Apa Bedanya Cari Muka dengan Membuat Pekerjaan Kita Terlihat?

Daftar Isi

Saya sendiri ternyata agak susah membedakan orang yang sedang cari muka dengan orang yang cuma membuat pekerjaannya terlihat.

Selama ini ukuran saya sederhana. Kalau ada yang bertanya, “Sedang kerjakan apa?” lalu dia menjelaskan pekerjaannya, ya wajar. Memang ditanya.

Yang mulai terasa seperti cari muka adalah ketika tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada yang bertanya, tiba-tiba muncul laporan bahwa dia sudah melakukan ini, itu, dan anu. Apalagi kalau cara menyampaikannya membuat pekerjaan yang sebenarnya memang bagian dari job desk terdengar seperti sebuah pencapaian luar biasa.

Kurang lebih seperti baru saja menyelamatkan perusahaan, padahal mungkin memang itu pekerjaan yang harus dilakukan hari itu. 😅

Tapi setelah saya pikir lagi, ukuran saya ini juga belum tentu benar.

Dua pekerja menyelesaikan pekerjaan yang sama, satu memilih diam sementara satu lainnya menyampaikan progres kepada atasan.

Orang yang bicara memang akan lebih terlihat

Bayangkan ada dua orang dengan pekerjaan yang sama bagusnya.

Yang satu bekerja, selesai, lalu diam.

Yang satunya rutin memberikan informasi mengenai progres pekerjaannya kepada atasan.

Kalau akhirnya atasan lebih tahu pekerjaan orang kedua, menurut saya itu wajar. Atasan jadi punya informasi. Dia tahu pekerjaannya sudah sampai mana, mungkin bisa melihat seberapa efektif orang tersebut bekerja, dan tahu apa yang sedang terjadi.

Bahkan ada bonus yang agak berbahaya: karena kelihatan mampu dan progresnya jelas, mungkin dia malah diberikan tambahan pekerjaan. 😅

Jadi terlihat oleh atasan ternyata tidak selalu berakhir dengan tepuk tangan. Kadang hadiahnya adalah, “Bagus. Sekalian yang ini ya.”

Di sini saya mulai merasa bahwa menyebut orang seperti itu cari muka juga kurang adil.

Kalau informasi yang dia berikan memang benar, pekerjaannya memang dia lakukan, dan yang disampaikan memang progres pekerjaan, apa yang salah?

Mungkin masalahnya bukan dia terlalu banyak bicara.

Bisa jadi orang lain terlalu sedikit bicara.

Tapi saya sendiri tetap tidak merasa semua hal harus dilaporkan

Nah, di sinilah saya juga tidak bisa sepenuhnya masuk ke kubu “semua pekerjaan harus dibuat terlihat”.

Kalau tidak ada yang menanyakan progres, pekerjaan masih berjalan normal, dan tidak ada hambatan, saya sendiri lebih memilih tidak memberitahu.

Kerjakan saja.

Kalau ditanya, jelaskan. Kalau menemukan hambatan, sampaikan. Kalau memang ada sesuatu yang perlu diketahui, tentu beri tahu.

Tapi kalau setiap pekerjaan rutin harus diumumkan, saya juga merasa aneh.

Misalnya pekerjaan itu memang sudah menjadi tanggung jawab saya. Saya mengerjakannya dengan benar. Tidak ada masalah. Semuanya selesai sesuai yang seharusnya.

Lalu saya datang khusus untuk memberitahu bahwa saya sudah mengerjakan pekerjaan yang memang harus saya kerjakan.

Di kepala saya masih ada suara kecil: memangnya kenapa? 😅

Namun masalah dengan cara berpikir seperti ini adalah saya menyerahkan terlalu banyak hal kepada asumsi.

Saya menganggap orang lain tahu apa yang saya kerjakan. Saya menganggap atasan tahu pekerjaan itu sudah selesai. Saya menganggap hasil pekerjaan akan cukup menjelaskan siapa yang mengerjakannya dan bagaimana prosesnya.

Padahal belum tentu.

Atasan tidak melihat semua hal yang terjadi sepanjang hari. Apalagi pekerjaan yang justru berjalan mulus. Ketika tidak ada masalah, sering kali tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mencari tahu lebih jauh.

Lucunya, pekerjaan yang bagus kadang justru membuat proses di belakangnya tidak kelihatan. Yang terlihat cuma: beres.

Mungkin yang perlu dibedakan adalah informasinya

Saya awalnya berpikir batasnya ada pada siapa yang memulai percakapan.

Kalau ditanya lalu menjelaskan, wajar. Kalau tidak ditanya tetapi sibuk menceritakan pekerjaannya, mulai mencurigakan.

Sekarang saya rasa batas itu terlalu sederhana.

Ada informasi yang memang layak disampaikan meskipun tidak ada yang bertanya. Misalnya ada hambatan, perubahan kondisi, sesuatu yang berpengaruh pada pekerjaan orang lain, atau perkembangan yang memang perlu diketahui atasan.

Memberitahukan hal seperti itu bukan cari muka. Itu komunikasi kerja.

Sebaliknya, bahkan ketika seseorang ditanya pun dia masih bisa membesar-besarkan perannya sendiri.

Jadi mungkin masalahnya bukan sekadar bicara atau diam.

Yang lebih menarik adalah: apa yang sebenarnya sedang dikomunikasikan?

Apakah kita sedang memberikan informasi mengenai pekerjaan, atau sedang berusaha membuat pekerjaan biasa terdengar jauh lebih istimewa daripada kenyataannya?

Kalau memang mengerjakan A, ya bilang mengerjakan A. Tidak perlu mengubah A menjadi operasi penyelamatan nasional.

Dan saya rasa di situlah saya mulai melihat sedikit perbedaannya.

Kadang label “cari muka” juga datang dari orang lain

Ada satu masalah lagi: selama ini saya sendiri sebenarnya tidak selalu bisa membedakan mana yang benar-benar cari muka.

Yang lebih sering saya dengar justru pendapat teman sekerja.

Si A pamer.

Si A menjilat.

Si A begini.

Si A begitu.

Setelah cukup lama mendengar komentar seperti itu, gampang sekali ikut mempunyai kesan terhadap seseorang meskipun saya sendiri tidak benar-benar tahu apa yang terjadi antara dia dan atasannya.

Dan ini membuat saya sedikit curiga pada penilaian saya sendiri.

Jangan-jangan ada orang yang memang suka cari perhatian. Bisa saja.

Tapi bisa juga sebagian dari mereka sebenarnya cuma lebih terbuka mengenai pekerjaannya daripada orang-orang yang memilih diam.

Kalau kemudian atasan lebih mengetahui kontribusinya, saya rasa itu bukan sesuatu yang aneh.

Justru orang yang selalu diam yang mengambil risiko.

Saya masih tidak merasa setiap pekerjaan perlu diumumkan. Saya juga masih akan merasa aneh kalau pekerjaan rutin diceritakan seolah baru melakukan sesuatu yang luar biasa.

Tapi saya mulai tidak yakin bahwa diam selalu lebih baik.

Mungkin membuat pekerjaan terlihat bukan berarti membuat diri sendiri terlihat hebat. Kadang kita cuma memastikan orang yang perlu tahu memang mendapatkan informasi yang perlu dia tahu.

Dan kalau saya memilih diam terus, mungkin itu bukan selalu rendah hati.

Bisa saja saya cuma berharap orang lain bisa membaca pikiran saya.