Kalau Pengeluaran Bulanan Selalu Berubah, Bagaimana Menentukan Uang yang Boleh Dipakai?

Daftar Isi

Kalau saya harus menentukan sejak tanggal 1 berapa persis uang yang akan saya habiskan sampai akhir bulan, saya juga tidak tahu.

Pengeluaran sehari-hari memang tidak selalu sama. Bulan ini mungkin biasa saja. Bulan depan tiba-tiba ada upacara keagamaan di luar rumah, hadiah, sedekah, atau pengeluaran lain yang sebelumnya tidak masuk hitungan.

Jadi kalau budget harus selalu tepat sampai akhir bulan, sepertinya saya juga akan gagal.

Saya tidak punya kemampuan melihat masa depan. Kalau punya, mungkin penggunaannya bukan untuk menghitung uang belanja bulanan. 🤣

Karena itu saya justru tidak memulai dari pertanyaan, “Bulan ini saya harus menghabiskan maksimal berapa?”

Saya mulai dari uang yang sudah punya tugas.

Ilustrasi uang operasional yang dibatasi setelah beberapa dana untuk kebutuhan lain dipisahkan.

Saya Memisahkan Uang yang Tidak Boleh Ikut Dihabiskan

Ketika gaji masuk, ada beberapa dana yang saya pisahkan lebih dulu. Misalnya dana darurat, dana sekolah, dan dana upacara. Untuk beberapa kebutuhan itu saya menggunakan nominal yang sudah saya tetapkan.

Setelah semuanya dipisahkan, sisanya menjadi dana operasional bulanan.

Sederhananya, uang itulah yang memang tersedia untuk menjalani bulan tersebut.

Saya suka cara ini karena saya tidak perlu melihat seluruh uang yang saya punya lalu berpikir semuanya masih boleh digunakan. Ada uang yang secara saldo memang masih milik saya, tetapi di kepala saya sudah bukan uang belanja.

Ini juga alasan saya lebih tenang kalau uang untuk kebutuhan sudah dipisahkan sejak awal. Setelah uang mempunyai tugas masing-masing, menentukan batas pengeluaran menjadi lebih sederhana.

Rekening operasional akhirnya seperti batas yang terlihat. Saya pernah menulis tentang kenapa saldo yang bisa dipakai tidak terlihat besar justru membantu saya mengatur uang. Hubungannya ada di sini: saya tidak harus mengingat terus berapa batas pengeluaran saya. Saldo yang tersedia sudah membantu menunjukkannya.

Tetapi ada satu hal penting: saldo operasional itu bukan target yang harus dihabiskan.

Kalau masih tersisa, ya bagus. Tidak ada kewajiban menghabiskannya hanya karena dari awal sudah mendapat izin. Uang juga tidak akan tersinggung karena kurang diperhatikan.

Masalahnya, Kehidupan Tidak Mengikuti Budget Saya

Sampai sekarang, syukurnya dana operasional saya belum pernah habis sebelum waktunya. Tetapi bukan berarti pengeluaran saya selalu sesuai perkiraan.

Yang biasanya membuat meleset justru pengeluaran seperti upacara keagamaan di luar rumah, hadiah, atau sedekah.

Pengeluaran seperti ini menarik karena tidak selalu bisa dimasukkan ke angka yang sama setiap bulan. Ada bulan ketika tidak banyak. Ada juga bulan ketika beberapa datang berdekatan.

Dan ini bukan sesuatu yang aneh dalam budgeting. Pengeluaran yang jumlahnya berubah dari bulan ke bulan memang termasuk pengeluaran variabel. Saat membuat anggaran yang realistis, melihat pengeluaran beberapa bulan sebelumnya juga bisa membantu menangkap biaya yang tidak muncul setiap bulan, termasuk hadiah, kegiatan musiman, dukungan keluarga, dan pengeluaran lain yang lebih jarang terjadi.

Jadi budget yang meleset sedikit tidak otomatis berarti budget-nya jelek.

Yang lebih berguna justru melihat kenapa meleset.

Kalau setiap beberapa bulan saya ternyata mengeluarkan uang untuk hal yang sama, mungkin masalahnya bukan pengeluaran itu “mendadak” terus. Bisa jadi saya saja yang belum memasukkannya dengan cukup baik ke dalam perhitungan.

Di sinilah catatan bulan-bulan sebelumnya lebih berguna daripada mencoba membuat angka yang terlihat sempurna di awal bulan.

Saya Membiarkan Sisa Bulan Sebelumnya Menjadi Bantalan

Kalau dana operasional masih tersisa di akhir bulan, selama ini saya membiarkannya mengendap untuk bulan berikutnya.

Salah satu alasannya justru karena saya tahu pengeluaran tidak selalu berjalan lurus.

Sisa itu bisa membantu ketika bulan berikutnya sedikit lebih ramai. Misalnya ada hadiah atau keperluan lain yang sebelumnya tidak saya perkirakan.

Mungkin kalau jumlah yang mengendap sudah mencapai nominal tertentu, baru akan saya pindahkan ke dana darurat. Tetapi selama ini saya tidak buru-buru membersihkan rekening operasional sampai kembali ke angka tertentu setiap akhir bulan.

Buat saya, sedikit sisa memberi ruang.

Artinya batas pengeluaran saya sebenarnya bukan angka yang harus selalu identik setiap bulan. Saya mempunyai dasar yang cukup jelas: uang yang tersisa setelah dana-dana lain dipisahkan. Tetapi kenyataan bulan sebelumnya ikut memengaruhi ruang yang saya punya bulan berikutnya.

Kalau suatu saat dana operasional benar-benar tidak cukup, rencana saya adalah menggunakan dana darurat. Tetapi bagian ini juga membuat saya perlu berhati-hati. Dana darurat pada dasarnya memang ditujukan untuk pengeluaran yang tidak direncanakan atau keadaan darurat, bukan untuk menutup kekurangan rutin setiap bulan.

Kalau saya sampai harus mengambilnya berulang kali hanya karena dana operasional selalu kurang, saya rasa masalahnya bukan lagi “bulan ini kebetulan meleset”. Bisa jadi batas yang saya buat memang tidak realistis.

Budget Saya Tidak Perlu Menang Melawan Kenyataan

Jadi kalau pengeluaran bulanan berubah-ubah, saya rasa cara menentukan uang yang boleh dipakai tidak harus dimulai dengan mencari angka sakti.

Saya lebih mudah memulainya dengan mengeluarkan dulu uang yang memang sudah punya tugas: tabungan, dana darurat, dana sekolah, dana upacara, atau kebutuhan lain yang memang sengaja saya pisahkan.

Baru setelah itu saya melihat sisanya.

Itulah uang yang benar-benar tersedia untuk menjalani bulan tersebut. Lalu kenyataannya dilihat lagi: apakah selama beberapa bulan jumlah itu memang cukup?

Kalau selalu kurang, mungkin batasnya terlalu ketat. Kalau sering tersisa, sisa tersebut bisa dibiarkan menjadi bantalan atau nanti dipindahkan ke tujuan lain. Tidak harus langsung dianggap uang bebas hanya karena kalender sudah berganti bulan.

Tentu cara seperti ini juga punya batas. Tidak semua orang mempunyai pendapatan yang cukup untuk memisahkan uang lebih dulu. Ada kondisi ketika kebutuhan pokok memang sudah mengambil hampir seluruh pemasukan. Kalau angka dasarnya memang tidak cukup, membuat kategori lebih rapi tidak akan tiba-tiba menciptakan uang tambahan.

Untuk kondisi saya sekarang, yang saya butuhkan ternyata bukan budget yang mampu menebak semua pengeluaran sejak awal.

Saya hanya perlu sebuah batas yang cukup masuk akal untuk memberi tahu: selama masih di dalam sini, aman. Kalau mulai mendekati batas, waktunya lebih hati-hati.

Bulan berikutnya saya bisa melihat lagi apa yang sebenarnya terjadi dan menyesuaikannya.

Budget akhirnya lebih mirip angka kerja sementara daripada ramalan. Dan saya rasa itu lebih masuk akal, karena kehidupan saya sendiri juga tidak pernah meminta izin dulu sebelum menambah pengeluaran.