Kenapa Cicilan Membuat Barang Mahal Terasa Lebih Murah?
Kalau saya melihat motor seharga Rp25 juta, angka itu terasa jelas: mahal.
Dua puluh lima juta keluar sekaligus bukan angka yang bisa saya lihat lalu bilang, “Ya sudah, bungkus dua.”
Tapi begitu harga yang sama berubah menjadi cicilan bulanan, rasanya memang bisa berbeda. Angka puluhan juta tadi tidak lagi berdiri di depan saya. Yang terlihat justru berapa yang harus dibayar setiap bulan.
Masalahnya, untuk motor misalnya, saya juga tahu cicilan bisa membuat total uang yang keluar jauh lebih besar. Motor yang harga tunainya sekitar Rp25 juta, setelah dihitung seluruh cicilannya bisa menjadi Rp40 jutaan.
Jadi sebenarnya saya tidak sedang mendapatkan motor yang lebih murah.
Saya malah bisa membayar lebih mahal.
Aneh juga. Harga totalnya naik, tetapi jalan menuju barangnya justru terasa lebih mungkin dilewati.
Angka bulanannya memang lebih mudah saya masukkan ke kehidupan
Saya bisa mengerti kenapa cicilan terasa lebih ringan daripada membayar tunai.
Kalau harus mengeluarkan Rp25 juta sekarang, saya tidak cuma memikirkan motornya. Saya juga melihat uang yang langsung berkurang banyak. Uang sebanyak itu mungkin masih saya perlukan untuk kebutuhan lain, dana cadangan, atau sekadar membuat kondisi keuangan bulan berikutnya tidak terlalu mepet.
Sementara kalau dicicil, pertanyaan saya berubah.
Bukan lagi, “Saya punya Rp25 juta atau tidak?”
Tapi, “Setelah semua kebutuhan inti dibayar, saya masih sanggup membayar cicilan ini setiap bulan atau tidak?”
Kalau jawabannya iya dan setelah membayar cicilan masih ada sisa uang yang menurut saya cukup aman, saya bisa mengambil cicilan.
Di sini saya rasa cicilan memang punya fungsi yang masuk akal.
Saya tidak perlu menghabiskan uang tunai dalam jumlah besar sekaligus. Arus uang bulanan masih bisa dijaga. Apalagi kalau barangnya memang perlu, bukan barang yang baru saya kenal tiga menit lalu lalu tiba-tiba terasa seperti anggota keluarga yang harus segera dibawa pulang.
Jadi saya tidak melihat cicilan sebagai sesuatu yang otomatis buruk.
Yang menarik justru cara angka bulanannya bisa mengubah rasa terhadap harga.
Rp500 ribu terasa kecil sampai saya ingat ada kata “setiap bulan”
Misalnya sebuah barang harganya Rp6 juta.
Melihat Rp6 juta sekaligus, saya kemungkinan akan berpikir cukup lama. Tetapi kalau yang ditampilkan Rp500 ribu per bulan, angka itu lebih gampang dibandingkan dengan kondisi keuangan bulanan.
“Rp500 ribu masih masuk.”
Kalimat itu sebenarnya belum salah.
Yang berbahaya kalau kalimatnya berhenti di sana.
Karena Rp500 ribu bukan harga barangnya. Itu hanya potongan kewajiban yang kebetulan datang satu per satu.
Saya sendiri kalau terpaksa mencicil akan melihat sisa uang setelah kebutuhan inti setiap bulan. Kalau cicilannya membuat sisa uang saya terlalu kecil, biasanya saya memilih menunda.
Bahkan kalau secara teknis saya masih bisa membayar.
Sebab “masih bisa bayar” dengan “saya merasa aman setelah membayar” bagi saya adalah dua keadaan yang berbeda.
Saya pernah memilih lebih baik menabung dulu daripada menambah cicilan ketika membayangkan sisa uang bulanan saya akan terlalu tipis.
Ini yang kadang hilang ketika perhatian terlalu lama menempel pada nominal cicilan.
Angkanya memang kecil. Tetapi dia kecil berkali-kali.
Mirip beli air galon. Satu kali angkat masih santai. Kalau penjualnya bilang harus angkat satu setiap hari selama tiga tahun, saya mungkin mulai bertanya kenapa saya ikut kompetisi ini.
Cicilan bagi saya bukan soal murah atau mahal saja
Kalau barang memang saya perlukan, cicilannya masih masuk dalam kemampuan saya, dan setelah semua kebutuhan serta cicilan dibayar saya masih mempunyai sisa uang yang terasa aman, saya tetap bisa memilih mencicil.
Meskipun saya tahu harga totalnya bisa lebih mahal daripada membeli tunai.
Sebab membeli tunai juga mempunyai konsekuensi.
Kalau pembayaran tunai menghabiskan terlalu banyak uang yang sedang saya pegang, bisa saja justru membuat keuangan saya tidak nyaman. Saya punya barangnya, tetapi uang tunai yang tersisa menjadi terlalu sedikit.
Jadi bagi saya, membandingkan tunai dan cicilan tidak cukup hanya dengan berkata bahwa tunai lebih murah.
Saya juga perlu melihat kondisi saya setelah transaksi itu terjadi.
Tetapi hal yang sama berlaku sebaliknya. Cicilan yang kelihatannya masuk ke pengeluaran bulanan belum tentu berarti barang tersebut benar-benar terjangkau bagi saya.
Saya masih harus melihat berapa lama saya membayarnya.
Berapa total uang yang akhirnya keluar.
Dan yang lebih penting bagi saya: setelah kewajiban itu masuk, apakah masih ada ruang yang membuat saya merasa aman setiap bulan?
Kalau tidak, saya lebih suka menunggu dan menabung.
Barangnya mungkin belum bisa saya miliki sekarang. Ya sudah. Dia juga tidak akan tersinggung. Motor di dealer sepertinya belum sampai tahap memblokir nomor WhatsApp calon pembeli.
Mungkin itu juga yang membuat cicilan terasa menarik sekaligus perlu dihitung dengan kepala yang agak dingin.
Cicilan memang bisa membuat sebuah barang lebih mungkin dibeli tanpa mengeluarkan uang besar sekaligus. Dalam kondisi tertentu, justru itu alasan yang masuk akal untuk menggunakannya.
Tetapi saya tidak ingin angka bulanannya membuat harga keseluruhannya menghilang dari pandangan.
Karena ketika saya melihat tulisan “cuma sekian per bulan”, saya masih perlu menambahkan satu pertanyaan kecil:
Berapa bulan, dan akhirnya saya membayar berapa?
Barang mahal kadang memang tidak menjadi lebih murah ketika dicicil. Angka besarnya saja yang datang menemui saya sedikit demi sedikit.
