Kenapa Uang Bonus Terasa Lebih Mudah Dihabiskan daripada Gaji?

Daftar Isi

Kalau uangnya berasal dari gaji, saya biasanya agak berat mengeluarkannya.

Bukan karena uang gaji mempunyai kepribadian yang lebih serius. Masalahnya, sebelum gaji masuk pun biasanya sudah ada yang antre menunggunya. Kebutuhan rumah, pengeluaran bulanan, tabungan, dan berbagai hal yang memang sudah diperhitungkan.

Lalu datang THR.

Nominalnya mungkin tidak jauh berbeda dari sebagian gaji. Mata uangnya juga masih rupiah. Tidak berubah menjadi koin emas hanya karena namanya THR.

Tapi rasanya berbeda.

Dulu, ketika menerima uang seperti itu, saya lebih mudah mengeluarkannya karena merasa sedang punya uang lebih. Kebutuhan bulanan sudah punya tempatnya sendiri, sedangkan uang bonus seperti datang tanpa membawa daftar tugas.

Dan uang yang tidak membawa daftar tugas biasanya lebih mudah diajak jalan-jalan.

Dua tumpukan uang bernilai sama, satu berkaitan dengan kebutuhan rutin dan satu dengan pengeluaran tambahan.

Rp500 Ribu Tetap Rp500 Ribu, tetapi Kepala Saya Tidak Menganggapnya Sama

Kalau saya mengambil Rp500 ribu dari gaji untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu perlu, saya mungkin akan berpikir lagi.

Uangnya memang ada. Tetapi di belakang angka Rp500 ribu itu seperti ada bayangan pengeluaran lain yang ikut berdiri.

Kalau Rp500 ribu tersebut berasal dari bonus, dulu rasanya lebih ringan.

Pikirannya sederhana: ini kan uang lebih.

Kalimat pendek begitu ternyata lumayan sakti. Tiba-tiba barang yang sebelumnya perlu dipertimbangkan bisa terasa lebih masuk akal. Bukan karena barangnya berubah. Kemarin juga barang yang sama. Harganya juga tidak mendadak mendapat restu keluarga besar.

Yang berubah adalah cara saya melihat uang yang akan dipakai untuk membayarnya.

Dalam ekonomi perilaku ada istilah mental accounting. Sederhananya, kita bisa memperlakukan uang secara berbeda berdasarkan dari mana uang itu datang atau untuk apa uang tersebut sudah kita beri tugas. Penelitian tentang perilaku keuangan juga menemukan bahwa pemasukan yang dianggap sebagai uang tambahan atau windfall cenderung lebih bebas dibelanjakan daripada pendapatan rutin.

Saya rasa ini cukup dekat dengan yang pernah saya rasakan ketika menerima THR.

Secara hitungan, uangnya tetap uang. Tetapi di kepala saya, gaji sudah punya banyak pekerjaan, sementara bonus terasa masih menganggur.

Masalahnya Kadang Uang Lain Ikut Nimbrung

Yang menarik justru terasa setelah uang bonus mulai berkurang.

Awalnya saya merasa punya uang lebih. Lalu menggunakannya untuk beberapa hal. Setelah itu saya melihat jumlah uang yang tersisa dan mulai merasa, kok sekarang sedikit?

Di sinilah menurut saya masalahnya mulai agak licin.

Saat sedang senang karena menerima uang tambahan, batas antara uang bonus, tabungan, dan uang untuk kebutuhan lain bisa terasa tidak sejelas sebelumnya.

Akhirnya uang lain ikut nimbrung.

Ini bagian yang menurut saya lebih menarik daripada sekadar mengatakan bahwa bonus membuat orang boros. Saya tidak merasa sesederhana itu.

Bonus memang benar-benar menambah uang yang kita punya. Jadi wajar kalau sebagian digunakan untuk sesuatu yang menyenangkan. Kalau semua uang tambahan harus duduk diam dan tidak boleh disentuh, mungkin namanya bukan bonus lagi. Itu tahanan finansial.

Masalahnya adalah perasaan “saya sedang punya uang lebih” kadang bisa bertahan lebih lama daripada uang lebihnya sendiri.

Bonusnya sudah mulai menipis, tetapi cara belanjanya masih memakai suasana bonus.

Pada titik itu, bisa jadi yang saya keluarkan bukan lagi uang bonus. Uang yang tadinya punya keperluan lain mulai ikut masuk karena batasnya sudah terasa longgar.

Memberi Label pada Uang Sebenarnya Tidak Selalu Buruk

Saya juga tidak ingin mengatakan bahwa semua uang harus dipandang sama persis setiap saat.

Saya sendiri justru merasa uang perlu mempunyai tujuan.

Ada uang untuk kebutuhan rumah. Ada tabungan. Ada dana darurat. Ada juga uang yang memang boleh digunakan untuk menikmati sesuatu.

Kalau semuanya dicampur menjadi satu dengan prinsip, “Namanya juga sama-sama rupiah,” urusannya malah bisa tambah berantakan.

Jadi memberi label pada uang tidak otomatis buruk. Kategori seperti uang kebutuhan, tabungan, atau dana darurat justru bisa membantu kita menjaga uang untuk tujuan tertentu.

Yang mulai menarik adalah ketika label tersebut mengubah cara kita mengambil keputusan.

Kalau label “uang kebutuhan” membuat saya tidak sembarangan mengambilnya untuk hal lain, menurut saya itu berguna.

Tapi kalau label “uang bonus” berubah menjadi alasan bahwa uang tersebut bebas dipakai tanpa banyak pertimbangan, nah, saya mulai curiga.

Menurut saya, bonus memang lebih pantas disebut uang lebih kalau kebutuhan pokok sudah terpenuhi, tabungan ada, dana darurat juga ada dan memang mempunyai dana.

Dalam kondisi seperti itu, memakai sebagian bonus untuk menikmati hasil kerja rasanya masuk akal.

Yang berbeda adalah kalau saya menyebutnya uang lebih hanya karena uang tersebut datang di luar gaji, padahal uang untuk kebutuhan lain sebenarnya belum aman.

Bonus Mungkin Datang Bersama Rasa Mendapat Izin

Saya dulu tidak merasa terlalu berat mengeluarkan uang bonus karena memang merasa uang itu lebih.

Sekarang saya mulai melihat bahwa mungkin bukan cuma jumlah uang yang berubah. Ada rasa mendapat izin yang berbeda.

Gaji datang dan saya langsung ingat berbagai kebutuhan.

Bonus datang dan pikiran pertama bisa berubah menjadi, “Nah, yang ini bisa dipakai.”

Padahal Rp500 ribu dari gaji dan Rp500 ribu dari bonus tetap mempunyai kemampuan membeli yang sama.

Saya juga masih merasa wajar kalau bonus diperlakukan sedikit berbeda. Saya tidak merasa setiap uang tambahan harus langsung disuruh bekerja untuk masa depan sampai dia lupa caranya bersenang-senang.

Tapi mungkin ada satu hal yang layak saya perhatikan setiap kali menerima uang seperti ini: apakah saya memang mempunyai uang lebih, atau saya hanya merasa mempunyai uang lebih karena uang tersebut diberi nama bonus?

Karena asal-usul uang memang tidak mengubah nominalnya.

Tapi rupanya cukup untuk mengubah seberapa mudah saya memberi izin kepada diri sendiri untuk menghabiskannya.