.
Tetapi tulisan itu tetap diterbitkan.
Di situlah bagian yang agak mengerikan.
Menulis di buku catatan terasa aman karena hanya kita yang tahu. Menulis di blog berarti mengizinkan orang lain melihat cara kita berpikir, termasuk bagian yang masih berantakan dan belum disapu.
Kita bisa terlihat kurang pintar.
Kita bisa berubah pikiran beberapa tahun kemudian.
Kita bahkan bisa menulis sesuatu yang menurut kita sangat dalam, lalu pembaca hanya berkomentar, “Pertamax.”
Itulah risiko kebudayaan.
Masa Awal Blog Biasanya Sangat Sepi
Ada satu hal yang jarang terlihat ketika orang membayangkan kehidupan blogger.
Sepi.
Kita menulis selama dua jam, membaca ulang, memperbaiki koma, mencari gambar, lalu menerbitkannya dengan perasaan seperti baru saja menyerahkan naskah pidato kenegaraan.
Besoknya kita membuka statistik.
Dua tayangan.
Yang satu kemungkinan kita sendiri.
Yang satu lagi mungkin robot dari negara yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam pelajaran IPS.
Robot itu tidak membaca sampai selesai. Ia pergi setelah memastikan blog kita tidak menjual suku cadang traktor.
Namun kita tetap mengecek statistik berkali-kali.
Pagi dicek.
Siang dicek.
Malam dicek lagi, siapa tahu ada rombongan pembaca datang setelah salat Isya.
Tidak ada.
Yang datang justru komentar berbahasa Inggris yang menawarkan jasa meningkatkan peringkat situs sekaligus memperbesar sesuatu yang tidak pernah kita tanyakan.
Masa awal menjadi blogger memang tidak terlalu sinematik.
Tidak ada musik latar. Tidak ada orang berdiri memberikan tepuk tangan. Tidak ada notifikasi dari penerbit yang berkata, “Tulisan Anda mengubah hidup kami.”
Yang ada hanyalah kita, halaman kosong, dan pertanyaan apakah semua ini ada gunanya.
Di titik itu, banyak orang berhenti.
Bukan karena tidak bisa menulis.
Mereka berhenti karena tidak tahan menulis tanpa disaksikan.
Kita Sering Lebih Ingin Terlihat Menulis daripada Benar-Benar Menulis
Menjadi blogger membuat saya melihat satu kebiasaan manusia yang cukup lucu.
Kita menyukai identitas, tetapi sering tidak menyukai pekerjaannya.
Kita ingin disebut penulis, tetapi merasa keberatan ketika harus duduk dan menulis.
Kita ingin memiliki blog yang ramai, tetapi artikel ketiga saja sudah terasa seperti cicilan kulkas dua pintu.
Kita ingin dianggap punya pemikiran, tetapi takut menerbitkan pemikiran sebelum pemikiran itu terlihat sempurna.
Akhirnya kita sibuk mengurus hal-hal yang tampak seperti pekerjaan.
Mengganti logo.
Membuat halaman Tentang Saya.
Mengatur menu.
Membaca artikel tentang cara menjadi blogger sukses.
Lalu membaca artikel lain tentang kesalahan blogger pemula.
Setelah itu menonton video tentang tujuh rahasia blog yang menghasilkan uang sambil berbaring miring dan makan kerupuk.
Semua kegiatan itu bisa berguna.
Tetapi kadang kita menggunakannya untuk menghindari satu kegiatan yang paling sederhana sekaligus paling menjengkelkan: menulis.
Sebab tulisan akan menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya.
Sementara logo masih bisa disalahkan kepada desain minimalis.
Tidak Semua Blogger Harus Menjadi Ahli
Salah satu alasan orang takut memulai blog adalah merasa belum cukup ahli.
Seolah-olah sebelum menerbitkan tulisan tentang kehidupan, kita harus lebih dahulu menyelesaikan kehidupan.
Padahal sampai sekarang kehidupan sendiri belum menerbitkan buku panduan resmi.
Kita semua masih menebak-nebak.
Orang tua menebak-nebak cara membesarkan anak.
Pekerja menebak-nebak kapan waktu yang tepat meminta kenaikan gaji.
Suami menebak-nebak apakah jawaban “terserah” benar-benar berarti terserah.
Jawabannya biasanya tidak.
Blogger tidak harus selalu datang membawa jawaban.
Kadang ia hanya membawa pengamatan.
Kadang membawa pengalaman yang belum selesai dipahami.
Kadang hanya berkata, “Saya melihat hal ini. Sepertinya aneh. Apakah Anda juga melihatnya?”
Bagi saya, itu sudah cukup.
Saya malah lebih percaya pada tulisan yang mengakui keraguan daripada tulisan yang menjawab seluruh persoalan hidup dalam delapan langkah dan satu tombol unduh PDF.
Kehidupan terlalu rumit untuk selalu dibereskan oleh subjudul bernomor.
Ada hal-hal yang hanya perlu diceritakan dengan jujur, lalu dibiarkan duduk sebentar di kepala pembaca.
Blog Adalah Tempat Menyimpan Cara Kita Melihat Dunia
Media sosial bergerak sangat cepat.
Kita menulis sesuatu pagi ini, siangnya tenggelam oleh video kucing, kabar perceraian artis, dan seseorang yang marah karena sambal di warung terlalu pedas meskipun ia memesan level delapan.
Blog bergerak lebih lambat.
Ia seperti rumah kecil di pinggir jalan.
Tidak selalu ramai. Tidak semua orang mampir. Kadang rumput depannya agak panjang karena pemiliknya sedang malas.
Tetapi tulisan-tulisan lama masih tinggal di sana.
Kita bisa kembali beberapa tahun kemudian dan melihat siapa diri kita saat menulisnya.
Ada pendapat yang masih kita setujui.
Ada yang membuat kita ingin mencabut kabel internet masa lalu.
Namun semuanya menjadi jejak.
Bukan hanya jejak tentang apa yang pernah terjadi, tetapi tentang bagaimana kita pernah memahami kejadian itu.
Menurut saya, ini salah satu alasan paling masuk akal untuk menjadi blogger.
Bukan supaya cepat terkenal.
Bukan supaya setiap tulisan menghasilkan uang sebelum matahari terbenam.
Tetapi supaya hidup kita tidak hanya lewat sebagai rangkaian hari yang diingat secara samar-samar.
Kita meninggalkan catatan.
Bahwa pada suatu hari, kita pernah memikirkan pekerjaan, keluarga, uang, ketakutan, tetangga, sandal yang hilang, atau kenapa orang selalu lebih mudah memberikan nasihat daripada meminjamkan uang.
Lalu Bagaimana Menjadi Blogger?
Saya sebenarnya tidak punya jawaban yang megah.
Tidak ada upacara pengangkatan.
Tidak ada sertifikat yang ditandatangani oleh Menteri Perbloggeran dan Urusan Komentar Spam.
Mungkin kita menjadi blogger ketika berhenti terlalu sibuk memikirkan apakah kita pantas disebut blogger.
Kita memilih sebuah tempat untuk menulis.
Kita menulis sesuatu yang memang ingin kita katakan.
Kita menerbitkannya meskipun belum sempurna.
Lalu beberapa hari kemudian kita kembali dan melakukannya lagi.
Terdengar sederhana.
Memang sederhana.
Yang membuatnya sulit adalah keinginan kita sendiri agar semuanya langsung terlihat berarti.
Kita ingin artikel pertama ramai.
Kita ingin tulisan kelima sudah menemukan gaya.
Kita ingin bulan depan dikenal sebagai penulis yang tajam, lucu, mendalam, tetapi tetap rendah hati dan kebetulan disukai algoritma.
Padahal gaya menulis biasanya tidak ditemukan dengan duduk memikirkannya.
Ia muncul dari tumpukan tulisan yang pernah kita buat, termasuk tulisan buruk yang diam-diam kita harap tidak ditemukan keluarga besar.
Jadi, mungkin menjadi blogger bukan soal merasa siap.
Menjadi blogger adalah bersedia terlihat sedikit bodoh di depan umum, berkali-kali, sampai akhirnya kita mulai mengenali suara sendiri.
Saya tidak tahu berapa banyak pembaca yang dibutuhkan agar sebuah blog dianggap berhasil.
Seratus? Seribu? Satu juta?
Tetapi saya tahu satu hal.
Orang yang sudah tiga bulan memilih template, mengganti logo enam kali, dan belum menerbitkan satu tulisan pun mungkin belum menjadi blogger.
Ia baru menjadi desainer interior yang kebetulan punya Wi-Fi.
