Kenapa Mengaku Tidak Tahu di Tempat Kerja Terasa Menakutkan?
Ada kalanya saya diberi instruksi pekerjaan, lalu sebenarnya belum memahami semuanya. Tapi saya tidak langsung bertanya.
Bukan karena mau pura-pura mengerti. Saya biasanya berpikir, nanti mungkin akan ada pertanyaan lain. Jadi saya kerjakan dulu, lihat kendalanya di mana, lalu kumpulkan pertanyaannya sekalian.
Dalam pikiran saya ini lebih efisien. Daripada lima menit sekali datang bertanya, lebih baik sekalian.
Masalahnya, dari luar perilaku seperti ini bisa terlihat sama persis dengan orang yang memang tidak berani bilang, “Saya tidak tahu.” Sama-sama mengangguk. Sama-sama pergi. Bedanya baru ketahuan beberapa waktu kemudian. 😁
Dan memang, mengaku tidak tahu di tempat kerja rasanya tidak sesederhana mengaku tidak tahu nama tanaman yang tumbuh di depan rumah.
Kita bekerja karena dianggap mempunyai kemampuan tertentu. Jadi ketika ditanya sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan lalu jawabannya, “Saya tidak tahu,” ada sedikit kekhawatiran: jangan-jangan saya memang seharusnya tahu.
Kadang saya memilih mencari orang lain dulu
Kalau ada sesuatu yang tidak saya ketahui, biasanya saya tidak langsung menuju atasan. Saya akan bertanya kepada rekan kerja terlebih dahulu.
Kalau jawabannya sudah saya temukan dan cukup meyakinkan, ya sudah. Saya gunakan.
Kalau ternyata jawabannya masih meragukan atau tidak memuaskan, barulah saya lanjut bertanya kepada atasan.
Buat saya, ini bukan berarti pertanyaan harus disembunyikan dari atasan. Saya hanya merasa tidak semua ketidaktahuan harus langsung dibawa ke sana.
Ada hal yang memang bisa selesai dengan bertanya kepada orang di sebelah kita.
Bayangkan kalau setiap tidak tahu sedikit langsung mencari atasan.
“Pak, ini bagaimana?”
Lima menit kemudian datang lagi.
“Pak, kalau yang ini?”
Belum sempat orangnya minum, kita sudah muncul lagi membawa episode berikutnya. 😭
Makanya saya lebih suka mencoba dulu. Kalau menemui beberapa kendala, saya kumpulkan pertanyaannya. Setelah itu baru bertanya.
Tentu cara seperti ini juga ada batasnya. Kalau ketidakjelasan itu menentukan apakah pekerjaan dari awal akan benar atau salah, menunggu terlalu lama juga tidak masuk akal.
Hemat dua menit bertanya tetapi kemudian salah mengerjakan sesuatu selama dua jam bukan penghematan yang terlalu membanggakan.
Tidak tahu dan tidak mau mencari tahu itu berbeda
Saya rasa bagian yang agak sulit adalah menentukan kapan “saya tidak tahu” masih merupakan jawaban yang wajar dan kapan sebenarnya kita memang perlu memperbaiki diri.
Karena saya juga tidak setuju kalau semua ketidaktahuan dianggap bagus hanya karena kita berani mengakuinya.
Kalau baru pertama kali menemui sesuatu, tentu wajar bertanya.
Kalau informasinya banyak sekali dalam satu waktu lalu ada bagian yang lupa, saya juga masih bisa memakluminya. Saya sendiri kadang kebebelan kalau menerima terlalu banyak informasi sekaligus.
Tapi kalau pertanyaan yang sama sudah ditanyakan berkali-kali, ceritanya mulai berbeda.
Saya pernah menghadapi rekan kerja yang menanyakan hal yang sama sampai sekitar lima kali.
Saya tetap mencoba memaklumi. Mungkin dia lupa. Mungkin informasi yang diterimanya terlalu banyak. Saya tahu rasanya karena saya pun bisa mengalami hal yang sama.
Dan mungkin ada sedikit rasa bangga juga karena saya bisa menjadi tempat yang cukup aman untuk ditanyai. 😁
Setidaknya sampai kesabaran habis.
Karena kalau pertanyaan yang sama terus kembali, masalahnya bukan lagi sekadar tidak tahu. Bisa jadi kita belum menyimpan informasinya, belum mencoba mengingat, atau memang terlalu mengandalkan orang lain untuk menjadi tempat penyimpanan informasi kita.
Di situlah menurut saya mengaku tidak tahu tidak bisa selalu dibela dengan alasan kejujuran.
Yang penting mungkin bukan seberapa sering kita tidak tahu
Saya sendiri tidak ingat pernah melakukan kesalahan besar gara-gara tidak bertanya lebih awal. Biasanya kalau saya salah, pekerjaannya memang tidak bisa diulang lagi. Saya tinggal menerima instruksi untuk langkah berikutnya.
Mungkin karena itu saya lebih melihat persoalan ini bukan dari apakah seseorang pernah salah atau tidak.
Yang lebih menarik justru apa yang dilakukan ketika sadar dirinya tidak tahu.
Ada orang yang bertanya, mendapat jawaban, lalu lain kali sudah bisa mengerjakannya sendiri.
Ada yang mencoba mencari jawabannya dahulu, kemudian bertanya ketika masih menemui jalan buntu.
Ada juga yang setiap bertemu masalah langsung menyerahkan ketidaktahuannya kepada orang lain.
Kalimatnya mungkin sama-sama, “Saya tidak tahu.” Tapi menurut saya nilainya berbeda.
Begitu juga dengan berpura-pura tahu. Kadang diam sebentar memang masuk akal karena kita sedang mencoba memahami masalahnya sendiri. Tetapi kalau sebenarnya instruksi dasarnya saja belum kita pahami, mengangguk hanya memindahkan rasa malu sepuluh detik menjadi masalah yang mungkin jauh lebih panjang.
Saya rasa saya pun masih akan tetap melakukan cara saya: coba dulu, tanya rekan kerja kalau diperlukan, kumpulkan pertanyaan kalau memang ada beberapa, lalu bawa ke atasan kalau jawabannya belum ditemukan.
Bukan berarti saya harus tahu semuanya.
Tapi saya juga tidak ingin terlalu nyaman menjadi orang yang selalu tidak tahu.
Mungkin yang menentukan profesional atau tidak bukan kalimat “saya tidak tahu” itu sendiri, melainkan apa yang saya lakukan setelah menyadari bahwa saya memang tidak tahu.
