Kenapa Semakin Bisa Diandalkan, Kerjaan Kita Malah Semakin Banyak?

Daftar Isi

Dulu saya pernah diminta membantu departemen lain karena ada grup yang akan check-in.

Awalnya ya membantu saja. Saya diminta menunggu dan melayani grup tersebut, sementara orang-orang dari departemen yang sebenarnya bertanggung jawab pergi melayani tamu lain yang mungkin dianggap lebih "basah".

Masalahnya, setelah itu saya seperti ditinggal begitu saja.

Tidak ada yang bertanya apakah situasinya aman. Tidak ada yang bertanya apakah saya perlu bantuan. Bahkan tidak ada yang menggantikan sebentar ketika sudah masuk jam makan siang, sementara kantin sebentar lagi tutup.

Saya akhirnya cuma melapor bahwa saya akan makan siang.

Lalu pergi.

Saya pikir kalau saya terus menunggu, grupnya mungkin selesai dilayani. Tapi saya yang tidak selesai makan. 😭

Seorang pekerja menyelesaikan tugas di meja sementara beberapa tangan terus menambahkan pekerjaan baru kepadanya.

Kejadian seperti ini membuat saya memikirkan sesuatu yang agak aneh di tempat kerja. Semakin seseorang dianggap bisa diandalkan, kadang semakin banyak juga pekerjaan yang datang kepadanya.

Kelihatannya seperti pujian.

"Kasih saja ke dia. Pasti beres."

Tapi kalau terlalu sering, kalimat itu bisa berubah menjadi sistem pembagian kerja yang sangat sederhana: siapa yang paling jarang menolak, dia yang dapat.

Awalnya cuma membantu

Saya rasa orang yang cukup capable dalam pekerjaannya kemungkinan pernah mengalami hal seperti ini.

Kita membantu sesuatu yang sebenarnya bukan pekerjaan utama kita. Karena kita bisa, ya kita kerjakan.

Besok ada situasi serupa, kita diminta lagi.

Lalu diminta lagi.

Sampai akhirnya bantuan yang awalnya muncul karena kondisi tertentu pelan-pelan terasa seperti pekerjaan yang memang biasa kita lakukan.

Saya sendiri sering mengatakan iya bukan karena merasa semua pekerjaan harus saya kerjakan. Lebih sering karena sungkan.

Ada juga pikiran bahwa suatu hari nanti saya mungkin membutuhkan bantuan mereka. Kalau sekarang saya membantu, mungkin nanti ketika saya kesulitan, mereka juga akan membantu saya.

Menurut saya pemikiran itu tidak sepenuhnya salah. Tempat kerja memang tidak mungkin berjalan kalau semua orang berdiri sambil menjaga pagar jobdesc masing-masing.

"Itu bukan pekerjaan saya."

"Yang itu juga bukan."

"Yang ini apalagi."

Kalau semuanya begitu, mungkin tamunya sudah pulang sebelum ketemu orang yang pekerjaannya benar. 😂

Membantu orang lain juga ada manfaatnya. Kita belajar hal yang sebelumnya tidak kita kerjakan, orang lain tahu kemampuan kita, dan kadang kesempatan memang datang karena seseorang pernah melihat kita bisa menangani sesuatu.

Jadi saya tidak ingin menjadi orang yang sengaja terlihat tidak mampu hanya supaya pekerjaan tidak datang.

Itu mungkin berhasil mengurangi kerjaan, tetapi rasanya bukan strategi karier yang ingin saya coba.

Masalahnya mungkin bukan cuma orang yang memberi pekerjaan

Yang mulai saya sadari, terlalu mudah kalau semua ini hanya disimpulkan sebagai orang lain memanfaatkan pekerja yang rajin.

Kadang memang bisa begitu.

Tapi saya juga punya bagian dalam masalahnya.

Kalau setiap kali diminta saya menjawab iya, mengerjakannya sampai selesai, dan tidak pernah mengatakan bahwa kapasitas saya sebenarnya sudah penuh, dari mana orang lain tahu batas saya?

Dari sisi mereka, semuanya terlihat baik-baik saja.

Dikasih pekerjaan, selesai.

Dikasih lagi, selesai lagi.

Mungkin justru saya yang diam-diam berharap mereka bisa membaca bahwa saya sudah lelah, sementara saya sendiri tidak pernah mengatakannya.

Dan orang kantor, sejauh yang saya tahu, belum dibekali kemampuan telepati saat masuk kerja.

Ini yang membuat posisi orang yang bisa diandalkan agak rumit.

Kita ingin tetap membantu. Kita juga tidak ingin dianggap susah diajak bekerja sama. Apalagi kalau selama ini hubungan dengan orang lain memang saling membantu.

Tetapi ada titik ketika pekerjaan tambahan mulai membuat kapasitas penuh. Saya pernah merasakannya. Capeknya terasa, sementara pekerjaan tetap harus berjalan.

Di titik seperti itu, mengatakan iya terus-menerus mungkin bukan lagi soal menjadi pekerja yang baik.

Bisa jadi saya cuma tidak enak mengatakan tidak.

Sekarang saya lebih suka memberi batas dari awal

Saya tidak kemudian berubah menjadi orang yang setiap diminta bantuan langsung mengeluarkan kartu sakti: "Bukan jobdesc saya."

Saya masih mau membantu.

Hanya saja sekarang saya merasa batasnya perlu lebih terlihat.

Kalau memang saya hanya bisa membantu sampai jam tertentu, saya akan mengatakan dari awal bahwa saya akan berhenti jam sekian.

Atau saya akan bilang saya bisa membantu sampai bagian tertentu.

Buat saya ini lebih masuk akal daripada menerima semuanya dulu, capek sendiri, lalu berharap orang lain sadar bahwa sebenarnya saya sudah kewalahan.

Setidaknya orang yang meminta bantuan tahu bahwa bantuan tersebut mempunyai batas.

Dan mungkin ini juga membedakan antara dipercaya karena kita mampu dengan selalu diberi pekerjaan karena orang tahu kita pasti menerimanya.

Dari luar keduanya memang terlihat hampir sama. Sama-sama banyak kerjaan. Sama-sama sering dicari orang.

Tapi rasanya berbeda.

Yang satu bisa membuat kemampuan kita berkembang dan membuat orang semakin percaya kepada kita. Yang satunya lagi perlahan bisa membuat pekerjaan tambahan dianggap normal, padahal tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Saya tetap percaya menjadi orang yang bisa diandalkan adalah sesuatu yang baik dalam pekerjaan.

Saya juga masih percaya sesekali mengerjakan sesuatu di luar tanggung jawab utama bukanlah kerugian. Kadang justru dari sana kita belajar banyak.

Tetapi mungkin pekerja yang baik bukan pekerja yang selalu mengatakan iya.

Kadang menjadi profesional juga berarti bisa mengatakan, "Saya bisa bantu, tapi hanya sampai jam sekian."

Karena kalau batas itu tidak pernah saya tunjukkan, saya juga tidak bisa terlalu heran ketika orang lain menganggap batas tersebut memang tidak ada.

Jadi ketika kerjaan semakin banyak karena kita dianggap bisa diandalkan, mungkin pertanyaannya bukan cuma, "Kenapa semuanya diberikan ke saya?"

Saya juga perlu bertanya: saya memang sedang dipercaya karena kemampuan saya, atau orang-orang sudah terbiasa memberikan semuanya kepada saya karena tahu saya akan selalu menerimanya?