Haruskah Kita Menjadi Ahli Dulu Sebelum Mulai Menulis?

Daftar Isi

Di blog-blog yang pernah saya miliki, saya sering punya pikiran yang agak mengganggu: memangnya saya pantas menulis ini?

Apalagi dulu saya juga sering comot bahan dari artikel sana-sini. Setelah ditulis, bukannya langsung bangga karena berhasil menerbitkan sesuatu, saya malah berpikir lagi: apakah orang akan terbantu kalau membaca tulisan saya?

Masalahnya kalau pertanyaan seperti itu harus dijawab dulu sebelum menulis, saya bisa lama sekali berdiri di depan pintu. Mau masuk tidak berani, mau pulang juga sebenarnya ingin menulis.

Karena saya memang bukan ahli.

Seseorang ragu menulis di meja sementara kursi pengajar kosong terlihat di belakangnya.

Sampai sekarang pun ada beberapa topik yang membuat saya ragu menulis. Tentang uang misalnya. Saya belum merasa sukses dalam hal uang. Tentang marketing dan usaha juga begitu, karena saya sendiri belum benar-benar menjalaninya.

Jadi kalau tiba-tiba saya menulis, “Inilah 7 cara membangun usaha yang pasti berhasil,” mungkin sebelum pembaca protes, saya sendiri yang harus bertanya: usahanya mana, Pak? 😭

Ternyata menulis tidak selalu berarti mengajar

Saya rasa salah satu hal yang membuat orang takut mulai menulis adalah anggapan bahwa begitu menerbitkan tulisan, kita sedang berdiri di depan kelas.

Kalau posisinya seperti itu, tentu bebannya berat.

Kita harus tahu lebih banyak daripada pembaca. Harus punya jawaban. Harus punya pengalaman. Kalau bisa ada pencapaian yang bisa ditunjukkan supaya tidak ditanya, “Dasarnya apa?”

Tapi belakangan saya melihat menulis tidak harus selalu seperti itu.

Saya justru lebih nyaman menulis dari hasil pengamatan dan buah pikiran saya sendiri. Ada sesuatu yang saya lihat, alami, atau pikirkan, lalu saya mencoba membahasnya.

Saya juga tidak terlalu berharap semua orang mendapatkan kesimpulan yang sama dengan saya.

Dua orang bisa membaca tulisan yang sama dan pulang membawa pikiran yang berbeda. Itu menurut saya wajar. Kepala orang khan bukan fotokopi.

Dan mungkin di sana saya mulai melihat perbedaannya.

Saya tidak harus selalu menulis untuk mengatakan, “Begini cara yang benar.” Kadang saya bisa menulis untuk mengatakan, “Saya memperhatikan hal ini. Saya berpikir begini. Bagaimana kalau ternyata masalahnya seperti ini?”

Posisinya berbeda.

Pengalaman boleh diceritakan, tetapi jangan tiba-tiba naik pangkat

Tentu saja ini bukan berarti karena semua orang boleh menulis, maka semua orang bebas menjelaskan apa saja dengan penuh keyakinan.

Saya sendiri punya batas.

Saya bisa menulis bagaimana saya mengatur uang saya sendiri, keputusan apa yang saya ambil, apa yang terasa membantu, atau kesalahan apa yang pernah saya lakukan.

Itu memang pengalaman saya.

Tetapi pengalaman tersebut tidak otomatis membuat saya menjadi ahli keuangan. Apalagi kemudian memberikan instruksi investasi kepada orang lain dengan gaya, “Lakukan ini. Dijamin berhasil.”

Nah, kata dijamin itu sudah mulai membuat saya ingin mundur sedikit. 😁

Bahkan kalau ada tulisan yang mengatakan sesuatu akan 100% berhasil, saya justru mulai curiga. Hidup saya sendiri rasanya belum pernah memberi garansi 100% untuk banyak hal.

Hal yang sama berlaku untuk marketing dan usaha. Saya belum benar-benar menjalaninya, jadi saya tidak nyaman kalau harus menulis seolah-olah sudah tahu bagaimana membangun bisnis yang sukses.

Bukan berarti saya tidak boleh memikirkan atau membahasnya sama sekali. Tetapi saya harus tahu sedang berdiri di mana.

Ada perbedaan besar antara orang yang berkata, “Saya sudah melakukan ini bertahun-tahun dan ini yang saya pelajari,” dengan orang yang berkata, “Saya sedang mencoba memahami ini dan sementara saya melihatnya seperti ini.”

Keduanya bisa menarik untuk dibaca.

Masalah muncul ketika posisi kedua memakai suara posisi pertama.

Mungkin yang diperlukan bukan keahlian, tetapi kejujuran posisi

Kalau dipikir lagi, menunggu sampai menjadi ahli juga agak merepotkan.

Kapan seseorang resmi menjadi ahli?

Setelah lima tahun? Sepuluh tahun? Setelah punya gelar? Setelah berhasil? Berhasil sebesar apa?

Kalau syaratnya tidak pernah jelas, kita bisa terus menaikkannya setiap kali sudah mendekat.

Sementara ada banyak hal yang sebenarnya sudah bisa ditulis sekarang: pengalaman sendiri, pengamatan, sesuatu yang sedang dipelajari, pertanyaan yang mengganggu pikiran, bahkan perubahan pendapat.

Yang penting mungkin bukan bertanya, “Apakah saya sudah cukup ahli?”

Saya lebih suka memisahkannya menjadi tiga pertanyaan yang lebih sederhana: apa yang memang saya ketahui, apa yang benar-benar saya alami, dan apa yang sebenarnya belum saya tahu?

Bagian terakhir itu penting.

Karena mengatakan “saya tidak tahu” ternyata juga bagian dari menulis. Kita tidak harus mengisi setiap lubang dengan jawaban hanya karena sudah telanjur membuka halaman kosong.

Dan “ini cuma pendapat saya” juga bukan kartu bebas untuk mengatakan apa saja. Kalau saya tidak tahu, ya tidak tahu. Kalau saya belum pernah menjalani, jangan sampai tulisan saya terdengar seperti saya baru turun gunung membawa rumus kehidupan.

Saya tetap tidak harus menunggu

Saya masih punya keraguan ketika menulis. Mungkin itu tidak akan benar-benar hilang.

Tetapi sekarang saya merasa ada perbedaan antara tidak punya keahlian dan tidak punya sesuatu untuk ditulis.

Saya mungkin belum punya keahlian dalam banyak hal. Tetapi saya punya pengalaman saya sendiri. Saya punya pengamatan. Saya punya pikiran yang kadang berubah setelah dipikirkan lagi.

Dan pembaca juga punya kepala sendiri.

Saya tidak perlu memastikan setiap orang selesai membaca dengan kesimpulan yang sama seperti saya. Tulisan saya bisa menjadi salah satu bahan yang mereka pertimbangkan, lalu mereka sendiri yang memutuskan apa yang masuk akal.

Tentu semakin besar akibat dari informasi yang kita tulis, semakin hati-hati pula seharusnya kita. Cerita tentang cara saya mengatur pengeluaran sendiri jelas berbeda tanggung jawabnya dengan memberi instruksi investasi. Pengalaman menghadapi pekerjaan juga berbeda dengan memberi nasihat hukum ketenagakerjaan.

Jadi saya rasa saya tidak harus menjadi ahli dulu untuk mulai menulis.

Saya hanya perlu cukup jujur untuk tidak berpura-pura menjadi orang yang sudah tahu semuanya.

Mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Memangnya siapa saya sampai menulis tentang ini?”

Tetapi: “Apakah pembaca bisa mengetahui mana yang saya tahu, mana yang saya alami, dan mana yang masih belum saya tahu?”

Kalau batas itu jelas, rasanya saya sudah punya tempat yang cukup sah untuk mulai menulis.