Kenapa Langganan Bulanan Terasa Kecil, tapi Sulit Dihentikan?

Daftar Isi

Dulu saya pernah berlangganan CapCut ketika sedang ada harga promo.

Saya sudah lupa berapa harganya karena kejadiannya sekitar dua tahun lalu. Yang saya ingat justru pikiran saya waktu itu: murah.

Untuk pemakaian sebulan, nominalnya terasa kecil. Jadi saya ambil.

Masalahnya baru terasa ketika beberapa waktu kemudian saya sudah tidak terlalu sering menggunakannya. Mungkin dalam sebulan hanya dua kali.

Sebenarnya saya sudah bisa berhenti.

Tapi kemudian muncul pikiran lain: sayang sekali kalau dibatalkan sekarang. Saya mendapatkan harga murah dari promo tersebut. Siapa tahu nanti saya membutuhkan fitur-fiturnya lagi.

Nah, kalimat “siapa tahu nanti dipakai” ini ternyata cukup kuat untuk membuat sebuah langganan tetap hidup.

Padahal yang hidup belum tentu pemakaiannya. Tagihannya saja yang rajin.

Ilustrasi deretan pembayaran kecil yang terus bergerak otomatis sementara jalur keluar membutuhkan tindakan untuk menghentikannya.

Harga murah membuat saya merasa rugi kalau berhenti

Yang menarik dari pengalaman CapCut itu bukan karena saya sama sekali tidak menggunakan aplikasinya.

Saya masih menggunakannya. Hanya jauh lebih jarang.

Jadi keputusan membatalkannya tidak terasa jelas seperti membuang barang rusak. Masih ada kemungkinan saya memakai fitur tertentu bulan depan. Atau bulan depannya lagi.

Apalagi saya mendapat harga promo.

Kalau saya berhenti sekarang lalu suatu hari ingin berlangganan lagi dengan harga normal, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sebenarnya sudah saya pegang.

Lucunya, saya mempertahankan harga murah untuk sesuatu yang pemakaiannya sendiri sudah berkurang.

Saya tidak sedang mengatakan keputusan itu pasti salah. Bisa saja memang masih sepadan.

Tapi saya mulai melihat bahwa pertanyaan yang saya pakai waktu itu bukan lagi, “Apakah bulan ini saya cukup membutuhkan CapCut untuk membayarnya?”

Pertanyaannya berubah menjadi, “Sayang nggak kalau harga murah ini saya lepaskan?”

Dua pertanyaan itu kelihatannya dekat. Padahal bisa menghasilkan keputusan yang berbeda.

Langganan punya cara yang agak aneh dalam membuat keputusan

Kalau saya membeli makanan, saya harus memutuskan lagi besok apakah mau membeli makanan yang sama.

Kalau saya membeli sebuah aplikasi dengan langganan otomatis, keputusan pertama bisa mempunyai umur yang jauh lebih panjang.

Saya mendaftar sekali.

Setelah itu, kalau ingin terus berlangganan, saya bisa tidak melakukan apa-apa.

Justru kalau ingin berhenti, saya yang harus bertindak.

Ini bagian yang menurut saya menarik.

Melanjutkan tidak membutuhkan keputusan baru. Membatalkan membutuhkan keputusan.

Dan kalau nominalnya tidak terlalu besar, keputusan membatalkan itu gampang ditaruh di belakang kepala.

Nanti saja.

Bulan depan dilihat lagi.

Siapa tahu minggu depan perlu.

Akhirnya subscription bukan terasa seperti membeli sesuatu setiap bulan. Rasanya lebih seperti sesuatu yang memang sudah ada.

Padahal uang tetap keluar.

Bukan berarti sistem seperti ini buruk. Untuk layanan yang memang dipakai terus, justru enak. Saya tidak perlu mengingat pembayaran setiap bulan dan layanan tidak tiba-tiba berhenti ketika sedang dibutuhkan.

Masalahnya hanya ketika kebutuhan saya berubah, sementara sistem pembayaran tidak ikut berubah sampai saya sendiri yang menghentikannya.

Pengalaman saya dengan ChatGPT malah sedikit berbeda

Sekarang saya berlangganan ChatGPT dan sudah menggunakannya berbulan-bulan.

Tapi langganan saya tidak berjalan otomatis begitu saja. Saya harus top up melalui Shopee untuk melakukan renewal.

Artinya ada satu momen ketika saya memang harus memutuskan lagi: lanjut atau tidak.

Dan sejauh ini saya tetap lanjut.

Kalau setiap bulan saya harus membeli sebuah subscription secara manual, bagi saya sebenarnya tidak masalah selama saya memang berpikir bulan tersebut akan produktif dan layanan itu akan saya gunakan.

Justru pengalaman ini membuat saya agak ragu kalau semua masalah subscription harus disalahkan pada auto-renewal.

Kalau barangnya berguna, saya toh tetap mau membayar meskipun harus melakukan pembayaran lagi secara manual.

Berarti masalahnya bukan sekadar, “Langganan otomatis bikin boros.”

Itu terlalu gampang.

Yang lebih menarik justru ketika saya sudah tidak terlalu membutuhkan sebuah layanan, tetapi tidak adanya keputusan baru membuat saya terus membayarnya.

Mungkin pertanyaannya bukan apakah Rp49.000 itu kecil

Biaya langganan memang sering terlihat kecil kalau dilihat satu bulan.

Rp49.000. Rp79.000. Rp99.000.

Angka seperti itu mudah dibandingkan dengan satu kali makan, ongkir beberapa kali, atau pengeluaran kecil lainnya.

Tapi saya rasa masalah subscription tidak selalu ada pada besar-kecil nominal tersebut.

Pengeluaran kecil yang memang saya ketahui, saya hitung, dan saya anggap sepadan sebenarnya tidak terlalu mengganggu saya.

Yang berbeda adalah ketika saya berhenti mengevaluasinya.

Saya pernah memutuskan bahwa sebuah layanan layak dibeli. Lalu keputusan lama itu terus berjalan meskipun cara saya menggunakan layanannya sudah berubah.

Mungkin cara sederhana untuk melihatnya bukan dengan bertanya, “Ah, segini sebulan kecil kan?”

Tapi dengan membayangkan saya belum berlangganan hari ini.

Kalau sekarang muncul tombol yang berbunyi, “Beli lagi bulan ini,” apakah saya masih mau menekannya?

Kalau jawabannya iya, ya sudah. Berarti langganan itu memang masih mempunyai nilai buat saya.

Tapi kalau jawabannya tidak, mungkin saya sebenarnya sudah ingin berhenti sejak beberapa bulan lalu.

Saya cuma belum melakukan apa-apa.

Dan rupanya, dalam langganan otomatis, tidak melakukan apa-apa pun bisa membuat saya tetap membeli.