Kapan Memisahkan Uang ke Banyak Kantong Malah Bikin Ribet?

Daftar Isi

Saat ini saya punya sekitar lima atau enam kantong untuk memisahkan uang. Ada dana darurat, dana upacara, tabungan anak, dan beberapa kebutuhan lain.

Tapi setelah dipikir-pikir, saya ternyata belum merasa punya terlalu banyak kantong.

Malah kalau nanti ada pengeluaran lain yang sudah jelas akan datang, kemungkinan besar saya akan membuat kantong baru lagi. 😅

Di sinilah saya mulai bertanya. Kalau cara ini terus saya lakukan, kapan sebenarnya memisahkan uang ke banyak kantong mulai bikin ribet?

Ilustrasi beberapa kantong uang yang tersusun rapi untuk memisahkan dana berdasarkan kebutuhan.

Saya membuat kantong bukan supaya uang terlihat rapi

Alasan saya memisahkan uang sebenarnya sederhana. Saya ingin uang tertentu punya tugas yang jelas.

Kalau saya tahu nanti ada pembayaran yang pasti datang, saya lebih suka membuat kantong khusus lalu mencicil uangnya sedikit demi sedikit setiap bulan.

Dana upacara misalnya. Pengeluarannya mungkin tidak terjadi bulan ini, tetapi saya tahu suatu saat uang itu akan dipakai. Jadi daripada nanti jumlahnya terasa besar sekaligus, saya mengisinya pelan-pelan.

Begitu juga dengan dana darurat dan tabungan anak. Tujuannya berbeda, jadi saya lebih nyaman kalau tempatnya juga berbeda.

Sementara uang yang belum punya tujuan khusus tidak perlu dipaksa masuk ke kantong baru. Lebih baik tetap berada di tabungan yang memang bisa saya gunakan untuk kebutuhan bulanan.

Jadi saya tidak tertarik membuat kantong bernama “Dana Entah Untuk Apa Tapi Siapa Tahu Berguna”. Kalau tujuannya saja belum jelas, buat apa diberi ruangan sendiri. 🤣

Anehnya, saya malah sengaja tidak melihat semua saldo

Salah satu hal yang mungkin terdengar aneh adalah saya memang sengaja tidak sering melihat seluruh saldo yang ada di kantong-kantong tersebut.

Saya biasanya melihatnya saat tidak sengaja, misalnya ketika sedang melakukan transfer bulanan.

Kalau terlihat, ya sudah. Saya jadi tahu progresnya sudah sampai mana.

Tapi setelah itu tidak perlu saya pantau terus.

Justru salah satu alasan saya memisahkan uang adalah supaya sebagian uang tersebut tidak terus terasa tersedia di kepala saya. Kalau uang untuk kebutuhan bulanan tinggal sekian, ya itulah yang saya lihat sebagai uang yang bisa dipakai.

Sementara uang di kantong lain sudah punya pekerjaan masing-masing.

Saya rasa ini salah satu alasan kenapa sampai sekarang banyak kantong belum terasa merepotkan bagi saya. Saya tidak memperlakukannya seperti sesuatu yang harus diperiksa setiap hari.

Saya juga tidak harus mengingat angka masing-masing kantong karena sudah ada nama dan bukti transfernya. Kalau suatu saat ingin mengecek, datanya masih ada.

Berarti semakin banyak kantong semakin bagus?

Nah, belum tentu juga.

Saya sendiri baru beberapa bulan menjalankan cara seperti ini. Jadi agak lucu juga kalau sekarang saya sudah menyimpulkan bahwa punya banyak kantong tidak akan pernah merepotkan.

Saya belum sampai di sana.

Sampai sekarang saya bahkan belum pernah mengalami pembagian uang yang ternyata begitu tidak cocok sampai harus bolak-balik memindahkan uang antarkantong.

Kalaupun suatu saat ternyata pembagiannya tidak cocok, menurut saya uangnya masih bisa dipindahkan lagi. Sistem ini bukan pernikahan. Salah masuk kantong tidak berarti harus bertahan sampai tua. 😅

Tetapi saya mulai melihat bahwa masalahnya mungkin bukan pada jumlah kantong.

Masalahnya lebih mungkin muncul ketika saya mulai membuat kantong tanpa alasan yang jelas.

Kalau sebuah pengeluaran memang sudah pasti akan datang dan saya ingin mencicil dananya dari sekarang, kantong baru masih masuk akal bagi saya.

Tetapi kalau setiap keinginan kecil mulai saya beri tempat sendiri, mungkin saya perlu curiga.

Hari ini kantong pajak. Besok kantong servis. Lalu kantong beli sandal. Kantong sandal jepit dipisahkan lagi karena secara akuntansi berbeda dengan sandal kondangan.

Nah, mungkin sudah kelewatan. 🤣

Mungkin yang perlu dibatasi bukan jumlahnya

Awalnya saya mengira pertanyaannya adalah berapa banyak rekening atau kantong yang sebaiknya dimiliki.

Setelah melihat cara saya sendiri menggunakannya, saya rasa saya belum punya angka untuk itu.

Lima kantong bisa terasa banyak untuk seseorang. Orang lain mungkin punya sepuluh dan semuanya masih berguna karena kewajibannya memang lebih banyak.

Yang lebih masuk akal bagi saya justru melihat fungsi setiap kantong.

Apakah uang itu memang sedang disiapkan untuk sesuatu yang jelas?

Apakah memisahkannya membantu saya supaya tidak memakai uang tersebut untuk kebutuhan lain?

Atau saya hanya sedang rajin membuat kategori?

Untuk sekarang, lima atau enam kantong saya masih terasa sederhana. Saya tahu kenapa masing-masing dibuat, saya tidak perlu memantaunya terus, dan uang yang tidak punya tujuan khusus tetap bisa berada di tabungan bulanan.

Mungkin suatu hari jumlahnya bertambah dan saya mulai merasa sistem ini terlalu ramai. Bisa saja.

Saya juga baru menjalankannya beberapa bulan, jadi saya belum mau sok tahu mengatakan bahwa sistem ini pasti akan tetap nyaman selamanya.

Tapi setidaknya sekarang saya punya ukuran yang lebih masuk akal daripada sekadar menghitung jumlah rekening.

Selama saya masih bisa menjawab dengan jelas, “Uang di kantong ini untuk apa?”, saya rasa kantong itu masih punya pekerjaan.

Kalau suatu hari jawabannya cuma, “Hmm... dulu kenapa saya bikin ini ya?”, mungkin saatnya beberapa departemen keuangan saya merger. 🤣