Kenapa Saya Rela Belanja Lebih Banyak demi Gratis Ongkir?
Saya pernah mau membeli pupuk untuk tanaman. Barangnya sudah ada di keranjang, tinggal bayar.
Lalu muncul syarat yang sangat akrab di dunia belanja online: tambah belanja sedikit lagi untuk mendapatkan gratis ongkir.
Apalagi kalau sedang tanggal cantik. Promo datang bergerombol. Ada potongan harga, voucher, gratis ongkir, dan berbagai angka yang membuat keranjang belanja mendadak terasa seperti sedang ikut lomba.
Saya akhirnya menambah pupuk lagi supaya jumlah belanja mencapai minimum gratis ongkir.
Yang menarik, sebelum menambah saya sempat menghitung. Kalau saya membeli pupuk sesuai rencana lalu membayar ongkir, total uang yang keluar ternyata kurang lebih sama dengan kalau saya menambah pupuk sampai memenuhi syarat gratis ongkir.
Jadi saya berpikir, kalau uang yang keluar hampir sama, ya lebih baik saya mendapatkan pupuk tambahan daripada uangnya habis untuk biaya kirim.
Pupuknya pasti akan saya gunakan juga.
Dalam kasus seperti ini, saya tidak merasa sedang diperdaya oleh tulisan “gratis ongkir”. Saya malah merasa hitungannya masuk akal.
Tapi rupanya tidak semua isi keranjang saya sesopan pupuk.
Gratis ongkir membuat saya melihat ongkir sebagai uang yang harus diselamatkan
Begitu melihat ongkir Rp10.000 atau Rp15.000, kadang ada dorongan kecil untuk menghilangkannya.
Bukan karena jumlah itu selalu besar. Tapi rasanya agak menyebalkan melihat ada biaya yang sebenarnya bisa dibuat menjadi nol.
Kalau marketplace mengatakan, “Kurang Rp20.000 lagi untuk gratis ongkir,” perhatian saya bisa berubah.
Awalnya saya datang karena membutuhkan satu barang.
Sekarang misi saya bertambah: bagaimana caranya angka ongkir itu menjadi Rp0.
Di sinilah saya beberapa kali bolak-balik melihat keranjang. Saya mencari barang tambahan, lalu bertanya lagi kepada diri sendiri apakah barang itu memang diperlukan.
Sebab hitungannya bisa mulai lucu.
Kalau saya harus menambah barang Rp30.000 supaya ongkir Rp10.000 hilang, secara teknis memang ongkirnya berhasil saya kalahkan.
Tapi uang saya juga berkurang Rp20.000 lebih banyak.
Menang melawan ongkir, kalah sama kalkulator.
Masalahnya, tulisan gratis memang enak dilihat. Rp0 terasa seperti sebuah kemenangan. Padahal yang lebih penting sebenarnya bukan berapa ongkirnya setelah promo, melainkan berapa total uang yang keluar dari saya.
Barang tambahan bisa membuat keputusan itu masuk akal
Saya juga tidak mau mengatakan mengejar gratis ongkir selalu membuat orang boros.
Pengalaman membeli pupuk tadi justru membuat saya berpikir sebaliknya.
Kalau total pembayaran hampir sama, sementara barang tambahan memang akan digunakan, menambah belanja bisa saja masuk akal.
Misalnya saya bayar Rp100.000 untuk barang dan ongkir.
Pilihan lainnya mungkin Rp100.000 juga, tetapi sebagian uang yang tadinya menjadi ongkir berubah menjadi pupuk tambahan yang nanti tetap saya pakai.
Saya lebih memilih pilihan kedua.
Bukan karena saya berhasil melakukan jurus keuangan tingkat tinggi. Saya cuma mendapatkan barang yang memang dibutuhkan dengan jumlah uang yang kurang lebih sama.
Yang mulai bermasalah adalah ketika saya mencari barang tambahan hanya karena keranjang belum mencapai syarat.
Barangnya tidak ada dalam rencana. Tidak yakin akan dipakai. Tapi harganya pas untuk menutup kekurangan minimum belanja.
Tiba-tiba fungsi barang itu bukan lagi karena saya membutuhkannya.
Fungsinya menjadi seperti ganjalan pintu supaya gerbang gratis ongkir mau terbuka.
Kalau barang tersebut akhirnya tidak terpakai, saya tidak benar-benar menghemat ongkir. Saya hanya memindahkan uang ongkir menjadi barang yang tidak saya perlukan.
Sekarang saya lebih sering melihat totalnya, bukan tulisan gratisnya
Karena cukup sering belanja online, saya sudah beberapa kali bolak-balik menghadapi situasi seperti ini.
Sekarang saya biasanya melihat lagi: barang tambahan ini memang akan saya gunakan atau saya cuma ingin mencapai angka tertentu?
Kalau memang diperlukan dan kemungkinan besar akan saya beli dalam waktu dekat, saya tidak terlalu keberatan menambahnya sekarang.
Mungkin pengeluaran hari itu menjadi sedikit lebih besar, tetapi setidaknya barangnya memang mempunyai fungsi.
Kalau saya cuma menambahkan sesuatu yang kemungkinan besar akan menganggur, saya lebih memilih membayar ongkir.
Memang tidak menyenangkan melihat Rp12.000 berubah menjadi biaya kirim.
Tapi lebih tidak menyenangkan lagi mengeluarkan Rp35.000 untuk barang yang tidak dibutuhkan hanya supaya Rp12.000 tadi berubah menjadi Rp0.
Saya rasa di situlah gratis ongkir menjadi menarik.
Promonya sendiri tidak harus salah. Minimum pembeliannya juga tidak otomatis buruk. Saya yang tetap harus melihat apa yang terjadi pada keputusan saya setelah melihat syarat tersebut.
Sebab saya bisa datang ke marketplace untuk membeli satu barang, lalu beberapa menit kemudian sibuk mencari barang lain yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan.
Hanya karena ada sebuah angka yang belum tercapai.
Saya masih suka gratis ongkir. Kalau memang bisa dapat, ya tentu saya ambil. Saya juga belum sampai pada tahap melihat tulisan “gratis ongkir” lalu berkata, “Tidak, terima kasih. Saya ingin membayar ongkir penuh demi prinsip.” Itu juga aneh.
Saya cuma sekarang sedikit lebih curiga pada perasaan menang ketika mendapatkannya.
Kalau saya menambah barang Rp30.000 untuk menghilangkan ongkir Rp10.000, saya perlu melihat lagi barang Rp30.000 itu.
Kalau memang akan dipakai, mungkin saya benar-benar sedang menghemat.
Kalau tidak, yang gratis cuma ongkirnya.
Belanjanya tetap saya yang bayar.
