Kenapa Bayar Pakai QRIS Terasa Lebih Ringan daripada Pakai Uang Tunai?

Daftar Isi

Saya hampir setiap hari membeli kebutuhan kecil di Indomaret atau Alfamart. Dan sekarang kalau membayar, saya lebih sering pakai QRIS.

Kasir menyebut nominalnya, saya buka handphone, kasih barcode, selesai.

Enak.

Saya tidak perlu membuka dompet, menghitung uang, mencari pecahan, atau memikirkan apakah nanti kembaliannya Rp500 akan berubah bentuk menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak saya minta.

Masalahnya baru terasa ketika suatu hari saya mau melakukan pembayaran atau transfer uang.

Saya melihat saldo.

Kok berkurang banyak?

Akhirnya saya cek mutasi rekening. Tidak ada satu transaksi besar yang mencurigakan. Tidak ada juga transaksi misterius yang bisa saya salahkan sambil berkata, “Nah, ini pelakunya.”

Isinya justru pembayaran saya sendiri.

QRIS. QRIS. QRIS lagi.

Kalau dilihat satu per satu, rasanya biasa saja. Tetapi setelah dikumpulkan selama seminggu, ternyata lumayan banyak juga.

Di situ saya mulai berpikir: mungkin bukan cuma jumlah uang yang memengaruhi perasaan saya ketika belanja. Cara uang itu keluar juga mungkin ikut berpengaruh.

Ilustrasi pembayaran QRIS di ponsel dan tiga lembar uang Rp100.000 yang menunjukkan perbedaan rasa saat mengeluarkan uang.

Uang tunai membuat saya tahu isi dompet

Kalau membayar dengan uang tunai, saya merasa prosesnya sedikit berbeda.

Sebelum membeli sesuatu, saya tahu kira-kira berapa uang yang ada di dompet. Kalau pecahannya besar, saya juga sadar bahwa saya harus memecah uang itu.

Misalnya cuma ada uang Rp100.000.

Saya membeli sesuatu, menyerahkan uang tersebut, lalu menerima beberapa lembar uang kembali. Setelah transaksi selesai saya bisa langsung melihat bahwa isi dompet sudah berubah.

Bahkan pecahan uangnya ikut saya pikirkan.

Kalau uang kecil sudah banyak, saya mungkin memakai uang kecil. Kalau tinggal pecahan besar, saya sadar saya sedang mengambil uang yang nilainya lumayan dari dompet.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Tetapi ada proses fisiknya.

Uangnya terlihat.

Jumlahnya terasa.

Setelah membayar, sisanya juga terlihat.

Kalau menggunakan QRIS, saya tidak melakukan semua itu.

Saya tidak perlu tahu ada berapa lembar uang di dompet. Saya tidak perlu memikirkan pecahan. Bahkan saya tidak perlu memikirkan uang kembalian.

Nominal muncul, bayar, selesai.

Untuk membeli kebutuhan sehari-hari ini jelas jauh lebih praktis. Saya juga tidak mau kembali ke masa ketika setelah belanja saya harus mengecek kantong celana untuk memastikan uang receh tidak pindah rumah ke mesin cuci.

Tapi praktisnya proses itu ternyata membuat pengalaman membayar menjadi lebih tipis.

Tiga lembar Rp100.000 terasa berbeda dengan angka Rp300.000

Saya mencoba membandingkannya dengan pengeluaran yang sedikit lebih besar.

Misalnya membayar kursus online Rp300.000.

Kalau menggunakan QRIS atau pembayaran digital, saya melihat angka Rp300.000, melakukan pembayaran, lalu selesai.

Sekarang bayangkan kalau saya harus mengambil tiga lembar uang Rp100.000 dari dompet dan menyerahkannya satu per satu.

Bagi saya rasanya berbeda.

Padahal jumlahnya sama persis.

Tiga ratus ribu ya tetap tiga ratus ribu. Tidak akan tiba-tiba menjadi Rp217.000 hanya karena saya membayar sambil menatap uangnya dengan sedih.

Tetapi melihat tiga lembar uang berpindah tangan membuat pengeluaran itu terasa lebih nyata.

Ada istilah dalam perilaku konsumen yang sering disebut pain of paying: rasa tidak nyaman yang muncul ketika kita menyadari bahwa kita sedang melepaskan uang.

Saya tidak merasa istilah itu menjelaskan semua keputusan belanja saya. Tetapi setelah membandingkan pengalaman menggunakan uang tunai dan QRIS, saya bisa memahami maksudnya.

Pembayaran digital mengurangi beberapa hal kecil yang biasanya menyertai proses mengeluarkan uang.

Tidak ada uang yang berpindah tangan di depan mata saya.

Tidak ada isi dompet yang langsung terlihat berkurang.

Tidak ada urusan pecahan.

Dan mungkin karena itulah beberapa transaksi kecil terasa seperti tidak meninggalkan bekas sampai saya melihat saldo rekening.

Tetapi saya tetap tidak mau menyalahkan QRIS

Meski begitu, saya tidak merasa kesimpulannya harus menjadi: QRIS bikin boros.

Menurut saya itu terlalu gampang.

Saya justru sangat terbantu dengan QRIS.

Kalau membeli sesuatu di Alfamart, Indomaret, atau warung, saya tidak perlu memikirkan uang receh dan kembalian. Transaksi cepat. Pembayaran juga tercatat sehingga nanti saya bisa melihat kembali pengeluaran saya.

Kejadian saya melihat saldo berkurang banyak tadi malah bisa diketahui karena ada catatan mutasinya.

Kalau semuanya saya bayar tunai dan tidak mencatat, mungkin ceritanya berbeda.

Saya hanya akan membuka dompet, menemukan uang tinggal sedikit, lalu berusaha mengingat ke mana perginya.

Dan ingatan saya mengenai pengeluaran kecil biasanya tidak bisa dijadikan saksi yang terlalu dipercaya.

Jadi menurut saya metode pembayaran bukan penentu utama apakah saya akan boros atau tidak.

Kalau saya tetap membeli sesuatu hanya karena lapar mata, menggunakan uang tunai pun saya masih bisa membeli.

Kalau saya tahu apa yang saya butuhkan dan bisa mengontrol apa yang saya inginkan, QRIS ya hanya alat pembayaran.

Tapi sekarang saya jadi sadar satu hal.

Alat pembayaran yang sangat mudah mungkin menghilangkan sedikit gesekan yang dulu otomatis ada ketika saya mengeluarkan uang.

Bukan berarti gesekan itu selalu bagus. Saya juga tidak ingin setiap membeli sabun mandi harus mengalami pergulatan batin hanya supaya merasa bertanggung jawab terhadap keuangan.

Tetapi pengalaman melihat mutasi seminggu itu membuat saya sedikit lebih memperhatikan transaksi-transaksi kecil.

Karena masalahnya ternyata bukan QRIS mengambil uang saya diam-diam.

Saya sendiri yang membayarnya satu per satu.

Hanya saja saat melakukannya, masing-masing terasa kecil sekali.

Rp50.000 tetap Rp50.000, baik saya menyerahkan selembar uang maupun cukup melakukan pembayaran dari handphone.

Tetapi ternyata kepala saya belum tentu merasakan kedua cara membayar itu dengan berat yang sama.