Kalau Budget Bulanan Meleset, Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?
Budget bulanan saya paling gampang meleset kalau tiba-tiba ada upacara di luar rumah.
Misalnya ada upacara kematian atau pernikahan. Pengeluaran seperti ini tidak selalu bisa saya prediksi tanggal 1. Tidak mungkin juga saya bilang, “Maaf, bulan ini tidak ada di budget. Bisa menikah bulan depan saja?” 😁
Selama ini kalau selisihnya cukup besar, saya biasanya mengambilnya dari dana darurat.
Tapi belakangan saya berpikir, kalau budget meleset, mungkin masalah pertama yang perlu dicari bukan bagaimana caranya supaya bulan depan saya lebih disiplin. Saya perlu tahu dulu kenapa angka yang saya buat berbeda dengan kenyataannya.
Karena ternyata penyebabnya bisa sangat berbeda.
Budget meleset belum tentu karena saya boros
Ada pengeluaran yang memang tidak saya rencanakan, tetapi ketika terjadi rasanya tetap wajar untuk dikeluarkan.
Hadiah ulang tahun anak, misalnya.
Kalau sudah urusan anak, teori keuangan kadang mulai kehilangan sedikit kewibawaannya. 😁 Saya ingin membelikan sesuatu yang bagus. Akhirnya nominal yang keluar bisa lebih besar daripada yang awalnya saya bayangkan.
Apakah itu berarti budget saya gagal?
Saya rasa belum tentu.
Masalahnya mungkin saya memang tidak memperhitungkan pengeluaran tersebut dengan cukup baik. Apalagi kalau kejadian semacam itu sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar mengejutkan.
Ini yang mulai membuat saya membedakan antara kejadian sekali dengan pola.
Kalau suatu pengeluaran hanya muncul sekali karena kondisi yang benar-benar tidak biasa, saya mungkin tidak perlu mengubah seluruh budget bulan berikutnya gara-gara itu.
Tapi kalau pengeluaran yang sama berkali-kali muncul dan setiap kali saya berkata, “Wah, kok meleset lagi?”, lama-lama saya juga harus curiga kepada angka yang saya buat sendiri.
Kalau rencana selalu mengatakan RpX sementara kenyataannya berkali-kali membutuhkan RpY, mungkin RpY yang lebih dekat dengan kehidupan saya sebenarnya.
Tapi jangan sampai semua pengeluaran mendapat pembelaan
Masalahnya, alasan “budget memang fleksibel” juga enak sekali dipakai.
Saya pernah membeli tablet secara impulsif sekitar dua tahun lalu. Saya juga pernah mengeluarkan uang untuk membayar Wi-Fi setahun sekaligus.
Pengeluaran seperti itu berbeda dengan tiba-tiba ada upacara kematian.
Saya tidak bisa memasukkan semuanya ke kotak yang sama lalu berkata, “Ya begitulah hidup, sulit diprediksi.” Tablet itu tidak muncul sendiri di rumah lalu meminta saya membayarnya. Saya yang memutuskan membeli.
Jadi ketika pengeluaran melebihi budget, menurut saya selisihnya perlu dilihat dulu penyebabnya.
Ada pengeluaran yang sebenarnya bisa dihindari. Ada yang wajar tetapi lupa saya perhitungkan. Ada yang nominalnya memang berubah. Ada juga kejadian yang benar-benar tidak biasa.
Kelihatannya sama-sama membuat saldo berkurang. Tapi untuk bulan berikutnya, responsnya seharusnya tidak sama.
Kalau masalahnya keputusan impulsif, menaikkan budget mungkin malah menjadi cara yang sangat sopan untuk meresmikan kebiasaan saya sendiri.
“Bulan lalu kebanyakan belanja. Baiklah, bulan depan anggaran belanjanya kita naikkan.”
Kalau begitu mah budget-nya yang mengikuti nafsu. 😁
Kapan angkanya yang harus berubah?
Saya sendiri cenderung mencoba menekan pengeluaran terlebih dahulu.
Kalau ternyata pengeluaran itu memang tidak bisa diganggu gugat, barulah saya mempertimbangkan memotong bagian lain dan membawa uangnya ke kantong yang memang membutuhkan tambahan.
Saya rasa di sinilah budget mulai berguna bukan hanya sebagai batas, tetapi juga sebagai catatan tentang kenyataan.
Sebelumnya saya pernah membahas bagaimana menentukan uang yang boleh dipakai ketika pengeluaran bulanan selalu berubah. Tetapi setelah batas itu dibuat, ternyata pekerjaannya belum selesai.
Kenyataan tetap bisa berbeda.
Selisih antara rencana dan kenyataan itu justru memberi informasi. Kalau bulan ini meleset, saya bisa melihat apa penyebabnya. Kalau penyebab yang sama muncul lagi bulan depan, berarti sudah mulai ada pola.
Dari sana saya baru bisa memutuskan: apakah perilaku saya yang perlu diperbaiki, apakah ada jenis pengeluaran yang selama ini lupa saya siapkan, atau memang angka budget-nya terlalu kecil.
Saya juga biasanya membiarkan sisa uang bulanan tetap mengendap untuk dibawa ke bulan berikutnya. Buat saya, itu memberi sedikit ruang ketika bulan berikutnya ternyata tidak berjalan persis seperti yang saya bayangkan.
Jadi fleksibel bukan berarti tidak punya batas. Justru batasnya tetap ada, hanya saja saya tidak berharap kehidupan selalu patuh pada spreadsheet yang bahkan tidak pernah diajak rapat. 😁
Budget yang salah juga menghasilkan informasi
Mungkin selama ini yang membuat budget terasa menyebalkan adalah saya menganggap angka yang dibuat di awal bulan sebagai jawaban yang sudah benar.
Padahal itu baru perkiraan.
Kalau ternyata realisasinya berbeda, saya tidak harus langsung menyimpulkan bahwa saya tidak disiplin. Tapi saya juga tidak boleh otomatis menyalahkan budget supaya semua pengeluaran terasa sah.
Saya perlu melihat selisihnya, mencari penyebabnya, lalu bertanya apakah kemungkinan besar hal tersebut akan terjadi lagi.
Kalau ternyata saya cuma tergoda membeli sesuatu, mungkin yang perlu berubah adalah keputusan saya.
Kalau pengeluaran yang sama terus muncul dan memang sulit dihindari, mungkin angka budget-nya yang perlu diperbaiki.
Mirip Google Maps yang bilang perjalanan akan memakan waktu 30 menit, tetapi setiap hari kenyataannya 50 menit. Kalau itu terjadi sekali, mungkin memang sedang macet. Kalau terjadi terus selama berbulan-bulan, rasanya aneh kalau saya tetap berangkat dengan perhitungan 30 menit lalu setiap hari marah-marah di jalan. 🤣
Mungkin estimasinya memang perlu diperbaiki.
Budget bulanan juga begitu. Buat saya, meleset sekali belum banyak bicara. Tetapi kalau meleset dengan alasan yang sama berkali-kali, selisih itu mulai mengatakan sesuatu.
Dan mungkin bagian penting dari mengatur uang bukan membuat angka yang tidak pernah salah, tetapi mau mengoreksi angka ketika kehidupan berkali-kali menunjukkan kenyataan yang berbeda.
