Kenapa Kita Merasa Bersalah Saat Pulang Tepat Waktu?

Daftar Isi

Saya pernah ada di situasi ketika pekerjaan saya sebenarnya sudah selesai, tetapi teman kerja masih mengerjakan sesuatu. Rasanya agak tidak enak kalau langsung pulang.

Akhirnya saya bantu secukupnya.

Begitu pekerjaan yang mereka lakukan selesai, saya langsung pulang.

Masalahnya, tidak setiap hari ada sesuatu yang memang perlu dibantu. Kadang pekerjaan saya sudah selesai, tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan, tetapi entah kenapa pulang tepat waktu tetap terasa sedikit mencurigakan.

Apalagi kalau masih ada atasan atau teman yang bekerja.

Seorang pekerja ragu melangkah keluar saat jam kerja selesai sementara rekan kerjanya masih bekerja.

Saya pernah pura-pura masih sibuk sedikit. Pernah juga sekadar menunggu situasi terasa aman untuk pulang. Padahal kalau ditanya sebenarnya sedang menunggu apa, saya juga mungkin bingung menjawabnya. 😅

Pekerjaan sudah tidak ada. Jam kerja sudah selesai. Tetapi badan masih di tempat kerja karena rasanya kurang enak menjadi orang yang duluan pergi.

Jiwa mungkin sudah sampai parkiran. Badannya saja yang masih menjaga sopan santun.

Kalau masih terlihat available, ada kemungkinan dapat kerjaan lagi

Di tempat kerja saya ada satu hal yang cukup menarik.

Kalau masih ada pekerjaan dan kita terlihat available, kemungkinan besar kita akan disuruh mengerjakannya.

Sebenarnya ini masuk akal. Ada pekerjaan, ada orang yang kelihatannya sedang tidak mengerjakan apa-apa. Ya sudah, orang itu yang diminta membantu.

Tetapi manusia ternyata cepat belajar membaca sistem. 😂

Makanya ada juga yang kalau sudah mepet jam pulang dan tugasnya selesai, malah sembunyi.

Saya geli kalau memikirkannya, tetapi saya juga mengerti kenapa bisa begitu.

Kalau kita tetap terlihat, bisa muncul pekerjaan tambahan tepat ketika waktu kerja hampir selesai. Kalau menghilang sebentar, mungkin bisa pulang sesuai jadwal.

Jadinya ada situasi yang agak aneh. Perusahaan tentu ingin orang yang available membantu pekerjaan. Pekerja juga tidak selalu keberatan membantu. Tetapi pekerja tahu bahwa menunjukkan dirinya terlalu available pada waktu tertentu bisa berarti jam pulangnya ikut mundur.

Akhirnya yang dilakukan bukan lagi sekadar menyelesaikan pekerjaan. Ada juga usaha membaca keadaan.

Kelihatannya aman belum?

Masih ada kemungkinan dipanggil?

Kalau berdiri sekarang, kira-kira ada yang melihat tidak?

Pulang kerja yang seharusnya cuma kegiatan berjalan menuju pintu bisa mempunyai strategi sendiri. 😭

Lama berada di tempat kerja belum tentu berarti paling rajin

Saya rasa salah satu penyebab pulang tepat waktu terasa tidak enak adalah karena kehadiran mudah sekali terlihat.

Hasil pekerjaan kadang tidak kelihatan langsung. Tetapi siapa yang masih ada ketika orang lain sudah pulang sangat mudah diketahui.

Orang yang tinggal lebih lama akhirnya bisa terlihat lebih sibuk atau lebih rajin.

Padahal kita sebenarnya tidak tahu.

Bisa saja pekerjaannya memang sedang banyak. Bisa saja ada masalah yang harus diselesaikan. Bisa juga pekerjaannya memang membutuhkan waktu lebih lama hari itu.

Tetapi waktu pulang saja rasanya tidak cukup untuk mengetahui seberapa keras seseorang bekerja.

Ada istilah presenteeism yang salah satu penggunaannya berkaitan dengan budaya kerja ketika keberadaan dan lamanya seseorang terlihat di tempat kerja dianggap sebagai tanda komitmen. Saya rasa bagian yang menarik bukan istilahnya, tetapi tingkah yang bisa muncul karenanya.

Saya sendiri pernah pura-pura sibuk sedikit ketika sebenarnya sudah tidak ada yang bisa saya kerjakan.

Kalau dipikir lagi, lucu juga.

Saya tidak sedang membuat pekerjaan menjadi lebih baik. Saya cuma sedang membuat kepulangan saya tidak terlalu mencolok.

Dan mungkin di sinilah rasa bersalah itu muncul. Kita bukan selalu merasa bersalah karena meninggalkan pekerjaan. Kadang kita merasa bersalah karena terlihat seperti meninggalkan pekerjaan, meskipun pekerjaan kita sendiri sebenarnya sudah selesai.

Tapi bukan berarti jam habis lalu apa pun yang terjadi kita pergi

Saya juga tidak setuju kalau kemudian kesimpulannya menjadi: jam kerja selesai, ya sudah pulang saja, urusan orang lain bukan urusan saya.

Menurut saya tetap perlu melihat keadaan.

Kalau pekerjaan memang sedang banyak dan rekan kerja terlihat tidak mampu menyelesaikannya dalam waktu yang wajar, saya rasa kita bisa membantu.

Saya sendiri pernah melakukannya.

Bukan berarti harus mengambil semua pekerjaannya. Bantu secukupnya sampai keadaan lebih terkendali. Setelah tugas yang sedang dikerjakan selesai, saya pulang.

Bagi saya ini berbeda dengan bertahan hanya karena sungkan menjadi orang pertama yang pergi.

Yang satu memang ada pekerjaan yang membutuhkan bantuan.

Yang satunya lagi belum tentu ada pekerjaan. Yang ada mungkin cuma perasaan, “Nanti saya dikira apa?”

Dan perasaan seperti itu memang susah dihitung. Tidak ada di job description, tetapi kadang berhasil menambah waktu kita berada di tempat kerja. 😅

Mungkin yang perlu dilihat bukan jamnya, tetapi alasannya

Saya tidak merasa pulang tepat waktu harus dijadikan semacam prinsip yang tidak boleh diganggu.

Ada pekerjaan tertentu yang tidak bisa begitu. Apalagi pekerjaan operasional atau shift. Kadang ada keadaan yang memang membutuhkan sedikit fleksibilitas.

Tetapi tinggal lebih lama juga tidak otomatis membuat seseorang lebih berdedikasi.

Mungkin yang lebih penting justru alasan kenapa kita masih berada di sana.

Kalau memang ada pekerjaan yang belum selesai, ada rekan yang kewalahan, atau ada sesuatu yang kalau ditinggalkan malah membuat masalah, saya bisa mengerti kenapa kita memilih bertahan sebentar.

Tetapi kalau pekerjaan sudah selesai, tidak ada lagi yang bisa dilakukan, lalu kita membuka sesuatu di komputer hanya supaya kelihatan belum siap pulang, mungkin persoalannya sudah berbeda.

Saya pernah melakukan itu juga.

Jadi saya tidak sedang menunjuk orang lain. 😅

Mungkin kadang yang membuat pulang tepat waktu terasa salah bukan karena kita kurang bekerja, tetapi karena kita takut orang lain mengira kita kurang bekerja.

Dan dua hal itu ternyata tidak selalu sama.kita terlihat available