Kenapa Saya Lebih Mudah Menabung Kalau Uangnya Dipisahkan di Awal Bulan?

Daftar Isi

Dulu saya punya kebiasaan yang kelihatannya cukup masuk akal: pakai uang untuk kebutuhan bulan ini dulu, nanti kalau masih ada sisa baru ditabung.

Masalahnya, semakin mendekati tanggal gajian berikutnya, pikiran saya bukannya, “Wah, bulan ini bisa menabung berapa?”

Malah berubah menjadi, “Saldo segini bisa menyelamatkan saya sampai gajian datang tidak?” Hehehe.

Jadi tabungan menunggu di belakang. Dia kebagian kalau semua yang di depannya sudah selesai. Kadang dapat banyak, kadang sedikit, kadang mungkin cuma dapat niat baik.

Sekarang saya justru melakukan kebalikannya. Ketika gaji masuk, saya langsung membagi uang tersebut. Untuk dana darurat, saya biasanya mengambil 10%. Untuk kebutuhan lain yang nominalnya sudah saya ketahui, saya pisahkan juga dalam jumlah tetap setiap bulan.

Baru setelah itu saya melihat uang yang memang tersedia untuk menjalani bulan tersebut.

Ilustrasi sebagian uang dari penghasilan langsung dipindahkan ke tempat tabungan sebelum sisanya digunakan untuk kebutuhan bulanan.

Secara matematika sebenarnya agak lucu. Mau saya tabung Rp1 juta sekarang atau menunggu Rp1 juta tersisa pada akhir bulan, tetap saja Rp1 juta.

Tetapi rupanya masalah saya bukan cuma matematika. Masalahnya adalah apa yang dilakukan kepala saya selama uang itu masih kelihatan.

Kalau Masih Ada di Rekening, Rasanya Masih Boleh Dipakai

Saya pernah menulis tentang kenapa saya lebih tenang ketika uang untuk kebutuhan sudah dipisahkan sejak awal. Namun belakangan saya merasa ada satu bagian lain yang cukup penting: bukan cuma uang itu dipisahkan untuk apa, tetapi kapan saya memisahkannya.

Kalau saya menunggu akhir bulan untuk menabung, uang yang sebenarnya ingin saya simpan masih bercampur dengan uang yang boleh digunakan.

Dan selama masih bercampur, saya masih melihat satu angka besar.

Nah, angka besar ini rupanya cukup berbahaya buat saya.

Bukan karena saya langsung berubah menjadi orang yang ingin membeli segala sesuatu. Tetapi saya jadi lebih mudah merasa bahwa saya masih punya ruang. Ada sesuatu yang saya inginkan, saya lihat saldo, lalu rasanya masih aman.

Padahal sebagian dari saldo itu sebenarnya sudah saya niatkan untuk ditabung.

Masalahnya, niat rupanya tidak membuat saldo rekening berubah warna. Tidak ada tulisan, “Yang Rp1 juta jangan disentuh, Pak.” Semuanya tetap terlihat sama.

Ketika uang tabungan saya pindahkan sejak awal, situasinya berbeda. Saldo yang saya lihat memang lebih kecil, dan justru itu yang saya inginkan.

Otak saya jadi bisa ngerem kalau menginginkan sesuatu.

Bahkan saya punya kebiasaan yang mungkin agak aneh: saya suka memindahkan uang dalam jumlah yang tidak bulat supaya lebih sulit menerka total uang yang saya punya. Hehehe.

Saya tidak tahu apakah cara seperti itu cocok untuk orang lain. Buat saya, semakin sulit kepala saya melakukan hitung-hitungan cepat tentang “sebenarnya saya masih punya berapa”, semakin kecil juga godaan untuk menganggap semua uang itu tersedia.

Efek ini berhubungan dengan apa yang pernah saya bahas dalam artikel tentang saldo yang bisa dipakai tidak terlihat besar. Tetapi sebelum saldo itu bisa mengecil, saya memang harus mengambil keputusan lebih dulu: uang mana yang keluar dari rekening operasional begitu gaji masuk.

Menabung di Awal Bulan Bukan Berarti Uangnya Pasti Selamat

Saya juga tidak mau berpura-pura sistem ini selalu berhasil.

Saya pernah memisahkan uang sebagai tabungan, lalu akhirnya uang tersebut saya ambil lagi untuk membeli sesuatu yang saya inginkan.

Padahal kalau saya pikir sekarang, ya itu salah saya sendiri.

Memindahkan uang ternyata tidak otomatis membuat saya kehilangan akses ke uang tersebut. Namanya juga rekening sendiri. Tidak ada satpam yang berdiri di depan aplikasi bank lalu bertanya, “Bapak yakin ini perlu?”

Kalau saya tetap ingin mengambilnya, ya bisa.

Di situ saya merasa masalah berikutnya bukan lagi kapan saya menabung, tetapi apakah saya bisa membedakan mana yang memang perlu dan mana yang sebenarnya masih bisa ditunda.

Ini juga membuat saya agak hati-hati dengan kalimat “tabung dulu di awal bulan” seolah-olah itu sebuah rumus yang pasti berhasil.

Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), misalnya, menjelaskan metode memindahkan sebagian penghasilan ke tabungan setiap kali menerima gaji sebagai salah satu bentuk pay yourself first. Transfer juga bisa dibuat otomatis agar uang masuk ke tabungan sebelum terikat dengan pengeluaran lain.

Buat saya, bagian yang menarik bukan istilahnya. Saya bahkan tidak harus membuat semuanya otomatis. Saya biasanya membagi uang dalam satu waktu ketika gaji masuk, jadi tidak terasa terlalu ribet.

Yang penting justru urutannya.

Saya tidak lagi bertanya, “Setelah sebulan hidup, kira-kira masih ada berapa yang bisa ditabung?”

Saya mencoba menentukan lebih dulu berapa yang masuk akal untuk dipisahkan, kemudian menjalani bulan dengan uang yang tersisa.

Tapi Jumlah yang Dipisahkan Juga Harus Masuk Akal

Di sinilah menurut saya metode ini gampang terdengar lebih indah daripada praktiknya.

Kita bisa saja memindahkan uang sebanyak mungkin pada awal bulan lalu merasa sangat disiplin. Tetapi kalau dua minggu kemudian sebagian besar uang itu harus dikembalikan karena kebutuhan sehari-hari tidak cukup, saya tidak yakin itu bisa disebut sistem yang bagus.

Saya sendiri sekarang punya angka 10% untuk dana darurat. Sementara kebutuhan yang sudah diketahui nominalnya saya isi dengan jumlah tetap.

Tetapi saya tidak menganggap angka tersebut sebagai aturan untuk semua orang.

Kondisi orang berbeda. Ada yang penghasilannya tetap, ada yang berubah-ubah. Ada bulan yang normal, ada bulan yang tiba-tiba punya pengeluaran keluarga lebih besar. Bahkan kebutuhan yang terlihat rutin pun kadang punya bakat muncul bersamaan.

CFPB sendiri menyebut transfer tabungan rutin terutama berguna bagi orang dengan pemasukan yang konsisten, dan jumlah maupun frekuensinya tetap perlu disesuaikan ketika kondisi pendapatan berubah. Mereka juga mengingatkan agar saldo untuk kebutuhan lain tetap diperhatikan.

Jadi menurut saya, memindahkan uang di awal bulan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling besar persentasenya.

Kalau saya memisahkan terlalu banyak lalu berkali-kali mengambilnya kembali, mungkin masalahnya bukan saya kurang disiplin. Bisa jadi angka yang saya tetapkan memang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Saya Lebih Percaya Uang yang Sudah Dipindahkan

Sekarang kalau ada sisa lagi pada akhir bulan, tentu saya senang. Itu bisa menjadi tambahan.

Tetapi saya tidak ingin menjadikan sisa tersebut sebagai sumber utama tabungan saya.

Sebab saya sudah pernah mencoba memberikan uang waktu sebulan penuh untuk menjadi “sisa”. Ternyata uang cukup pintar mencari keperluannya sendiri.

Ada perbedaan yang cukup besar di kepala saya antara mengatakan, “Nanti akhir bulan saya tabung Rp1 juta kalau masih ada,” dengan, “Saya sudah tabung Rp1 juta. Sekarang bulan ini saya atur dengan sisanya.”

Angkanya bisa sama.

Tetapi pada kalimat pertama, Rp1 juta itu belum benar-benar menjadi tabungan bagi saya. Itu masih sebuah rencana yang kebetulan sedang nongkrong di rekening utama.

Saya tetap bisa mengambil kembali uang yang sudah dipindahkan. Saya pernah melakukannya. Jadi sistem ini jelas bukan pagar besi.

Hanya saja sekarang saya lebih percaya pada uang yang sudah saya pindahkan daripada uang yang saya berjanji akan sisakan.