Saya Gagal Melakukan Sesuatu, Bukan Berarti Saya Adalah Orang Gagal
Saya mendengar sebuah percakapan tentang seseorang yang sudah menjalani 16 wawancara kerja dan semuanya berakhir dengan penolakan.
Setelah penolakan ke-16, dia sampai pada satu kesimpulan: mungkin memang dirinya adalah orang gagal.
Saya awalnya mengerti kenapa dia bisa berpikir begitu. Kalau baru sekali gagal, mungkin masih gampang mengatakan, “Ya sudah, coba lagi.” Kalau sudah berkali-kali, kegagalannya mulai terasa seperti sedang memberi tahu sesuatu tentang diri kita.
Tapi ada satu bagian dari percakapan itu yang membuat saya berpikir.
Kurang lebih begini: kegagalan memberi tahu bagaimana kita sedang melakukannya, bukan menentukan siapa diri kita.
Saya langsung merasa ada perbedaan besar antara mengatakan “saya gagal” dengan “saya adalah orang gagal.”
Kita ternyata gampang menempelkan kejadian pada diri sendiri
Saya rasa ini tidak hanya terjadi pada orang yang ditolak kerja 16 kali.
Saya pun pernah mengalami kegagalan ketika melakukan sesuatu, lalu mengambil kesimpulan tentang diri sendiri. Mungkin saya memang tidak cocok dengan kegiatan ini. Mungkin cara seperti ini bukan untuk saya. Mungkin saya memang tidak bisa.
Padahal kalau dipikir lagi, yang sebenarnya saya punya saat itu hanyalah bukti bahwa cara yang saya lakukan belum berhasil.
Tapi otak saya rupanya suka sekalian bikin kartu identitas. 😂
Satu atau beberapa kegagalan yang seharusnya menjelaskan hasil dari sebuah percobaan, pelan-pelan saya gunakan untuk menjelaskan siapa diri saya.
Dan setelah mendengar percakapan tadi, saya baru menyadari betapa jauhnya dua hal itu.
Kalau saya mencoba sesuatu lalu gagal, kegagalan itu nyata. Tidak perlu pura-pura bilang semuanya baik-baik saja.
Tetapi kalau dari sana saya langsung menyimpulkan bahwa saya adalah orang gagal, saya sudah menambahkan sesuatu yang sebenarnya belum saya ketahui.
Sebab saya belum tahu apa yang akan terjadi pada percobaan berikutnya.
Kalau masalahnya memang ada pada saya, justru ada yang bisa diubah
Ada bagian lain dari percakapan itu yang menurut saya sedikit menyebalkan, tetapi justru masuk akal.
Orang yang sudah ditolak 16 kali tadi mengatakan bahwa mungkin memang dirinya yang bermasalah.
Jawabannya kira-kira: kalau memang sebagian masalahnya ada pada dirimu, bukankah itu kabar baik? Karena dirimu adalah bagian yang bisa kamu ubah.
Nah.
Ini membuat gagasan “kegagalan bukan identitas” menjadi lebih masuk akal bagi saya. Sebab bukan berarti setiap gagal saya tinggal bilang, “Tenang, bukan salah saya.” Lalu besok mengulang hal yang sama persis.
Kalau gagal karena kemampuan saya kurang, ya kemampuan itu yang perlu diperbaiki.
Kalau caranya salah, caranya yang perlu diubah.
Kalau persiapannya kurang, ya mungkin saya memang kurang siap.
Bahkan kalau ternyata saya sendiri adalah bagian dari masalahnya, itu tetap berbeda dengan mengatakan bahwa saya adalah orang gagal.
Yang satu masih bisa diperiksa dan diperbaiki. Yang satu lagi sudah seperti keputusan final tentang diri sendiri.
Dan saya rasa di sinilah saya beberapa kali keliru.
Saya terlalu cepat menggunakan hasil untuk membuat identitas.
Percobaan berikutnya memang bisa gagal lagi
Saya juga tidak mau membawa gagasan ini terlalu jauh sampai menjadi “pokoknya jangan pernah menyerah.”
Saya sendiri belum selalu tahu kapan seseorang seharusnya terus mencoba dan kapan sebaiknya berhenti.
Berhenti pun belum tentu berarti kalah. Bisa saja setelah mencoba beberapa kali, kita mendapat informasi baru dan sadar bahwa kita memang tidak ingin mengejarnya lagi.
Yang sekarang membuat saya berpikir justru alasan di balik keputusan berhenti itu.
Apakah saya berhenti karena setelah mempertimbangkannya saya memang tidak menginginkan hal tersebut lagi?
Atau saya sebenarnya masih menginginkannya, tetapi kegagalan sebelumnya sudah membuat saya percaya bahwa “orang seperti saya memang tidak bisa”?
Saya rasa dua hal itu berbeda.
Dan tentu saja percobaan berikutnya juga tidak punya kewajiban untuk berhasil hanya karena kita sudah belajar dari kegagalan sebelumnya.
Kalau wawancara ke-16 gagal, wawancara ke-17 bisa gagal juga.
Tapi setidaknya kegagalan sebelumnya bisa menambahkan pengetahuan tentang apa yang perlu diperbaiki atau apa yang sebaiknya tidak dilakukan lagi.
Kalau percobaan ke-17 dilakukan dengan pengetahuan yang sama, cara yang sama, kesalahan yang sama, lalu berharap hasilnya berbeda, mungkin masalahnya bukan kurang gigih. Mungkin kita memang belum belajar apa-apa dari 16 percobaan sebelumnya. 😅
Saya mulai memisahkan kegagalan dari identitas
Ada perumpamaan dalam percakapan tadi bahwa kegagalan adalah koma, bukan titik.
Saya suka gagasan itu, meskipun saya tidak mengartikannya bahwa setelah koma pasti akan muncul kesuksesan.
Belum tentu.
Bisa saja setelah satu koma masih ada koma lagi. Lalu koma lagi. Sampai kita sendiri mulai curiga ini tulisan kapan selesai. 😂
Tapi setidaknya saya mulai melihat kegagalan sebagai informasi tentang sesuatu yang sudah terjadi, bukan ramalan tentang semua yang akan terjadi setelahnya.
Saya gagal melakukan sesuatu.
Oke. Itu bisa benar.
Saya bisa melihat lagi apa yang saya lakukan, bagian mana yang salah, apa yang perlu saya pelajari, dan apakah saya masih ingin melanjutkannya.
Tetapi ketika kalimatnya berubah menjadi “saya adalah orang gagal”, saya seperti mengambil beberapa kejadian dari masa lalu lalu memberinya hak untuk menentukan percobaan yang bahkan belum saya lakukan.
Setelah mendengar percakapan tadi, saya rasa saya perlu lebih hati-hati melakukan itu.
Kegagalan memang bisa menjadi bagian dari cerita saya. Tetapi saya tidak harus menjadikannya nama untuk diri saya sendiri.
