Manajer yang Hebat Tidak Membuat Semua Orang Terlihat Sibuk

Daftar Isi

Saya mendengar Tom MC Ifle mengatakan bahwa manajer yang kelihatan menganggur itu justru keren. Apalagi kalau anak buahnya juga bekerja dengan santai, tetapi pekerjaannya tetap selesai.

Pernyataan itu terdengar agak aneh kalau dibawa ke beberapa tempat kerja.

Di sana, orang yang berjalan cepat dianggap sedang bekerja. Orang yang wajahnya tegang dianggap bertanggung jawab. Orang yang duduk tenang sambil minum dianggap sudah kehilangan semangat hidup, padahal mungkin ia cuma sedang menunggu komputer yang usianya hampir sama dengan anak pertama pemilik perusahaan.

Saya sendiri belum pernah melihat secara langsung seorang manajer yang benar-benar terlihat menganggur karena semua sistem di bawahnya sudah berjalan dengan baik.

Namun saya bisa memahami maksudnya.

Mungkin manajer seperti itu pintar mendelegasikan pekerjaan. Ia bisa menjelaskan tujuan, membagi tugas, dan memberi tahu cara mengerjakannya tanpa membuat anak buah harus bertanya setiap lima menit.

Kalau pekerjaan yang biasanya membutuhkan delapan jam bisa selesai dalam tiga jam, mungkin bukan berarti karyawannya kurang kerjaan. Bisa jadi memang cara kerjanya sudah lebih baik.


Manajer duduk tenang sementara timnya bekerja lancar tanpa terlihat terburu-buru.
Manajer Hebat Tidak Membuat Semua Orang Sibuk

Santai Belum Tentu Malas

Ketika melihat orang bekerja dengan santai, saya biasanya tidak langsung menganggapnya malas.

Saya justru berpikir mungkin orang itu sudah ahli.

Ia sudah tahu apa yang harus dikerjakan, urutannya bagaimana, dan masalah apa yang biasanya muncul. Tangannya bekerja, tetapi kepalanya tidak perlu terus-menerus melakukan rapat dengan dirinya sendiri.

Orang yang ahli memang sering terlihat santai. Bukan karena pekerjaannya mudah, tetapi karena bagian sulitnya sudah berkali-kali ia lewati.

Selain itu, ia mungkin merasa aman.

Ia tidak takut setiap saat akan dimarahi atas kesalahan kecil. Ia juga tidak sibuk menebak-nebak apakah atasannya sedang senang, sedang marah, atau sedang membaca pesan WhatsApp tetapi sengaja belum membalas.

Saya pernah merasakan bekerja dalam keadaan dipercaya. Saat itu saya dijelaskan tahap-tahap pekerjaannya, tetapi tidak didikte. Saya juga tidak diawasi setiap saat.

Aneh memang. Ketika tidak terus-menerus diawasi, saya malah merasa lebih bertanggung jawab.

Saya tahu apa yang harus saya kerjakan. Saya juga merasa diberi ruang untuk menggunakan cara saya sendiri.

Kepercayaan seperti itu membuat pekerjaan terasa lebih ringan, walaupun jumlah pekerjaannya mungkin tetap sama.

Masalahnya, Kerja Cepat Sering Dihukum dengan Pekerjaan Baru

Karyawan yang selesai bekerja lebih cepat langsung diberi tumpukan pekerjaan baru.
Kerja Cepat, Pekerjaan Baru

Masalahnya begini.

Tidak semua tempat kerja menghargai pekerjaan yang selesai lebih cepat.

Kadang-kadang orang yang menyelesaikan target lebih cepat bukan mendapat apresiasi, tetapi langsung mendapat pekerjaan tambahan.

Pekerjaan pertama selesai.

Lalu datang pekerjaan kedua.

Selesai lagi.

Kemudian seseorang mulai berpikir bahwa orang ini mungkin memang dilahirkan untuk menampung semua pekerjaan yang belum ada pemiliknya.

Saya pernah diajarkan oleh rekan kerja agar tidak terlalu cepat menyelesaikan pekerjaan. Kerjakan saja dengan kecepatan biasa.

Entah itu benar atau tidak. Entah itu baik atau tidak. Namun saya mengikutinya.

Karena memang benar, ketika satu target selesai lebih cepat, yang datang sering kali bukan ucapan terima kasih. Yang datang justru pekerjaan yang lebih banyak.

Sementara itu, rekan kerja lain masih memegang porsi yang sama.

Di situ saya merasa kesal. Saya juga merasa dimanfaatkan.

Bukan karena saya tidak mau bekerja. Saya hanya merasa kecepatan saya dipakai sebagai alasan untuk memindahkan lebih banyak beban kepada saya.

Lama-lama orang belajar sesuatu.

Bukan belajar bekerja lebih cepat, tetapi belajar mengatur agar pekerjaannya terlihat cukup lama.

Ini tentu bukan sistem kerja yang hebat. Ini sistem yang diam-diam mengajari orang untuk menyembunyikan kemampuan.

Saya Ikut Memperlambat Diri Sendiri

Seorang karyawan sengaja menurunkan kecepatan kerjanya agar tidak mendapat beban tambahan.
Saya Ikut Memperlambat Diri

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan perusahaan atau atasan, karena saya juga ikut menjalankan cara tersebut.

Saya tidak sengaja membuat kesalahan. Saya juga tidak bermalas-malasan.

Saya hanya mengerjakannya dengan kecepatan biasa saja.

Kalimat itu terdengar aman. Namun kalau dipikir-pikir, saya sebenarnya sedang menahan diri agar tidak memberikan kemampuan terbaik yang saya punya.

Di bagian inilah saya merasa bersalah.

Saya merasa tidak memberikan sesuatu yang optimal kepada perusahaan. Namun rasa bersalah yang lebih besar justru bukan kepada perusahaan.

Saya merasa sedang merugikan diri saya sendiri.

Karena terus bekerja dengan kecepatan yang dibuat aman, saya jadi tidak pernah tahu kemampuan maksimal saya sampai di mana.

Saya juga tidak benar-benar mendidik diri untuk menghasilkan pekerjaan sebaik dan secepat yang saya mampu.

Padahal etos kerja tersebut bukan hanya milik perusahaan.

Kemampuan menyelesaikan sesuatu dengan baik bisa saya bawa ke tempat lain. Bisa saya gunakan saat menulis. Bisa saya gunakan dalam pekerjaan pribadi. Bisa juga membantu saya ketika suatu hari mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.

Saya memang sedang melindungi diri dari pembagian kerja yang tidak adil. Namun pada saat yang sama, saya juga sedang membiasakan diri untuk tidak berkembang terlalu jauh.

Di sini saya belum punya jawaban yang benar-benar rapi.

Bekerja maksimal setiap saat juga bisa membuat seseorang terus diberi beban tambahan. Namun sengaja menahan kemampuan terus-menerus juga membuat kemampuan itu akhirnya tidak pernah benar-benar terlatih.

Anak Buah yang Tenang Mungkin Menunjukkan Manajer yang Baik

Manajer memberikan arah yang jelas sehingga anak buah dapat bekerja dengan tenang.
Anak Buah yang Tenang

Menurut saya, salah satu hal yang sering tidak ditemukan di tempat kerja adalah perasaan tenang pada anak buah.

Banyak orang bekerja sambil dibayangi rasa takut salah.

Kalau salah, dimarahi.

Kalau pekerjaannya beres, belum tentu diberi apresiasi.

Kalau selesai terlalu cepat, bisa diberi pekerjaan tambahan.

Kalau terlalu lama, ditanya kenapa belum selesai.

Akhirnya orang bukan hanya mengerjakan tugas. Mereka juga harus menghitung kecepatan yang dianggap paling aman.

Belum lagi kalau manajer lebih condong kepada satu anak buah yang dianggap dekat atau lebih enak diajak bekerja sama.

Pembagian pekerjaan akhirnya tidak lagi hanya berdasarkan kemampuan dan tanggung jawab. Kedekatan ikut masuk ke dalam hitungan, walaupun tidak pernah tertulis di dalam prosedur.

Karena itu, manajer yang hebat menurut saya bukan sekadar orang yang mampu membuat pekerjaan selesai lebih cepat.

Ia juga harus membuat anak buah merasa cukup aman untuk bekerja dengan baik. Ia memberi arah tanpa terus mendikte. Ia memahami teknis sehingga mampu menyederhanakan pekerjaan, bukan hanya menambah instruksi.

Dan yang tidak kalah penting, ia tidak menghukum orang rajin dengan terus menumpuk pekerjaan kepadanya.

Mungkin manajer yang terlihat menganggur memang keren. Namun yang lebih keren adalah ketika anak buahnya tidak perlu berpura-pura sibuk hanya untuk melindungi dirinya sendiri.