Di Bali, Orang Lokal Juga Bisa Menjadi Tamu

Daftar Isi

Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti dunia lari.

Bukan karena saya membenci olahraga. Saya hanya merasa hidup sudah cukup membuat saya berlari ke sana kemari. Bangun pagi, berangkat kerja, mengantar orang, pulang sore. Kalau masih disuruh lari lagi, saya takut badan saya mengira sedang dikejar utang.

Tetapi beberapa hari ini ada cerita tentang komunitas lari di Bali yang ramai dibicarakan.

Katanya, ada orang Indonesia yang tidak diterima masuk. Setelah ditanya berasal dari mana dan menjawab Indonesia, permintaannya malah ditolak.

Pihak komunitas kemudian meminta maaf. Katanya ada kesalahan pada sistem otomatis. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi di belakang layar. Bisa saja memang sistemnya bermasalah.

Teknologi memang kadang aneh.

Printer di kantor saja bisa lancar mencetak 50 lembar yang salah, tetapi ketika diminta mencetak satu lembar penting, mendadak minta istirahat.

Namun tetap saja ada sesuatu yang terasa lucu.

Orang Indonesia mau ikut kegiatan di Indonesia, tetapi malah harus menjelaskan kenapa dirinya pantas diterima.

Ini seperti saya datang ke dapur rumah sendiri, lalu ditanya oleh tamu:

“Bapak ada keperluan apa?”

Saya cuma mau ambil air minum.

“Sudah daftar?”

Orang lokal tidak diterima

Mungkin Kita Terlalu Ramah

Bali memang dari dulu menerima banyak orang.

Ada yang datang liburan. Ada yang tinggal lama. Ada yang membuka usaha. Ada juga yang baru tiga bulan tinggal di Canggu, tetapi sudah bicara tentang Bali seperti seorang tetua desa.

“Bali has changed.”

Iya, Pak. Saya juga tinggal di sini sejak lahir. Saya tahu.

Saya tidak punya masalah dengan orang asing yang datang ke Bali. Banyak yang sopan, menghargai budaya, berteman dengan warga lokal, dan menjalankan usaha dengan benar.

Tetapi kadang ada orang yang terlalu nyaman.

Awalnya datang sebagai tamu.

Lalu merasa betah.

Kemudian membuat kelompok sendiri.

Lama-lama orang lokal yang mau ikut malah dilihat seperti orang asing.

Manusia memang cepat sekali merasa memiliki. Baru beberapa bulan tinggal di suatu tempat, sudah mulai memilih siapa yang cocok masuk ke lingkarannya.

Saya saja tinggal puluhan tahun di Bali masih sering bingung mencari jalan karena Google Maps menyuruh masuk gang yang lebarnya hanya cukup untuk satu motor dan dua ekor ayam.

Bukan Soal Lari

Masalah ini sebenarnya bukan soal komunitas lari.

Kalau cuma tidak diterima masuk grup WhatsApp, mungkin orang itu justru sedang diselamatkan. Grup WhatsApp adalah tempat di mana 20 orang berkumpul, tiga orang bicara, dan sisanya mengirim stiker jempol.

Yang membuat orang kesal adalah rasa anehnya.

Kenapa orang lokal harus merasa seperti tamu di tempat tinggalnya sendiri?

Jalan yang dipakai untuk berlari adalah jalan yang setiap hari juga dipakai orang pergi kerja, mengantar anak, membawa sayur, dan mencari parkir.

Tetapi ketika kegiatan dibuat lebih keren, memakai musik, sepatu mahal, dan foto yang warnanya agak cokelat, tempat itu mendadak terasa seperti milik kelompok tertentu.

Orang lokal boleh lewat.

Tetapi jangan terlalu mengganggu suasana.

Mungkin nanti sebelum masuk Canggu kita harus memilih:

Warga lokal, wisatawan, digital nomad, atau hanya numpang beli nasi campur.

Kita Juga Jangan Terlalu Cepat Marah

Saya tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa semua orang asing seperti itu.

Itu juga tidak adil.

Satu komunitas bermasalah bukan berarti semua pendatang harus disuruh pulang. Sama seperti satu orang Bali berbuat buruk tidak berarti seluruh orang Bali perlu dikumpulkan di lapangan lalu diberi pengarahan.

Tetapi kejadian seperti ini tetap perlu dibicarakan.

Bukan untuk membuat keributan. Bukan juga supaya kita ramai-ramai marah selama dua hari, lalu minggu depan lupa karena ada video lain yang lebih menarik.

Kita hanya perlu mengingat bahwa ramah bukan berarti tidak punya batas.

Orang boleh datang.

Orang boleh tinggal.

Orang boleh membuat komunitas, usaha, acara lari, acara yoga, mandi es, atau kegiatan lain yang membuat saya lelah hanya dengan membaca jadwalnya.

Tetapi jangan sampai orang yang dari awal tinggal di sini malah harus bertanya:

“Saya boleh masuk tidak?”

Karena kalau itu mulai terasa biasa, suatu hari kita mungkin benar-benar menjadi tamu.

Bukan di negara orang.

Di rumah sendiri.