Diskon Memang Bisa Menghemat Uang, tapi Tidak Kalau Saya Membeli Karena Diskon

Daftar Isi

Saya cukup sering membeli sesuatu karena sedang diskon, meskipun sebelumnya barang itu tidak masuk rencana.

Kalau barang fisik mungkin saya masih bisa berpikir dua kali. Tetapi kalau sudah kursus atau ebook, pertahanan saya kadang lebih tipis. Apalagi kalau diskonnya 10%, 30%, sampai 50%.

Lalu muncul pikiran yang sangat masuk akal pada saat itu:

Murah juga. Belum tentu nanti harganya segini lagi.

Masalahnya, sebelum melihat diskon tersebut saya sebenarnya tidak sedang mencari barang itu.

Jadi saya mulai bertanya: kalau saya membeli sesuatu seharga Rp400.000 karena sedang diskon dari Rp500.000, apakah saya benar-benar menghemat Rp100.000?

Secara hitungan, iya.

Tapi kalau sebelumnya saya tidak berniat mengeluarkan uang sama sekali, ada bagian lain dari cerita itu: saya tetap mengeluarkan Rp400.000.

Ilustrasi dompet mengeluarkan uang di samping simbol harga diskon yang menggambarkan perbedaan antara menghemat dan menambah pengeluaran

Diskon memang bisa menjadi penghematan yang nyata

Saya tidak mau mengatakan bahwa diskon adalah jebakan.

Karena saya juga pernah membeli sesuatu yang memang sudah saya rencanakan, lalu kebetulan mendapat harga lebih murah.

Dalam situasi seperti itu, rasanya memang menguntungkan.

Saya sudah ingin membeli. Barangnya memang akan saya gunakan. Uangnya memang sudah akan keluar. Lalu tiba-tiba saya hanya perlu membayar lebih sedikit.

Ya itu hemat.

Tidak perlu dicurigai sampai diskonnya diminta menunjukkan KTP.

Kalau saya sudah berniat membeli barang seharga Rp500.000 dan akhirnya mendapatkannya dengan Rp400.000, saya memang menyimpan Rp100.000 yang seharusnya keluar.

Jadi masalahnya bukan pada kata diskon.

Yang mulai menarik adalah ketika diskon bukan sekadar menurunkan harga barang yang akan saya beli, tetapi justru menjadi alasan saya membeli.

Saya sering tidak membeli barangnya, saya membeli kesempatan murahnya

Ini lebih dekat dengan apa yang sering terjadi pada saya.

Saya melihat kursus atau ebook yang sedang promo. Harganya terlihat murah. Lalu ada ketidakpastian mengenai kapan harga itu akan kembali normal.

Di situ saya mulai merasa sayang kalau melewatkannya.

Padahal beberapa menit sebelumnya hidup saya baik-baik saja tanpa kursus tersebut.

Saya tidak bangun pagi sambil berkata, “Hari ini hidup saya tidak akan lengkap sebelum membeli ebook diskon 40%.”

Tapi begitu melihat promonya, barang yang tadinya tidak ada di kepala tiba-tiba seperti mempunyai urusan penting dengan masa depan saya.

Saya juga sering mempercepat pembelian karena alasan seperti ini. Ada perasaan bahwa kesempatan murah punya masa hidup pendek, sedangkan keinginan saya untuk mempertimbangkan pembelian seharusnya punya masa hidup sedikit lebih panjang.

Kadang saya juga mengambil sesuatu dalam jumlah lebih besar karena terasa lebih murah.

Dan memang ada yang akhirnya tetap saya gunakan.

Tapi ada juga yang masih tersimpan.

Saya biasanya masih bisa membela keputusan tersebut dengan satu kalimat yang cukup nyaman:

Nanti masih bisa dipakai.

Kalimat itu tidak selalu salah. Kadang memang benar-benar terpakai kemudian.

Tapi kata “nanti” juga punya kemampuan luar biasa menampung banyak barang, kursus, ebook, dan niat baik tanpa pernah mengeluh penuh.

Yang membuat saya bingung justru kata “hemat”

Menariknya, kalau melihat sebuah promo seperti “hemat Rp100.000, bayar Rp400.000”, saya sendiri biasanya tidak terlalu fokus pada angka Rp100.000 yang katanya berhasil saya hemat.

Saya lebih melihat uang yang benar-benar harus saya keluarkan.

Kalau harus membayar Rp400.000, ya bagi saya pengeluarannya Rp400.000.

Ini justru membuat saya sadar bahwa ada dua jenis penghematan yang kelihatannya sama, tetapi sebenarnya berbeda.

Yang pertama: saya memang akan mengeluarkan Rp500.000, tetapi akhirnya hanya keluar Rp400.000.

Yang kedua: saya tadinya tidak akan mengeluarkan uang, lalu karena ada diskon saya mengeluarkan Rp400.000.

Di struk belanja, keduanya mungkin sama-sama bisa diberi tulisan “Anda hemat Rp100.000”.

Di kondisi keuangan saya, ceritanya tidak sama.

Pada kasus pertama, diskon mengurangi pengeluaran yang memang sudah akan terjadi.

Pada kasus kedua, diskon mungkin justru menciptakan pengeluaran baru.

Bukan berarti pembelian kedua otomatis buruk. Bisa saja kursusnya bagus. Ebook-nya berguna. Barangnya nanti benar-benar dipakai.

Tapi saya rasa saya perlu jujur mengenai alasan membeli.

Saya membeli karena membutuhkan barang tersebut dengan harga lebih murah, atau saya mulai merasa membutuhkan barang tersebut setelah melihat harganya lebih murah?

Saya mungkin tidak perlu curiga pada diskon, hanya pada alasan saya sendiri

Saya masih suka diskon.

Kalau besok ada barang yang memang sudah saya rencanakan lalu harganya turun 30%, saya juga tidak akan menolak sambil berkata, “Maaf, saya sedang menjaga kemurnian keputusan finansial.”

Saya ambil saja.

Tapi pengalaman membeli kursus, ebook, atau paket yang belum benar-benar saya perlukan membuat saya agak berhati-hati dengan satu hal: rasa puas karena merasa sudah berhemat.

Kadang rasa itu memang pantas.

Kadang tidak.

Sebab penghematan tidak hanya soal selisih antara harga normal dan harga diskon.

Bagi saya, ada pertanyaan yang lebih sederhana: uang ini memang sudah akan saya keluarkan, atau baru keluar karena saya melihat kesempatan yang terasa terlalu sayang untuk dilewatkan?

Dua-duanya tetap bisa menjadi keputusan yang masuk akal.

Tapi setidaknya saya ingin menyebutnya dengan nama yang benar.

Membeli barang yang memang saya perlukan dengan harga lebih murah adalah menghemat. Membeli sesuatu karena sedang murah tetaplah sebuah pengeluaran.