Cashback Terasa Menghemat, tapi Buat Saya Keputusan Belinya Harus Datang Lebih Dulu

Daftar Isi

Saya agak aneh kalau urusan cashback.

Selama ini saya bahkan tidak ingat pernah membeli sesuatu lalu benar-benar merasa, “Wah, saya dapat cashback.”

Kalau ada tulisan cashback, kepala saya biasanya menerjemahkannya dengan cara yang lebih sederhana: oh, berarti ini seperti diskon.

Misalnya harga barang Rp500.000 lalu ada cashback Rp50.000. Saya tidak terlalu merasa mendapat uang Rp50.000. Saya lebih melihatnya sebagai barang yang akhirnya berharga sekitar Rp450.000.

Walaupun tentu saja praktiknya belum tentu sesederhana itu. Kadang cashback berupa saldo, koin, poin, atau reward yang penggunaannya punya syarat sendiri.

Justru yang seperti itu biasanya tidak terlalu menarik buat saya. Apalagi kalau setelah transaksi saya mendapat beberapa ribu rupiah dalam bentuk poin yang entah kapan dipakai.

Seringnya malah tidak saya gunakan sama sekali.

Kasihan juga poinnya. Sudah datang sebagai hadiah, akhirnya cuma tinggal di akun sampai saya lupa dia pernah ada.

Ilustrasi struk belanja dengan sejumlah uang keluar dan sebagian kecil kembali sebagai cashback.

Saya lebih tertarik pada harga akhirnya

Kalau saya punya beberapa pilihan pembayaran, e-wallet, atau promo, yang biasanya saya bandingkan adalah mana yang membuat biaya akhirnya paling kecil.

Jadi perhatian saya bukan terlalu banyak pada tulisan “cashback”, tetapi pada angka yang benar-benar saya keluarkan dan manfaat yang benar-benar bisa saya pakai.

Hal yang sama terjadi kalau membeli barang dalam jumlah lebih banyak.

Saya bisa saja membeli dua sekaligus, tetapi bukan karena mengejar cashback. Saya akan menghitung dulu.

Kalau beli satu harganya sekian, sementara beli dua membuat harga per barang lebih murah dan barangnya memang akan saya gunakan, saya bisa memilih beli dua.

Itu tetap membuat uang yang keluar hari itu lebih besar. Tetapi setidaknya saya tahu kenapa saya melakukannya.

Bagi saya ini berbeda dengan menambah barang hanya supaya sebuah promo terbuka.

Karena kalau tadinya cuma mau membeli satu barang lalu saya membeli tiga supaya mendapat hadiah Rp20.000, saya harus agak hati-hati menyebut diri sendiri sedang berhemat.

Bisa jadi saya memang mendapat Rp20.000.

Tapi dua barang tambahan itu juga tidak muncul dari udara.

Promo masih bisa memengaruhi kapan saya membeli

Bukan berarti saya kebal promo juga.

Kalau barangnya memang saya perlukan tetapi tidak mendesak, saya bisa menunggu momen tertentu.

Misalnya tanggal cantik seperti 8 Agustus, 9 September, atau promo saat hari raya besar.

Kalau saya sudah tahu suatu barang akan dibeli, rasanya tidak ada salahnya menunggu beberapa hari kalau memang ada kemungkinan mendapat harga lebih baik.

Di bagian ini saya justru merasa cashback atau diskon memang bisa berguna.

Urutannya kurang lebih begini:

Saya sudah ingin membeli barang tersebut.

Saya tidak sedang terburu-buru.

Lalu saya mencari waktu atau cara pembayaran yang membuat totalnya lebih murah.

Buat saya, itu terasa masuk akal.

Yang mulai berubah adalah kalau urutannya dibalik.

Bukan lagi, “Saya membutuhkan barang ini. Ada promo tidak?”

Tetapi, “Ada cashback. Saya beli apa ya?”

Kalimat kedua itu kelihatannya mirip. Sama-sama ada transaksi dan cashback.

Tetapi alasan uang keluar sudah berbeda.

Cashback memang bernilai, tetapi belum tentu sama dengan uang tunai

Saya juga mulai merasa istilah cashback kadang membuat semuanya terdengar lebih sederhana daripada kenyataannya.

Kalau uang Rp50.000 benar-benar kembali ke rekening dan bebas digunakan, saya gampang memahami nilainya.

Tetapi kalau bentuknya 5.000 koin, 12.000 poin, voucher yang harus dipakai sebelum tanggal tertentu, atau saldo yang hanya bisa dipakai untuk transaksi berikutnya, saya tidak otomatis menganggap semuanya sama dengan uang tunai.

Bukan berarti reward seperti itu tidak bernilai.

Bisa saja sangat berguna bagi orang yang memang sering menggunakan layanan tersebut.

Tapi kalau saya sendiri tidak pernah memakai poinnya, nilainya bagi saya ya jauh lebih kecil daripada angka yang ditampilkan.

Ini mungkin sebabnya saya lebih suka melihat cashback sebagai pengurang harga daripada sebagai “uang yang saya dapat”.

Sebab kalimat “dapat cashback Rp50.000” terdengar menyenangkan sekali.

Sementara kalimat “keluar Rp500.000, lalu sebagian mungkin kembali dalam bentuk tertentu” rasanya lebih tidak meriah.

Padahal keduanya sedang membicarakan transaksi yang sama.

Yang saya periksa sebenarnya bukan cashback-nya

Kalau suatu barang memang saya butuhkan seharga Rp500.000, lalu ternyata ada cashback Rp50.000 yang benar-benar bisa saya manfaatkan, tentu saya pilih yang ada cashback-nya.

Saya juga tidak melihat alasan untuk menolak keuntungan hanya supaya terlihat kebal terhadap promo.

Tapi kalau tulisan cashback Rp50.000 itu dihapus dan saya tetap bersedia membayar Rp500.000 untuk barang yang sama, saya merasa keputusan belinya memang sudah ada lebih dulu.

Cashback hanya memperbaiki transaksi yang memang akan terjadi.

Buat saya, justru itu pembeda yang paling berguna.

Saya tidak terlalu perlu bertanya, “Apakah cashback bikin boros?” karena jawabannya pasti tergantung orang dan transaksinya.

Saya lebih tertarik bertanya:

Kalau cashback-nya tidak ada, apakah saya tetap membeli barang ini?

Kalau jawabannya iya, cashback bisa benar-benar terasa sebagai keuntungan tambahan.

Kalau jawabannya tidak, mungkin yang sedang saya beli bukan cuma barang.

Saya juga sedang membeli alasan untuk merasa bahwa transaksi itu sayang kalau dilewatkan.

Jadi sekarang saya lebih suka membalik urutannya.

Saya memang mau mengeluarkan uang untuk barang ini.

Kalau setelah itu ternyata ada cashback, ya bagus.

Hadiah boleh datang belakangan. Keputusan belinya jangan sampai ikut datang karena melihat hadiahnya.