Saya Tidak Berhenti karena Tidak Suka, tetapi karena Bosan Mengerjakannya

Daftar Isi

Saya pernah mendengar pernyataan CEO Nvidia yang kurang lebih mengatakan bahwa ia tidak mencintai setiap hari dalam pekerjaannya. Setiap hari juga tidak selalu membuatnya bahagia. Namun ia mencintai perusahaannya.

Kalimat itu terasa jujur. Biasanya orang membicarakan passion seperti hubungan yang selalu rukun. Bangun pagi bersemangat, bekerja sambil tersenyum, lalu sore hari menutup laptop dengan perasaan hidup ini ternyata sangat indah.

Pengalaman saya tidak begitu.

Saya pernah sangat ingin mendapatkan penghasilan dari internet. Saya mencoba blogging, lalu membuat video YouTube. Saat masih berupa rencana, semuanya terlihat menarik. Saya memikirkan topik, alat yang diperlukan, kemungkinan channel berkembang, dan hasil yang mungkin datang nanti.

Lalu rencananya benar-benar dikerjakan.

Di situlah masalahnya mulai muncul.


Seorang pria duduk di depan layar video dan blog sambil terlihat lelah menghadapi rutinitas pekerjaan kreatif.
Saya Suka, tetapi Saya Bosan

Passion Tidak Membuat Semua Bagian Menyenangkan

Satu video YouTube bisa membutuhkan satu sampai dua hari. Saya harus merekam suara, mengedit, memperbaiki bagian yang kurang pas, lalu menunggu hasilnya. Selama mengerjakannya saya harus benar-benar fokus.

Pada awalnya saya menikmati proses itu. Ada rasa senang ketika sesuatu yang sebelumnya hanya ada di kepala akhirnya menjadi video. Namun setelah dilakukan berulang kali, bagian yang menarik mulai terasa seperti pekerjaan biasa.

Merekam suara lagi. Mengedit lagi. Menunggu lagi.

Besoknya bertemu menu yang sama.

Mungkin saat itu saya masih percaya bahwa kalau saya benar-benar menyukai sesuatu, saya tidak akan merasa sedang bekerja. Ada kalimat yang sering kita dengar: pilih pekerjaan yang kita cintai, maka kita tidak akan bekerja seumur hidup.

Kalimat itu enak didengar. Masalahnya, mungkin yang tidak disebutkan adalah kita tetap harus mengerjakan bagian yang membosankan dari pekerjaan yang kita cintai.

Kita bisa menyukai membuat video, tetapi tidak selalu menikmati menghapus suara napas sendiri selama dua jam. Kita bisa menyukai menulis, tetapi tidak selalu menikmati membaca ulang satu paragraf yang rasanya semakin diperbaiki malah semakin mirip petunjuk penggunaan rice cooker.

Cinta kepada pekerjaan ternyata tidak membuat semua tugas di dalamnya ikut menjadi menyenangkan.

Seorang pria meninggalkan meja pembuatan video yang belum selesai sambil melihat orang lain terus melanjutkan pekerjaannya.
Saya Berhenti ketika Mulai Terasa Berat
Saya Berhenti Saat Proyek Mulai Menjadi Pekerjaan

Saya akhirnya tidak meneruskan YouTube. Ada juga masalah akun Google yang tidak bisa saya akses lagi. Ketika mencoba membuat channel baru, memulai dari nol terasa lebih berat.

Tetapi kalau jujur, masalahnya bukan hanya akun.

Saya sudah lebih dulu lelah dengan rutinitasnya. Saya bosan pada proses merekam, mengedit, dan menunggu hasil yang sangat lama. Saat proyek itu mulai membutuhkan ketekunan, saya justru mulai kehilangan tenaga.

Setelah berhenti, saya kecewa kepada diri sendiri. Saya merasa kurang mempunyai integritas terhadap proyek yang sudah saya mulai. Saya juga sering melihat orang lain yang terus membuat video. Sekarang subscriber mereka sudah banyak. Mungkin pendapatan mereka juga sudah tumbuh.

Saya tidak tahu bagaimana hasil channel saya kalau dulu terus dilanjutkan. Bisa saja tetap biasa-biasa saja. Tidak semua orang yang bertahan otomatis menjadi besar. Internet juga tidak mempunyai kewajiban memberi hadiah kepada orang yang rajin.

Namun satu hal cukup jelas: kalau saya meneruskannya, setidaknya kemampuan saya pasti berbeda. Saya akan lebih ahli membuat video, lebih cepat mengedit, lebih mengerti penonton, dan mungkin mempunyai jalan untuk masuk ke bidang lain.

Yang hilang bukan hanya kemungkinan pendapatan. Saya juga kehilangan jam terbang yang seharusnya terkumpul sedikit demi sedikit.

Ini bagian yang agak menyebalkan ketika melihat ke belakang. Kita tidak hanya menyesali hasil yang tidak didapat. Kita juga menyesali kemampuan yang tidak sempat tumbuh karena berhenti terlalu cepat.

Seorang pria tetap menulis meskipun merasa bosan sementara tanaman tumbuh dari tumpukan halaman blog.
Bosan Belum Tentu Harus Berhenti
Bosan Bukan Selalu Tanda Harus Pergi

Sekarang saya kembali menulis di adisuryadarma.com.

Saya tidak berani mengatakan kali ini pasti tidak akan bosan. Saya sudah pernah terlalu percaya diri kepada semangat sendiri. Biasanya semangat memang rajin hadir saat semuanya masih baru. Setelah itu ia mulai jarang membalas pesan.

Bedanya, sekarang saya membuat blog ini tanpa terlalu banyak aturan. Saya ingin menulis apa pun yang memang ingin saya tuliskan. Saya tidak mengharapkan penghasilan besar dalam waktu dekat, tetapi saya juga tidak menutup kemungkinan blog ini suatu hari menghasilkan lebih besar daripada pekerjaan saya sekarang.

Saya ingin mempunyai kegiatan yang tetap bisa dilakukan saat tua. Sesuatu yang bermanfaat, masih membuat pikiran bergerak, dan kalau bisa juga menghasilkan.

Namun saya mulai meragukan pikiran saya sendiri bahwa bosan selalu berarti kita terpaksa melakukan sesuatu.

Mungkin kadang benar. Ada pekerjaan yang memang tidak cocok dan terus menghabiskan diri kita. Tidak semua penderitaan harus dianggap jalan menuju sesuatu yang besar. Kalau setiap hari terasa hancur lalu kita menyebutnya perjuangan, mungkin kita hanya sedang keras kepala dengan bahasa yang lebih sopan.

Tetapi rasa bosan juga bisa muncul karena sesuatu yang kita cintai sudah masuk ke tahap yang tidak menarik untuk dipamerkan. Tidak ada lagi rasa baru. Tidak ada tepuk tangan. Yang tersisa hanya mengulang hal yang sama cukup lama sampai kemampuan bertambah.

Para investor, pebisnis, penulis, dan pembuat video mungkin terlihat menjalani pekerjaan yang menarik. Padahal sebagian besar hari mereka bisa saja diisi angka, revisi, pengecekan, kegagalan kecil, dan pekerjaan yang besok harus dilakukan lagi.

Saya juga tidak percaya bahwa penderitaan otomatis membawa kebahagiaan. Tetapi saya mulai melihat bahwa kebahagiaan yang datang terus-menerus mungkin juga akhirnya terasa biasa. Manusia aneh. Diberi kesulitan mengeluh, diberi kenyamanan terlalu lama mulai mencari tantangan.

Jadi mungkin yang perlu saya cari bukan pekerjaan yang membuat saya bahagia setiap hari. Itu tuntutan yang terlalu berat untuk sebuah pekerjaan. Bahkan keluarga yang kita cintai saja kadang membuat kita ingin duduk sendiri selama lima menit tanpa ada yang memanggil.

Mungkin yang lebih penting adalah menemukan sesuatu yang tetap ingin saya rawat, bahkan ketika bagian menyenangkannya sedang tidak muncul.

Saya tidak tahu apakah adisuryadarma.com akan menjadi besar. Saya juga belum tahu apakah nanti saya akan kembali bosan. Namun kali ini saya ingin lebih berhati-hati membedakan rasa bosan dengan tanda bahwa saya harus berhenti.

Karena bisa jadi saya tidak kehilangan passion. Saya hanya sedang bertemu bagian dari passion yang bentuknya memang pekerjaan.