Pengeluaran Kecil Jadi Besar Itu Bukan Masalah Kalau Memang Sudah Dihitung
Saya cukup pelit soal uang.
Atau kalau mau dibuat sedikit lebih sopan: saya cukup berhati-hati.
Tapi kalau sedang bicara dengan diri sendiri, ya sudah, pelit saja. Lebih cepat.
Karena itu saya agak kesulitan ketika mencoba mencari contoh pengeluaran kecil yang tiba-tiba membuat saya kaget setelah dijumlahkan. Saya pikir-pikir, kok tidak ada.
Bukan karena saya tidak punya pengeluaran kecil. Ada.
Salah satunya tol. Sekali lewat Rp5.500. Saya bolak-balik, jadi sehari Rp11.000. Lima hari kerja berarti Rp55.000. Sebulan kira-kira empat minggu, jadinya sekitar Rp220.000.
Kalau hanya melihat Rp5.500, memang kecil.
Tapi saya sudah tahu dari awal bahwa makhluk kecil itu kalau dikumpulkan sebulan akan berubah menjadi Rp220.000.
Dan saya tetap memilih membayarnya.
Nominalnya kecil, tetapi saya sudah tahu dia datang bergerombol
Saya memakai jalan tol bukan karena Rp5.500 terasa seperti bukan uang.
Saya sudah menghitung biaya bulanannya dan menurut saya masih masuk akal dengan penghasilan saya sekarang.
Kalau lewat jalan biasa, saya bisa bertemu macet, stres, dan capek. Lewat tol lebih tenang. Mungkin motor juga sedikit lebih bahagia karena tidak terlalu sering diajak ikut pertemuan rutin bersama kemacetan.
Jadi ketika melihat total Rp220.000, saya tidak kemudian berkata, “Lho, kok jadi segini?”
Saya sudah menerima angka itu sejak awal.
Sarapan juga begitu.
Saya biasa membeli mie sekitar Rp15.000 untuk dua hari. Bukan karena saya tidak sadar uangnya keluar sedikit-sedikit, tetapi karena setelah saya bandingkan, pilihan itu termasuk yang murah, mudah didapat, mudah dimakan, dan memang saya suka.
Saya juga pernah membandingkan membeli paket kecil dengan satu karton. Selisih harganya ternyata tidak terlalu berarti bagi saya.
Jadi saya memilih paket kecil.
Ternyata setelah saya pikir-pikir, mungkin masalah pengeluaran kecil bukan selalu karena kita lupa menjumlahkannya.
Rp20.000 yang sering keluar tetap bisa menjadi pengeluaran yang masuk akal
Ada kalimat yang sering terdengar masuk akal: pengeluaran kecil kalau dikumpulkan lama-lama jadi besar.
Ya memang.
Matematikanya tidak melakukan penipuan.
Rp20.000 sepuluh kali tetap Rp200.000, meskipun kita membayarnya sambil santai dan tidak diiringi tatapan serius kepada kalkulator.
Tapi dari situ belum otomatis berarti pengeluaran tersebut buruk.
Kalau saya menghabiskan sekitar Rp220.000 sebulan untuk tol, lalu sebagai gantinya perjalanan terasa lebih nyaman dan tidak terlalu melelahkan, saya tidak merasa perlu memusuhi pengeluaran itu hanya karena berasal dari transaksi Rp5.500.
Begitu juga dengan sarapan.
Kalau memang saya makan, saya suka, harganya masih masuk akal, dan alternatifnya justru lebih mahal atau kurang cocok, lalu apa yang sebenarnya sedang saya perbaiki kalau saya memangkasnya?
Saya bisa saja bangga berhasil menghemat beberapa puluh ribu rupiah, lalu setiap pagi kesal karena sarapannya tidak saya suka.
Prestasinya agak sulit dipajang di ruang tamu.
Mungkin yang penting bukan kecil atau besar, tetapi apakah totalnya pernah kita lihat
Di sinilah saya merasa judul “pengeluaran kecil bikin boros” terlalu gampang.
Satu transaksi kecil memang bisa terasa tidak penting. Apalagi kalau dilakukan berkali-kali tanpa pernah dilihat sebagai satu kelompok.
Tapi pengalaman saya justru sedikit berbeda.
Saya tidak terlalu terganggu oleh banyak transaksi kecil selama saya sudah tahu total kasarnya dan saya merasa manfaatnya sepadan.
Yang mungkin lebih berbahaya justru bukan angka Rp10.000 atau Rp20.000 itu sendiri.
Masalahnya muncul kalau saya tidak pernah melihat frekuensinya.
Rp20.000 sekali mungkin tidak perlu dipikirkan panjang. Tetapi kalau ternyata dilakukan dua puluh kali dalam sebulan, sekarang saya punya informasi baru: itu sebenarnya pengeluaran Rp400.000.
Setelah itu barulah menurut saya pertanyaannya menarik.
Bukan, “Bagaimana caranya supaya saya berhenti mengeluarkan Rp20.000?”
Melainkan: kalau sejak awal pengeluaran ini ditampilkan sebagai Rp400.000, apakah saya masih merasa barang atau kenyamanan yang saya dapatkan sepadan?
Kalau jawabannya iya, mungkin memang tidak ada masalah.
Tidak semua uang yang keluar harus diselamatkan.
Saya lebih takut pada pengeluaran yang tidak saya pilih dengan sadar
Saya sendiri ternyata tidak punya cerita dramatis tentang melihat mutasi rekening lalu menemukan ratusan ribu rupiah hilang dalam transaksi kecil.
Saya sudah menghitung pengeluaran kecil rutin saya.
Bahkan soal top up kartu tol pun saya punya pertimbangan sendiri.
Dulu saya bisa saja mengisi saldo untuk kebutuhan sebulan sekaligus. Tapi kemudian saya berpikir, bagaimana kalau kartunya rusak atau hilang?
Akhirnya sekarang saya isi lagi ketika saldonya habis.
Agak merepotkan sedikit, tapi beginilah kalau orang pelit diberi akses ke kalkulator. Semua benda mulai mempunyai skenario risiko.
Namun dari sini saya malah menyadari sesuatu.
Mungkin tujuan melihat pengeluaran kecil bukan supaya saya merasa bersalah setiap membeli sesuatu.
Saya hanya ingin tahu bentuk aslinya.
Kalau sepuluh transaksi Rp30.000 sebenarnya berarti saya memilih mengeluarkan Rp300.000 untuk sesuatu yang memang saya nikmati, saya bisa menerimanya.
Tapi kalau setelah melihat Rp300.000 itu saya sendiri bingung uangnya dipakai untuk apa, mungkin di situlah saya perlu memperhatikannya.
Bukan karena pengeluarannya kecil.
Melainkan karena saya ternyata berkali-kali mengambil keputusan yang bahkan tidak terlalu saya anggap penting.
Jadi sekarang saya tidak terlalu tertarik bertanya, “Apakah Rp20.000 ini terlalu banyak?”
Saya lebih tertarik bertanya: kalau semua Rp20.000 itu dikumpulkan dan ditaruh di depan saya sebagai satu angka, apakah saya masih rela membayarnya?
