Kenapa Saya Lebih Mudah Mengeluarkan Uang untuk Keluarga daripada untuk Diri Sendiri?
Saya baru sadar ada sesuatu yang agak aneh dengan cara saya mengeluarkan uang.
Kalau anak-anak butuh sesuatu, orang tua butuh sesuatu, atau istri membutuhkan sesuatu, keputusan saya biasanya jauh lebih cepat.
Harganya di atas Rp500.000 pun kadang saya masih bisa bilang iya.
Tentu saya tetap melihat kondisi keuangan. Bukan berarti ada permintaan lalu saya langsung mengeluarkan kartu seperti sedang jadi sultan dadakan. Tapi kalau memang dibutuhkan dan saya merasa mampu, biasanya tidak terlalu banyak perdebatan di kepala.
Masalahnya mulai kelihatan ketika yang membutuhkan sesuatu adalah saya sendiri.
Beli buku saja bisa saya pikirkan berkali-kali.
Barang yang sebenarnya saya inginkan juga begitu. Sudah lihat. Sudah kepingin. Sudah merasa mungkin berguna.
Lalu tidak jadi.
Besok lihat lagi.
Pikir lagi.
Kadang harga barangnya bahkan lebih murah daripada pengeluaran yang sebelumnya dengan mudah saya keluarkan untuk keluarga.
Entah kenapa kalau penerima manfaatnya saya sendiri, bagian keuangan di kepala saya mendadak berubah menjadi sangat rajin.
Kalau untuk keluarga, saya punya alasan yang sangat jelas
Saya rasa alasan saya cukup sederhana.
Saya menganggap memenuhi kebutuhan anak-anak, istri, ibu, dan bapak sebagai tanggung jawab.
Kalau saya bisa memenuhi kebutuhan mereka, saya senang.
Jadi ketika uang keluar untuk mereka, saya merasa uang itu memang sedang melakukan pekerjaannya.
Tidak terlalu terasa seperti kehilangan uang.
Ada tujuan yang jelas.
Anak membutuhkan sesuatu. Saya mampu. Ya sudah.
Orang tua membutuhkan sesuatu. Saya bisa membantu. Ya saya bantu.
Mungkin karena itu saya tidak terlalu sibuk mencari alasan tambahan.
Sementara kalau untuk diri sendiri, situasinya berbeda.
Saya bisa melihat sebuah buku yang saya inginkan, lalu pikiran pertama saya bukan hanya, “Saya mau baca buku ini.”
Ada pikiran lain yang ikut datang.
Uang ini sebenarnya bisa dipakai untuk keluarga.
Kalau saya keluarkan untuk diri sendiri, jangan-jangan ini cuma memberi makan ego saya.
Nah, kalau sudah sampai situ, buku yang tadinya hanya sebuah buku jadi seperti sedang menjalani pemeriksaan kelayakan proyek nasional.
Padahal harganya belum tentu mahal.
Untuk diri sendiri, saya selalu membutuhkan pembenaran lebih banyak
Kalau dipikir-pikir, mungkin masalahnya bukan karena saya tidak boleh membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Saya juga tidak merasa semua keinginan pribadi harus dituruti.
Kalau memang tidak penting dan uangnya lebih dibutuhkan untuk hal lain, ya wajar kalau tidak dibeli.
Tapi saya mulai curiga karena polanya tetap muncul bahkan ketika sebenarnya saya mampu.
Kebutuhan bulan itu aman.
Pengeluaran keluarga aman.
Barangnya juga masih masuk kemampuan.
Tetap saja rasanya berat.
Seolah-olah uang yang dipakai untuk keluarga mempunyai alasan yang otomatis benar, sementara uang untuk saya sendiri harus membawa surat rekomendasi, fotokopi KTP, dan mungkin tanda tangan RT.
Saya tidak tahu apakah ini selalu buruk.
Saya punya keluarga. Tentu prioritas keuangan saya tidak bisa sama seperti ketika hanya memikirkan diri sendiri.
Ada kebutuhan anak-anak. Ada rumah tangga. Ada orang tua. Ada banyak hal yang memang lebih penting daripada sekadar sesuatu yang sedang saya inginkan.
Jadi saya juga tidak ingin membuat cerita seolah-olah setiap kali saya menahan diri membeli sesuatu berarti saya sedang tidak menghargai diri sendiri.
Kadang memang cuma keputusan keuangan yang masuk akal.
Cuma ada satu bagian yang membuat saya bertanya-tanya.
Kenapa standar “masuk akal” itu terasa jauh lebih ketat ketika uangnya dipakai untuk saya?
Mungkin yang saya cari sebenarnya bukan uang, tetapi rasa aman
Ada alasan lain yang mungkin lebih besar daripada soal keluarga.
Saya takut ada kebutuhan mendadak.
Itu bahkan tetap muncul ketika saya merasa pengeluaran pribadi tersebut sebenarnya masih mampu saya bayar.
Kalau uangnya masih ada, saya merasa punya cadangan.
Kalau tiba-tiba anak membutuhkan sesuatu, orang tua membutuhkan bantuan, atau muncul pengeluaran yang sebelumnya tidak terpikirkan, setidaknya uang itu masih bisa dipakai.
Begitu saya membelanjakannya untuk diri sendiri, uang itu sudah tidak tersedia lagi.
Dan karena saya merasa punya tanggung jawab kepada beberapa orang, mungkin uang yang masih diam di rekening terasa lebih menenangkan daripada barang yang sudah berada di tangan saya.
Ini juga yang membuat saya agak susah membedakan dua hal.
Apakah saya memang sedang bertanggung jawab?
Atau saya sebenarnya terlalu sulit memberi izin kepada diri sendiri?
Karena kalau semua pengeluaran pribadi saya selalu kalah hanya oleh kemungkinan bahwa suatu hari nanti uang tersebut mungkin diperlukan, sebenarnya batasnya ada di mana?
Kebutuhan mendadak memang bisa datang kapan saja.
Bulan depan bisa ada.
Dua bulan lagi juga bisa ada.
Tahun depan pun kemungkinan tetap ada.
Kalau menunggu hidup benar-benar bebas dari kemungkinan pengeluaran mendadak, mungkin saya bisa menunda membeli buku sampai bukunya sudah ganti sampul tiga kali.
Saya masih lebih mudah mengeluarkan uang untuk keluarga daripada untuk diri sendiri. Dan saya rasa sebagian dari itu memang berasal dari prioritas yang saya pilih sendiri.
Tapi sekarang saya mulai melihat bahwa tidak semua rasa berat itu otomatis berarti saya sedang membuat keputusan yang paling bertanggung jawab.
Kadang saya memang sedang menjaga keluarga. Kadang mungkin saya hanya belum terbiasa menganggap diri sendiri sebagai salah satu orang yang juga boleh menerima manfaat dari uang yang saya hasilkan.

